
''Kita sudah sampai, Tuan.'' Suara sopir membuyarkan lamunan pak Indrawan yang dari tadi hanya diam.
Pria keturunan Jawa tulen itu pun segera turun dan mengucapkan terima kasih pada sang sopir yang sudah membukakan pintu untuknya. Ia masuk ke dalam untuk mengurai rasa lelah karena seharian bekerja. Itulah sehari-harinya, meski sudah menyerahkan sebagian besar usahanya pada Haris, Pak Indrawan masih ikut campur untuk meringankan beban sang putra.
''Tumben Papa sudah pulang?'' seru bu Ida dari arah ruang tengah.
''Iya, hari ini gak ada rapat penting.'' Pak Indrawan melepas jasnya. Menghampiri istri tercinta yang selalu menjadi pelampiasannya saat di rumah. Meski usia mereka tak muda lagi, terlihat sangat romantis dan mesra, bahkan mengalahkan pengantin baru.
Seperti biasa, Bu Ida segera ke belakang mengambilkan minuman hangat untuk sang suami.
''Bagaimana pekerjaannya tadi di kantor.'' Meletakkan secangkir kopi di depan pak Indrawan.
''Lancar kok, hanya ada beberapa file yang perlu ditanda tangani, tapi sudah beres.''
Bu Ida duduk di samping pak Indrawan. Membantu melepas dasi pria tersebut.
''Tadi aku lihat Ainaya di ruangan Haris, katanya mau meminta bayaran menjadi pengasuh nya Bilal. Apa anak itu memang selalu terlambat membayar pegawainya?'' tanya pak Indrawan menyelidik. Mulai curiga dengan sikap Haris yang tadi nampak gugup.
Bu Ida mengangkat kedua bahu tanda tidak tahu. Sejak tinggal di rumah sendiri, ia memang tak pernah bertanya tentang masalah rumah tangga pria itu termasuk cara memperlakukan para pekerja.
''Nanti aku coba tanyakan pada Mimin. Mendingan sekarang papa mandi dulu, aku siapkan makan.''
Bu Ida beranjak dari duduknya. Meletakkan sepatu di rak lalu mengatakan pada bibi untuk segera menyiapkan makanan di meja makan.
Masa sih Haris terlambat membayar gaji mereka? Kayaknya gak mungkin?
Saking penasarannya, Bu Ida mengambil ponsel dan membawanya ke teras samping, sedangkan pak Indrawan langsung ke kamar.
Berbicara panjang lebar lewat telepon. Menanyakan perihal pemberian gaji yang sedikit mengganjal di hati bu Ida.
''Tidak, Nyonya. Tuan Haris tidak pernah terlambat memberikan gaji bahkan maju satu hari,'' ujar Mimin jujur.
Bu Ida mengangguk dan memutus sambungan nya.
__ADS_1
Apa mereka ada masalah lain. Tapi apa? Sedikit curiga dengan laporan sang suami. Namun, ia tak mau menerka-nerka lebih dulu dan akan mencari tahu.
Haris bukanlah orang yang mudah ditemui kecuali masalah pekerjaan atau orang-orang terdekat, sedangkan Ainaya hanyalah Qnaita asing yang membantu menyusui bayinya dengan sebuah bayaran mahal, itulah tanggapan bu Ida. Sehingga mustahil baginya saat mereka berbicara dalam satu ruangan tertutup.
Pak indrawan keluar dari kamar mandi. Menghampiri Bu Ida yang nampak melamun. Seolah memikirkan sesuatu.
''Mama mikirin apa?'' tanya pak indrawan yang sukses mengejutkan wanita itu.
Bu Ida mengusap dadanya, menepuk lembut dada suaminya yang terekspos.
''Papa ngerasa gak sih, kalau Bilal itu mirip dengan Ainaya?'' tanya Bu Ida menyelidik.
Pak Indrawan tertawa. Ia mengambil baju dan memakainya. Sementara bu Ida malah cemberut. Kesal ditertawakan oleh suaminya.
''Kalau menurut papa, Bilal itu mirip Haris, bukan Jihan maupun Ainaya.'' Pak Indrawan mengambil ponsel memeriksa beberapa email yang masuk.
Sementara bu Ida memilih pergi daripada harus kesal sendiri.
