
''Sepertinya kita harus membuat rencana supaya malam ini Haris dan Ainaya tidur se kamar, Pa,'' ucap bu Ida berbisik.
Pak Indrawan manggut-manggut. Menatap Haris dan Ainaya yang nampak bercanda di ruang tengah.
''Papa gak ngerti masalah beginian.'' Pak Indrawan setuju, pasrah dengan rencana sang istri.
Bu Ida memanggil salah satu asisten rumah tangga yang membersihkan piring di dapur. Lalu, menyuruhnya untuk mengambil Bilal dari pangkuan Ainaya.
''Nanti kalau non Ainaya tanya, saya jawab apa, Bu?'' tanya bibi takut.
''Jawab aja kalau malam ini aku akan bawa Bilal jalan-jalan.''
Bibi melirik jam yang menggantung di dinding dapur.
Sudah hampir jam sembilan, memangnya anak sekecil itu mau diajak jalan kemana?
Entahlah, bibi tak mau ambil pusing. Ia mengangguk dan berjalan ke arah ruang tengah menghampiri Ainaya.
''Maaf, Non. Saya disuruh ibu mengambil Den Bilal, katanya mau diajak jalan-jalan,'' ucap bibi ragu.
Ainaya mengerutkan alis. Meraih tangan Haris dan melihatnya. Heran dengan acara ibu mertuanya. Namun, ia tak bisa membantah ataupun menolak. Tanpa menjawab, ia memberikan Bilal pada bibi, meski sedikit tak rela.
Pasti ini akal-akalan mama. Haris mengucap dalam hati. Pura-pura sibuk menekan remot televisi yang menyala. Menahan tawa melihat wajah Ainaya yang tampak cemberut.
''Mama memang suka ke rumah tante Riya malam, karena kalau siang semua keluarga nya tidak ada di rumah,'' terang Haris jujur.
''Tapi tidak harus mengajak Bilal juga 'kan?''
Haris mengangkat bahu lalu mematikan tv nya.
"Kita tidur yuk. Sepertinya nanti mama akan jagain Bilal sampai pagi,'' ajak Haris saat mendengar suara mobil. Sudah dipastikan itu kedua orang tuanya.
''Kamu tidur saja dulu, aku mau nungguin Bilal,'' tolak Ainaya menyingkirkan tangan Haris yang merangkul pundaknya.
''Gak mau dekat aku?'' Haris pura-pura marah dan berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Ainaya menggeleng tanpa suara. Menarik tangan sang suami hingga duduk lagi di sampingnya. ''Kenapa sih dikit-dikit marah. Aku cuma kesal sama mama saja. Kenapa dia harus pergi membawa Bilal malam-malam begini?'' pungkas Ainaya menjelaskan.
Haris tersenyum. ''Jangan khawatir, mama itu sudah terbiasa, sebelum kamu di rumah pun dia sering bawa anak kita keluar malam-malam seperti ini.''
Ainaya sedikit tenang. Hanya saja masih bingung mau apa saat berdua seperti ini. Di kamar dan tidur seranjang. Ah, itu tidak mungkin. Ia masih sangat malu untuk tidur sekamar dengan Haris.
''Mau aku temani di kamar?'' tanya Haris serius. Menyelipkan rambut Ainaya yang menutupi sebagian pipi mulusnya.
Lama-lama ngantuk juga, tapi gak mungkin aku tidur di sini.
Ainaya mengangguk pelan. Apa salahnya ia mencoba untuk terbiasa dengan suaminya sendiri, tidak ada yang melarang justru sebaliknya, saat dia sudah menerima Haris apa adanya, itu artinya siap memberikan apa yang pria itu inginkan, termasuk memberikan hak.
''Di kamar atas saja, ranjang Bilal terlalu sempit.'' Haris menunjuk ke arah lantai dua.
Ainaya mengangguk lalu mengikuti langkah Haris menyusuri tangga. Meski masih harap-harap cemas, ia mencoba untuk menyiapkan hatinya yang masih menyimpan bimbang.
