
Haris cukup tenang di ruang tamu. Matanya menyusuri foto yang dipajang di dinding. Ada banyak gambar di sana, di antaranya wanita dan lelaki yang menyambutnya tadi, bu De dan Didin. Namun, rumah itu sangat sepi seperti tanpa penghuni. Lalu, beralih menatap beberapa pintu kamar yang nampak sambil menunggu bu De yang dari tadi ke belakang. Sedangkan, Didin pergi membawa motor, entah ke mana.
''Maaf, rumahnya sederhana,'' ucap bu De kembali dengan secangkir kopi dan beberapa potong kue.
''Gak papa, Bu De. Rumah ini sudah sangat bagus kalau di sini.'' Suara Haris terdengar ramah dan sopan, tak seperti saat marah-marah di kantor.
Menyeruput kopi untuk meredakan kantuk karena hampir seharian mengendara tanpa jeda. Bahkan, sekalipun tak istirahat demi segera bertemu sang istri.
Sebenarnya Haris merencanakan datang minggu depan, namun karena melihat foto semalam yang dicuri Andik dari ponsel Ajeng, ia merasa cemburu dan ingin segera menjemput sang istri.
Bu De duduk di depan Haris terhalang meja. Ia tahu apa tujuan pria itu datang, pasti akan menjemput Ainaya.
''Apa saya panggilkan Ainaya sekarang?'' tanya bu De serius.
Haris menggeleng. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Ainaya jika melihatnya, hanya saja ia menunggu momen yang pas.
Terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Ternyata Didin datang bersama dengan seorang wanita yang memakai baju kebaya.
''Bu De, ini tukang urutnya. Aku ke kamar dulu. Ada laporan yang belum aku urus,'' pamit Didin menatap Haris dengan tatapan malas.
''Jangan gitu, temani pak Haris dulu, kerjanya kan bisa nanti.'' Bu De menarik tangan Didin hingga lelaki itu ambruk di sofa.
''Tamu itu adalah raja, hormati dia,'' imbuhnya lagi.
''Siapa yang mau di urut, Bu De?'' tanya Haris antusias. Bu De menoleh menatap Haris sambil tersenyum.
''Tadi Ainaya habis dari sawah, katanya kakinya nyeri, jadi bu De suruh Didin panggil tukang urut, siapa tahu nanti bisa sembuh.''
Haris mengangguk mengerti. Menatap punggung bu De yang mulai menjauh. Mereka berhenti di depan sebuah ruangan yang ada di bagian pinggir.
Artinya itu kamar Ainaya.
Menggeser duduknya agak ke samping terhalang tubuh kekar Didin.
__ADS_1
''Bukannya Bapak ke sini mau bertemu Ainaya? Kenapa harus sembunyi segala,'' cetus Didin ketus.
''Belum saatnya,'' jawab Haris singkat.
Sayup-sayup terdengar suara yang familiar di telinga membuat senyum Haris semakin lebar. Meski ia belum bisa berbicara, setidaknya sudah menemukan sang pujaan hati. Berharap ada momen yang tepat supaya pertemuan itu menjadi surprize.
Ainaya yang berdiri di ambang pintu mengendus-enduskan hidungnya saat mencium aroma parfum yang juga tak asing, sedangkan bu De hanya membisu karena sudah mengatur rencana untuk tidak mengatakan tentang kedatangan Haris ke rumahnya.
Seperti parfum mas Haris. Ah, apa aku ini sudah gila memikirkan dia.
''Silakan masuk, Bu!'' Ainaya masuk dan menutup pintu, sementara Bu De langsung kembali menghampiri Haris.
''Nama ibu siapa?'' tanya Ainaya sembari naik ke atas ranjang.
''Panggil saja bu Murni, Nduk. Sekarang kamu buka baju lalu tutup dengan selimut dan posisi telungkup saja, nanti saya akan pijitin keseluruhan, supaya badan kamu lebih nyaman.'' Bu Murni mengeluarkan minyak dan mulai menggosok di telapak tangannya.
Awalnya Ainaya merasa malu harus mengekspos beberapa bagian tubuhnya. Akan tetapi, karena bu Murni sedikit memaksa, terpaksa ia lakukan, toh mereka sama-sama wanita. Dan tidak mungkin pula Didin masuk tanpa mengetuk pintu.