Pak Indrawan mengangguk tanpa suara tanda setuju. Bersiap untuk segera bertemu dengan cucu tercinta. Meski bibirnya mengucap tak percaya, ia mulai mencerna ucapan bu Ida.
Semoga yang dikatakan mama itu salah.
Di tengah perjalanan, Bu Ida membeli kue dan beberapa buah sebagai oleh-oleh. Tak lupa membeli baju untuk menantu tercinta. Juga beberapa kebutuhan Bilal seperti susu dan popok. Sedangkan pak Indrawan pun tak mau kalah, ia membeli banyak mainan untuk sang cucu.
Pak sopir hanya bisa geleng-geleng melihat belanjaan sang majikan, pasalnya barang-barang yang dibeli itu memenuhi bagasi dan juga jok bagian belakang. Bukankah itu berlebihan. Ah, suka-suka orang kaya mah bebas.
Mobil melaju meninggalkan supermarket. Kembali membelah jalanan menuju rumah Haris. Dan akhirnya, berhenti di depan halaman. Bu Ida turun lebih dulu disusul pak Indrawan dari belakang. Mereka langsung masuk, menyuruh bibi mengambil barang-barangnya di mobil.
''Bu Jihan di mana?'' tanya Bu Ida menatap ke arah lantai dua.
''Bu Jihan pergi, Nyonya. Katanya periksa,'' ungkap Mimin yang sibuk membuat susu untuk Bilal.
''Sama Haris atau sendiri?'' tanya nya lagi.
__ADS_1
''Sendiri. Pak Haris belum pulang.''
Bu Ida bergegas ke kamar Bilal, ia sudah tak sabar menimang bayi menggemaskan itu.
''Cucu oma, apa kabar?'' Mengangkat Bilal yang ada di box bayi.
Pak indrawan mendekat. Menatap lekat wajah cucunya. Kini ia mulai berpikir hal yang sama dengan sang istri. Tak dapat dipungkiri, jika mata Bilal adalah kopian dari mata Ainaya. Sedangkan hidungnya adalah hidung Haris. Satupun tak ada yang mirip dengan Jihan.
Kebanyakan anak pasti akan mirip dengan papa dan mamanya, tapi kenapa Bilal mirip dengan orang lain. Apa __
Pak Indrawan keluar dari kamar itu dan beralih duduk di sofa. Ada guratan kecemasan yang menggali hatinya. Seolah Bilal adalah bayi Ainaya dan Haris, bukan Jihan.
Mungkin aku hanya salah tebak saja.
Menepis prasangka buruk yang menerpa. Berharap Apa yang ditakutkan itu bukan hanya ilusi semata. Tapi nyata.
Bu Ida keluar dengan Bilal di gendongannya. Duduk di samping pak Indrawan yang masih berperang dengan pikirannya. Entah, kini hatinya jadi bimbang dengan status Bilal yang memang jelas lebih mirip dengan Ainaya daripada ibunya sendiri.
Tak lama mereka bercanda dengan Bilal Haris datang. Pria itu melangkah gontai menghampiri kedua orang tuanya. Menutup guratan lelah dengan senyuman indah saat melihat putra tercinta.
''Aku mandi dulu ya, Ma.'' Haris meninggalkan mereka menuju kamarnya.
Pak Indrawan kembali memandang Bilal lalu membuka layar ponselnya. Menyamakan antara gambar Ainaya dan sang cucu yang masih penuh dengan misteri.
''Tuh kan Pa, mereka mirip,'' ucap Bu Ida lirih, takut ada yang mendengar.
''Menurut mama ini hanya kebetulan atau ada unsur lain?'' tanya pak Indrawan pura-pura. Tak ingin membuka suara sebelum ada sebuah bukti yang menjurus ke sana.
''Mama gak tahu, tapi semoga ini hanya kebetulan saja. Bukankah kita lihat sendiri saat Jihan mengandung sampai sembilan bulan.'' Bu Ida celingukan takut ada yang menguping pembicaraannya.
''Tapi kita kan gak lihat saat dia melahirkan. Bahkan, saat datang Jihan sudah dipindahkan ke ruang rawat,'' bantah pak Indrawan lagi.
Bu Ida terdiam. Matanya terus menatap bibir ranum Bilal yang mulai bisa mengeluarkan suara emasnya.
__ADS_1