Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Menghafal


__ADS_3

Didampingi dua pria tampan membuat Aianya malu. Ia merasa tak pantas mendapatkan perhatian secara langsung dari sang bos. Seharusnya Wisnu menyuruh Sella saja. Tapi entah kenapa, penolakannya seakan tak ada gunanya, pria itu bersikeras ingin mengantarkannya sendiri ke tempat tujuan. Bukankah itu hal yang aneh?


''Kenapa kamu memilih di gudang?'' tanya Wisnu saat mereka tiba di depan pintu lift.


''Gak papa, Pak. Pingin saja,'' jawab Ainaya simple yang membuat Wisnu terkekeh. 


Entah sudah punya istri atau belum, pria tampan itu terlihat ramah dan sopan, bahkan sangat perhatian pada Ainaya yang notabene nya adalah pegawai baru. 


''Kalau kamu butuh apa-apa bisa langsung menghubungiku.''


''Baik, Pak.'' 


Wisnu keluar dari lift lebih dulu diikuti Ainaya dan Adam dari belakang. Mereka langsung berjalan ke arah gudang yang ada di lantai dasar. Tempat itu cukup besar. Banyak karyawan yang berlalu lalang menjalankan aktivitasnya masing-masing.


''Selamat pagi, Pak.'' Para karyawan menyambut kedatangan sang bos dengan sopan.  


Wisnu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. 


''Ini tempat kerja kamu.'' Menunjukkan ruangan luas yang dipenuhi dengan barang-barang. 


Ainaya mendekati Adam.


''Mas, bukannya ini kantor. Kenapa banyak barang seperti pabrik?'' bisik Ainaya di telinga Adam. 


Adam tersenyum kecil. 


''Di belakang kantor ini pabrik kertas. Jadi tepatnya kamu bekerja di pabrik, maaf aku belum cerita ya?''


Aianya menggeleng, tapi tak apalah yang penting ia mendapatkan pekerjaan demi bisa melupakan Haris.


Mendapatkan rekomendasi khusus bukan berarti diistimewakan. Ainaya tetap mengikuti prosedur yang berlaku. Sebagai karyawan baru ia patuh dengan penjelasan dan perintah dari senior. 


''Hari ini kamu cukup mengetahui beberapa peraturan di sini, besok baru bisa mulai bekerja,'' ujar Wisnu sambil melihat jam mewah yang melingkar di tangannya. 


''Baik, Pak.'' Ainaya membungkuk ramah. 


Sebelumnya ia pun hanya bekerja menjadi staf biasa, dan kali ini pun tak buruk. Kinerjanya yang terkenal gigih sering mendapat sanjungan dan bonus, berharap di tempat baru ini ia tetap menjadi pegawai yang mengutamakan pekerjaan seperti harapan Wisnu. 


''Aku pergi dulu, kamu sama Shella.'' Wisnu menunjuk wanita cantik yang tadi datang ke ruangan. 


Sella menunjukkan cara kerja di tempat itu. Jam berapa Ainaya harus berangkat dan pulang, juga cara-cara mencatat barang yang keluar masuk, serta menghitung kerusakan. Semua harus teliti dan sedikitpun gak boleh salah. 

__ADS_1


Sedangkan Adam, ia kembali ke ruangan Wisnu, mereka ngobrol tentang beberapa bisnis dan juga masalah pribadi. 


''Sekarang katakan padaku, apa sebenarnya tujuanmu ke sini? Bukan karena Ainaya, kan?'' tanya Wisnu memastikan. Sebab, ia belum tahu bahwa Adam sebenarnya ada proyek besar. 


Adam tertawa lepas. ''Apakah tampangku ini seperti laki-laki pengejar cinta?'' Mengangkat dagu nya. Memamerkan ketampanan wajahnya yang cukup lumayan diatas rata-rata. 


''Mungkin, bukankah kamu memang banyak mantan?'' canda Wisnu menimpali lalu bergelak tawa.


Mereka kembali membahas masa-masa kuliah, di mana kala itu sering gonta ganti cewek hanya ingin terlihat keren. Tapi sekarang, sepertinya mereka berdua terkena kutukan wanita yang disakiti nya, hingga Wisnu pun belum menikah.


''Sekarang ceritakan perjalanan mu dan Ainaya!''


Wajah Adam mendadak berubah mellow mengingat pertemuannya dengan Ainaya pertama kali.


''Sebenarnya Aianya itu masih punya suami.''


