
''Jadi bagaimana Tuan Haris? Apa Anda setuju?'' tanya tuan Gunawan untuk yang kedua kali.
Namun, sepertinya Haris memang tak merespon ucapannya. Pria itu hanya diam dengan pandangan jauh ke depan.
Adam mengangkat kedua bahu. Ia pun tak mengerti dengan sikap Haris. Padahal, banyak yang seharusnya mereka bicarakan.
Beberapa staf lain pun ikut bingung dengan sikap Haris yang jauh berbeda dari biasanya.
''Mungkin saja dia ada masalah rumah tangga, Om.'' Adam berbisik di telinga tuan Gunawan.
Tuan Gunawan kembali duduk di tempat semula. Kini Andik yang berdiri menggantikan sang bos.
Pria itu pun memutuskan untuk setuju dengan pilihan tuan Gunawan. Mereka sepakat akan memulai proyek secepatnya.
''Maaf, Tuan. Rapatnya sudah selesai.'' Andik menepuk tangan Haris dengan pelan.
''O maaf, saya kurang fokus,'' ucap Haris terkejut.
Mereka saling bersalaman sebelum berhamburan keluar dari tempat itu.
Haris kembali duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi.
Entah kenapa, otaknya tak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Justru wajah Ainaya yang selalu melintas seolah menghantuinya.
Apa mungkin aku sudah gila?
Memijat pangkal hidungnya. Memejamkan mata, berusaha penuh membuang jauh wajah istri keduanya tersebut.
Andik masuk dan duduk disamping Haris.
''Sebenarnya Tuan kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Nona Ainaya?'' tanya Andik merapikan map di depan nya.
Haris tetap membisu. Menyembunyikan perasaan yang menyelimuti. Mana mungkin ia cerita jujur, pasti asistennya itu hanya akan menertawakan dia.
''Tidak, aku hanya kangen sama Bilal,'' jawabnya asal.
Haris berdiri dari duduknya lalu keluar.
Bilang aja kangen sama emaknya, kenapa harus Bilal yang menjadi sasaran.
Ia menghentikan langkahnya saat melihat Adam ada di balkon samping ruangan sembari berbicara dengan benda pipihnya.
''Iya, Nay. Aku pasti akan membantumu mencari pekerjaan, tenang saja.''
Darah Haris mendidih mendengar nama yang disebut Adam. Kedua tangannya mengepal sempurna. Amarahnya memuncak hingga sekarang tak terbendung lagi.
''Baiklah, nanti kita akan atur waktunya lagi, aku akan selalu menunggumu, sampai ketemu.'' Adam mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
Haris bersembunyi di balik dinding. tak ingin Adam tahu bahwa ia sudah mendengar pembicaraan pria itu.
Apa nama Adam yang ada di hp Ainaya adalah Adam yang sama. Darimana mereka saling mengenal?Dari hasil pencarian Andik tidak ada mantan Ainaya yang bernama Adam?
Haris semakin frustasi. Ia tak bisa berpikir jernih dan memilih untuk ke ruangannya segera.
''Hari ini aku tidak mau menerima laporan apapun. Kamu urus semuanya,'' ucap Haris pada Andik.
''Baik, Tuan,'' jawab Andik hormat. Menutup pintu setelah sang bos masuk ke dalam.
Sebenarnya Anda sudah jatuh cinta pada Nona Ainaya, tapi gengsi mengakuinya.
Andik tertawa dalam hati melihat bosnya yang nampak kalang kabut.
Haris melepas jas dan sepatu lalu berbaring di atas ranjang. Memejamkan matanya dan berusaha melupakan Ainaya. Bukan menghilang, justru wajah wanita itu selalu muncul bahkan seperti nyata.
Ainaya yang ada di kamar Bilal pun tak henti-hentinya menitihkan air mata. Ia sudah memutuskan pergi besok, mungkin lebih cepat akan lebih baik, pikirnya.
Ia tidak ingin jatuh cinta lebih dalam pada Bilal, sebab itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
''Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu kenapa mama ninggalin kamu dengan orang lain,'' gumamnya seraya menatap wajah Bilal yang terlelap.
Dalam hati memang terasa berat, namun tidak ada pilihan lain selain pergi. Ainaya tidak ingin mengingkari janji yang sudah dibuat.
''Permisi.'' Suara sapaan terdengar dengan jelas.