Haris membuka pintu lalu masuk. Ainaya masih mengikutinya dari belakang. Kini mereka berada di ruangan yang sama. Hanya benda-benda mati di tempat itu yang menjadi saksi bisu saat keduanya nampak grogi.
Kenapa aku gugup begini? Seperti mau malam pertama saja.
Apakah ini akan menjadi malam spesial seperti yang aku harapkan?
Bingung mau melakukan apa, akhirnya Ainaya memilih duduk di tepi ranjang menatap punggung Haris yang membelakanginya.
Hening, hanya suara dentuman jam dari arah nakas yang terdengar. Haris membalikkan badan menghadap ke arah Ainaya.
''Kamu biasa tidur dengan lampu yang bagaimana? Terang, redup atau gelap?'' tanya Haris mencairkan suasana.
''Terserah Mas saja, aku bisa semua.'' Ainaya menundukkan kepala saat Haris mendekatinya.
Lelaki itu berdiri di depannya hampir tanpa jarak. Entah apa yang dilihat, membuat Ainaya semakin malu dan takut.
''Kalau begitu redup saja ya.'' Haris mematikan lampu utama dan menggantinya dengan yang tenaram. Suasana berubah seketika, seolah ada sesuatu yang menggiring keduanya dalam peraduan yang sama.
Masih dalam keadaan takut dan ragu, Ainaya memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan sembari menatap jendela. Sedangkan Haris sendiri, lelaki itu menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Menatap langit-langit kamarnya, sesekali menoleh ke arah Ainaya yang nampak tenang.
__ADS_1
''Sudah tidur, Nay?'' tanya Haris tanpa pindah posisi.
''Belum,'' jawab Ainaya setelah sekian menit terdiam. Bagaimana ia bisa tidur jika seperti ini, bahkan sampai pagi pun tidak akan ngantuk. Takut jika Haris melakukan hal di luar dugaan.
''Mau aku bantu supaya kamu cepat tidur?''
Kedua bola mata Ainaya membulat sempurna. Bantuan dalam bentuk apa? Jika anak kecil bisa dengan nyanyian atau tepukan, lalu bagaimana cara membantu orang dewasa supaya cepat tidur? Haris semakin aneh saja membuat Ainaya bergidik ngeri.
''Gak usah, Mas. Nanti juga tidur sendiri. Kamu tidur saja dulu.''
Jleb
Sebuah tangan yang melingkar di pinggang mampu mengunci pergerakan tubuhnya, ia tak bisa lagi berkutik. Merealisasikan jantungnya yang mulai berdegup kencang.
Apa ini pertanda __
Belum sempat melanjutkan isi hatinya, kecupan mendarat di pundaknya dengan lembut.
''Sebenarnya aku tidak bisa menahannya lagi, Nay. Tapi jika kamu tidak mengizinkan gak papa,'' ucap Haris parau.
Ainaya memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi. Ia harus menatap masa depan, bukan kembali ke masa lalu, yakin jika suami yang ada disampingnya adalah Haris baru dan penuh kelembutan. Bukan penuh amarah saat menjamahnya.
Ainaya membalikkan badan hingga kini mereka saling tatap. Kedua netra saling bertemu dan saling tersenyum.
Tanpa aba-aba, Ainaya menarik kerah piyama sang suami lalu menyatukan bibirnya. Membuang jauh rasa takut yang dari tadi menjadi penghalang keberaniannya.
Lucu sekali dia.
Jika Ainaya menikmati tautan bibir itu dengan mata terpejam, Haris justru berbeda. Lelaki itu menikmati setiap jengkal wajah sang istri yang begitu cantik memesona dengan intens.
Ciuman itu terlepas, mereka saling mengatur napasnya yang tersengal. Wajahnya merah merona saat mengingat apa yang baru saja terjadi.
''Tidurlah, aku akan memelukmu.'' Haris meletakkan kepala Ainaya di atas lengannya lalu mencium kening wanita itu dengan lembut.
Ciuman tadi sudah cukup menjadi pemanasan untuk Haris, ia tidak akan menuntut lebih dan akan menunggu Ainaya supaya mau melayaninya dengan sepenuh hati.
__ADS_1