''What?'' Wisnu terbelalak, betapa terkejutnya ia mendengar itu, bahkan tadi belum sempat membaca identitas wanita itu sepenuhnya. 


''Iya, awalnya aku bertemu dengan dia saat hamil besar. Katanya suaminya kecelakaan. Tapi dia tidak tahu alamat rumah sakit yang akan dituju, jadi aku bantu. Disaat itu dia bercerita bahwa dia hanya istri kedua.''


Rasa iba kembali muncul mengingat nasib malang yang menimpa Ainaya, namun ia bisa apa selain menunggu waktu yang tepat untuk membuat wanita itu bahagia, rencananya. Tergantung Allah sang pemilik alam semesta.


''Waktu di rumah sakit dia memintaku untuk memastikan keadaan suaminya. Setelah tahu dia langsung pulang. Aku mengantarkannya ke bandara juga. Sepertinya hubungan mereka tidak baik-baik saja.''


Wisnu geleng-geleng kepala. Sesama pria ikut geram dan malu dengan sikap suami Aianya yang tak bertanggung jawab itu.  


''Dan ternyata suaminya itu adalah Haris yang sekarang bekerja sama dengan om Gunawan.''


Wisnu manggut-manggut mengerti. 


''Berarti dia sudah melahirkan dong, lalu di mana anaknya?'' tanya Wisnu memastikan. 


Adam mengangguk. Ia tidak menceritakan yang selanjutnya, takut Ainaya marah karena masalah pribadinya di umbar terlalu dalam.  


''Lalu apa rencana kamu sekarang? Sepertinya kamu menyukai dia?'' tanya Wisnu menyelidik. 


Lagi-lagi Adam tertawa. Menyandarkan punggungnya di sofa laku menarik napas dalam-dalam.


''Jangan tanya itu, aku hanya ingin ada disaat dia butuh, itu saja,'' ucap Adam dari hati.


Tidak mungkin ia mengatakan sudah ditolak. Pasti malu setengah mati dan menurunkan image nya sebagai seorang bos.

__ADS_1


Hampir seharian Ainaya menghafal semua pekerjaan yang akan di gelutinya, kini sudah waktunya pulang.


''Makasih ya, Mbak Sella,'' ucap Ainaya mengatupkan kedua tangannya di dada.


Sella tersenyum ramah lalu pergi karena masih ada pekerjaan lain. Sementara Ainaya berjalan menuju depan. Mungkin dia akan pulang dengan naik ojek online.


Namun, langkahnya berhenti saat suara berat memanggilnya dari arah lobi.


''Mas Adam, kamu masih di sini?'' tanya Ainaya heran.


Adam hanya tersenyum simpul. Hari ini ia memang sengaja tetap berada di kantor Wisnu dan menyerahkan seluruh pekerjaannya pada om Gunawan.


''Bagaimana, apa kamu sudah cukup nyaman?''


Mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil.


Ainaya mengangguk dan tersenyum mengingat kebaikan semua orang. Mereka menengadahkan tangan menerima kehadirannya dengan baik dan ramah.


''Semoga kamu betah ya,'' ucap Adam membuka pintu mobil.


''Mas, anterin aku ke rumah mas Haris, aku kangen sama Bilal,'' pinta Ainaya penuh harap.


Adam langsung mengagguk setuju. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil bercakap mencairkan suasana untuk mewarnai perjalanan kali ini.


''Sepertinya pak Wisnu sangat menjaga akhlak semua karyawannya ya, Mas?''


Ainaya mulai membahas orang-orang di kantor yang sangat ramah.


''Benar sekali, dia itu sangat baik dan bijaksana, sayangnya gak laku.'' Adam terkekeh setiap kali mengingat Wisnu yang tak kunjung menikah seperti dirinya.


Ainaya hanya menahan tawa tak percaya. Mana mungkin orang se tampan itu tak laku, sungguh tak masuk akal.


Mobil berhenti di depan rumah Haris. Ainaya bergegas turun. Bertepatan dengan itu mobil Haris masuk dari arah gerbang.


''Kenapa harus bertemu mas Haris sih,'' gerutu Ainaya membuang pandangannya ke arah lain.


Ada senyum terukir di sudut bibir Haris saat melihat Ainaya. Entah itu karena apa membuat Ainaya tak mengerti.


''Silahkan masuk, Nay. Biasanya jam segini Bilal baru bangun.''


Sok akrab. Padahal, Ainaya sudah mulai membuang rasa yang sempat tumbuh dan bersemayam di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2