Ternyata bu Ida dan pak Indrawan yang datang.
''Selamat sore, Tante,'' sapa Ainaya diiringi dengan senyuman.
Bu Ida pun membalas dengan senyuman saat menatap Ainaya yang nampak cantik memakai baju pemberian nya.
''Sore juga. Bagaimana kabar kamu?'' Bu Ida menggiring Ainaya menuju ruang tamu.
''Saya baik, Tante. Tapi __"
Ainaya menghentikan ucapannya, masih ragu untuk mengatakan tentang kepergiannya.
''Tapi apa?'' tanya pak Indrawan menyelidik.
''Besok saya akan pergi dari sini, karena saya tidak bisa lama-lama tinggal di sini,'' lanjutnya penuh hati-hati.
Wajah bu Ida berubah redup mendengar ucapan Ainaya. Mereka sudah menyayanginya seperti keluarga sendiri.
''Gak papa kalau memang urusanmu lebih penting, tante izinkan. Tapi sampai kapanpun pintu rumah tante akan selalu terbuka untukmu.''
Ainaya memeluk bu Ida.
__ADS_1
Maafkan saya, Ma. Seharusnya saya tidak meninggalkan kalian, tapi saya capek karena sampai saat ini mas Haris tidak menginginkan kehadiran saya. Tapi suatu saat nanti kalian akan mengerti bahwa Bilal adalah anak saya.
Tak lama berselang Jihan turun. Wanita itu langsung menghampiri Bu Ida dan pak Indrawan.
''Maaf, tadi aku ketiduran jadi gak tahu Mama dan Papa datang,'' ucap Jihan merasa bersalah.
Bu Ida tersenyum. ''Gak papa, lagi pula kamu itu butuh istirahat untuk memulihkan kondisimu. Jaga diri baik-baik. Apalagi seharian penuh Haris di kantor,'' tutur bu Ida.
Ainaya menundukkan kepala, dari relung hati terdalam ia pun merasa iri melihat perlakuan bu Ida terhadap Jihan. Namun apa daya, ia hanya bisa menelan rasa kecewa itu seorang diri.
''Saya permisi, Tante.'' Ainaya ke belakang meninggalkan bu Ida dan pak Indrawan yang beralih bercakap dengan Jihan.
Haris yang baru saja turun dari mobil menatap Ainaya yang duduk di taman belakang. Hampir seharian penuh ia berada dalam bayang--bayang semu, dan kini ia dipertemukan secara nyata.
Bibirnya mengulas senyum saat melihat sang istri yang sibuk menjahit. Kakinya melangkah mendekatinya.
''Lagi ngapain?'' tanya Haris dari arah belakang.
''Tu-- Tuan.'' Ainaya membungkuk sopan.
''Maaf Tuan, di dalam ada Tante Ida dam Om Indrawan,'' kata Ainaya memberitahu.
Haris tertawa. ''Aku sudah tahu, kan mobilnya di depan.''
Kalau sudah tahu kenapa ke sini, apa dia gak takut mereka mengetahui hubungan ini.
Ainaya melanjutkan aktivitasnya. Ia tidak ingin menggubris Haris yang hanya mengganggunya saja.
''Oh iya, Tuan. Saya mau bilang kalau saya akan pulang besok.''
Haris mengerutkan alisnya. ''Kenapa secepat ini?'' Reflek pertanyaan itu meluncur dengan lugasnya.
Ainaya tercengang. Bukankah Haris suka jika ia pergi secepatnya? Kenapa harus terkejut dan dipertanyakan?
''Maksudku, kenapa kamu baru bilang sekarang,?'' ralat Haris gugup.
Ternyata dia salah bicara.
''Maaf, tadi temanku baru menelpon. Katanya mau mencarikan pekerjaan dan tempat tinggal. Aku gak bisa seperti ini terus. Takut semua orang kan tahu hubungan kita,'' terangnya dengan jelas.
Haris memejamkan mata sejenak lalu membukanya lagi
''Baiklah, kalau itu keputusanmu akan lebih bagus. Aku doakan semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.''
Itu yang aku mau, Mas, karena aku gak mau hidup dengan harapan yang tidak akan pernah terwujud. Kamu tidak mungkin menerimaku. Semoga kehadiran Bilal akan selalu mengingatkanku, bahwa di balik kebahagiaan yang kamu dapatkan ada aku yang berjuang mati-matian.
__ADS_1