Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Mencari bukti


__ADS_3

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya  Haris yang baru datang. Niat ingin memberi kejutan justru ia yang diberi kejutan dengan tangan Ainaya yang hampir keseluruhan bintik dan seperti melepuh. 


"Aku gak tahu, tiba-tiba saja seperti ini." Menunjukkan telapak tangan yang juga sama. 


"Pahaku juga," imbuhnya. Meski belum melihat secara langsung ia merasakan sakit yang sama seperti tangannya. 


Haris menatap kedua teman Ainaya yang tampak ketakutan lalu beralih ke arah sang istri yang meniup-niup lukanya. 


"Apa mungkin kamu salah pakai lotion atau sabun?" tanya Haris memastikan. 


Ainaya menggeleng cepat. Sedikitpun tak berpikir macam-macam tentang apapun yang dipakai. 


"Kita harus ke rumah sakit sekarang." Haris mencangklong tas milik Ainaya lalu pamit, sedangkan Ajeng dan Lidya mengikuti mereka sampai parkiran. 


"Semoga cepat sembuh, Nay," ucap Ajeng dan Lidya bersamaan. 


Ainaya hanya mengangguk tanpa suara. Menahan rasa panas yang luar biasa pada hampir setiap tubuhnya. Ia duduk di jok depan di samping Haris yang duduk di depan kemudi. Memasang seatbelt betul sambil meringis kesakitan.  


Sebelum menyalakan mesin, Haris menoleh ke arah sang istri. Menyingkap sedikit roknya untuk memastikan. 


''Kenapa bisa seperti ini?'' Haris menutupnya kembali. Mengusap pucuk kepala Ainaya yang tampak menitikkan air mata. 


''Tenanglah, aku akan bawa kamu ke rumah sakit.'' 


Mobil melesat dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan yang dipenuhi kendaraan berlalu lalang. Otak Haris terus menerka dengan apa yang terjadi. 


''Apa sebelumnya kamu pernah mengalami seperti ini, Sayang?'' tanya Haris menyelidik. 


Ainaya menggeleng tanpa suara. Menggigit bibir bawahnya untuk mengurai rasa sakit yang luar biasa. Perih bercampur panas membuatnya semakin tak nyaman. Bahkan kali ini di wajah pun ada beberapa bintik yang menghiasi pipi dan hidung. 


Mobil berhenti di depan rumah sakit. Ainaya menarik tangan Haris yang hampir membuka pintu. ''Aku malu,'' ucapnya dengan mata yang melihat tangannya sendiri. 

__ADS_1


Haris melepas jas nya dan memakai kan di tubuh sang istri. Dengan begitu, Ainaya bisa masuk tanpa diperhatikan orang lain. 


''Tidak akan ada yang melihat kamu seperti ini.'' Haris merangkul Ainaya memakaikan jas yang membalut punggungnya itu tidak terjatuh. Ia menghampiri resepsionis yang bertugas. 


''Saya ingin bertemu dokter Naina,'' ucap Haris. Dia memang sudah mengenal dokter kulit yang praktek di rumah sakit itu. 


''Baiklah, silahkan masuk.'' Petugas memberi nya kartu kemudian mengantar nya ke ruangan dokter yang disebut. 


Setelah melintas lift dan lorong, kini Haris sudah tiba di depan ruang dokter Naina. Mereka langsung masuk setelah pintu dibuka lebar. 


''Ada apa ini, Ris?'' tanya Naina pada Haris yang tampak cemas. 


''Istri ku kulitnya melepuh, aku juga gak tahu apa penyebabnya.'' Menunjuk tangan Ainaya yang ditutup dengan jas.


Dokter Naina menyuruh mereka duduk dan menanyakan apa saja yang dilakukan Ainaya sebelum kulitnya seperti itu. 


''Tadi saya di kafe, menurut saya minuman yang saya minum biasa saja, Dok. Tapi tadi ada yang menumpahkan latte di tangan, lalu saya ke kamar mandi dan pakai sabun.'' 