Seperti pada pasien lain, Bu Murni selalu bercanda mencairkan suasana dan sesekali menanyakan bagian yang sakit. Mengatur pijatannya supaya Ainaya tak merasakan sakit yang berlebihan.
''Di ujung Kulon, kapan-kapan mampir lah, tapi rumah ibu jelek.''
Ainaya hanya tersenyum kecil. Otaknya sudah mulai tenggelam ke alam mimpi hingga membuat bibirnya terasa berat untuk mengucap.
''Tidur, Nduk?'' tanya Bu Murni memastikan.
Tidak ada jawaban. Namun, suara nafas yang teratur menandakan jika Ainaya sudah terlelap.
Ternyata dia capek sekali.
Melanjutkan pijatannya dengan pelan, takut mengusik Ainaya yang nampak menikmati mimpinya.
Pintu terbuka. Bu Murni menutup keseluruhan tubuh Ainaya dengan selimut lalu menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
Ternyata bu De yang datang menghampiri Mbak Murni. ''Ainaya sudah tidur?'' tanya Bu De tanpa mengeluarkan suara.
Bu Murni hanya mengangguk cepat.
Kesempatan yang bagus.
Bu De berjalan menuju pintu lalu melambaikan tangannya ke arah Haris. Meski ia pernah mendengar cerita dari Ainaya tentang perpisahan yang sudah direncanakan, namun ia juga kasihan dengan Haris yang nampak sungguh-sungguh ingin kembali bersatu.
''Ainaya tidur, kamu bisa masuk,'' ucap bu De berbisik.
Haris menatap ke arah dimana sang istri masih tidur telungkup. Kakinya mengayun menghampiri bu De dan bu Murni.
''Sekarang kamu ikut istirahat saja di sampingnya, biar pas bangun nanti dia kaget,'' saran bu De yang langsung disetujui Haris.
Bu Murni yang merasa sudah menyelesaikan tugasnya pun keluar dengan Bu De, sedangkan Haris langsung mengunci pintunya. Mungkin semua tidak semulus ekspektasi nya. Tapi, butuh proses yang panjang untuk menyembuhkan luka di hati Ainaya. Namun, ia sudah berjanji pada Bilal akan membawa Ibunya pulang, bagaimanapun caranya.
Haris duduk di tepi ranjang supaya bisa menatap wajah Ainaya dengan lekat. Tangannya mengulur menyelipkan rambut sang istri yang menutupi pipi. Kemudian menciumnya dengan lembut dan lama.
Tak lupa mengambil gambarnya dan mengirimkan ke nomor bu Ida dan pak Indrawan.
Mereka hanya membalas pesan Haris dengan tulisan ''cepat bawa pulang'' dan juga emoji senyum tanda bahagia.
''Kesalahanku cukup besar padamu, tapi aku berharap kamu bisa memaafkanku. Apapun hukuman darimu nanti, pasti akan aku terima, asalkan jangan meminta pisah. Karena aku gak akan sanggup membesarkan Bilal tanpa kamu. Pasti mama akan mengutukku jika tidak bisa mengajakmu pulang,'' ucap Haris lirih diiringi dengan tetesan air mata.
Kembali mencium pipi Ainaya. Menyalurkan rasa rindu yang semakin menggebu. Mengusap hampir sekujur tubuhnya yang dipenuhi minyak urut dengan tissue. Mengubah posisinya menjadi miring, memastikan bahwa wanita itu dalam keadaan bersih saat tidur. Mengatur suhu kipas dan menghadapkan ke arah ranjang.
Haris pun membuka kemeja hingga meninggalkan baju dalam. Ia ikut berbaring di samping Ainaya untuk mengurai rasa lelah akibat perjalanan jauh.
Di luar ruangan
Apa yang mereka lakukan di dalam, apa jangan-jangan __
Didin terlihat sangat gelisah. Ia masih belum rela jika Ainaya kembali dengan Haris. Terlebih, baru saja semalam wanita itu mengucapkan tidak ingin kembali pada suaminya. Namun kini, mereka ada dalam satu ruangan tertutup.
__ADS_1
Dia milik orang lain, Din. Kamu harus melepaskannya. Menguatkan hatinya sendiri yang mulai patah.