''Baiklah, saya akan periksa lebih dulu.''


Ainaya dan dokter Naina masuk ke sebuah ruangan khusus untuk periksa, tetap di temani Haris di samping nya. 


Suster mencatat apa yang diucapkan dokter Naina lalu membawanya keluar. Sementara Ainaya masih meringis kesakitan pada bagian bintik yang menyerang. 


''Sepertinya ini Dermatitis kontak yang disebabkan paparan zat iritan atau reaksi alergi. Umumnya, seseorang terkena dermatitis kontak terpapar zat yang terdapat di dalam sabun, deterjen, atau pelarut. Dermatitis kontak dapat menimbulkan gejala berupa ruam kemerahan yang terasa hangat atau panas, serta kulit gatal dan melepuh seperti ini. Tapi kita tunggu hasil lab lebih dulu.''


Kali ini Haris semakin yakin ada yang tidak beres dengan sabun yang dipakai Ainaya di kafe itu. Pasalnya, ia selalu menjaga semua yang dipakai sang istri saat di rumah, dan tidak mungkin apa yang terjadi efek dari produk yang ia pilih.


Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. 


''Kamu pergi ke kafe loreng. Ada yang tidak beres di sana, terutama sabun yang ada di kamar mandi. Kamu periksa semuanya termasuk cctv,'' ucap Haris serius. 

__ADS_1


''Baik, Tuan,'' jawab suara berat yang ada di seberang telepon. 


''Kenapa kita gak nunggu hasil lab dulu, Mas. Mungkin saja penyebabnya bukan sabun itu.'' Ainaya semakin cemas, takut ini akan menjadi masalah besar jika Haris turun tangan. Susah pasti lelaki itu tidak akan memaafkan pelaku. 


''Setidaknya kita harus bertindak cepat sebelum orang yang melukai kamu merajalela. Aku tidak mau kejadian ini terulang lagi.'' Menangkup kedua pipi Ainaya dengan lembut lalu mengecup hidungnya di depan dokter Naina. 


''Ini ada salep yang bisa menghilangkan rasa panas, untuk bekasnya akan sembuh secara bertahap. Mungkin bisa membutuhkan waktu seminggu, nanti akan aku kabari setelah hasil lab nya keluar. Semoga lekas sembuh.'' Dokter Naina tersenyum. Meletakkan salep di depan Haris. 


''Besok bisa dibawa lagi kesini,'' imbuhnya. 


''Baik, Dok. Terima kasih,'' ucap Ainaya sembari beranjak. 


Mereka keluar dari ruangan dokter Naina dengan perasaan yang sedikit lega, setidaknya penyakit itu masih bisa disembuhkan. Meski dengan berkala. 


''Bagaimana kalau bintik ini ada berkasnya, apa kamu masih mau dengan ku?'' ucap Ainaya konyol. 


Haris mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa melihat kecemasan sang istri. 


''Aku ini tampan dan kaya, bisa memilih perempuan yang lebih cantik dan mulus.'' Menaik turunkan alisnya dengan cepat.


Ainaya memalingkan pandangannya ke arah luar. Sorot matanya tiba-tiba basah saat cairan bening memberontak dan luruh. Seolah ucapan Haris seperti lebah yang menyengat di ulu hati terdalam. 


''Tapi aku tidak berdaya untuk jauh dari kamu,'' bisik Haris selanjutnya. ''Meski banyak yang lebih cantik, kamu tetap segala-galanya bagiku.'' Mencium tangan Ainaya dengan lembut dan lama. 


Ainaya menoleh, seketika menatap manik mata Haris dan mencari kebohongan di sana. Ternyata hanya ada kejujuran dari sorot mata sang suami yang nampak sendu. 


Dering ponsel menghentikan Haris yang hampir menyatukan bibirnya. Terpaksa ia mengambilnya dan melihat nama yang berkelip di layar. 


''Saya sudah memeriksa kamar mandi, tapi disana tidak ada apa-apa selain sabun biasa, Tuan. Tapi dari hasil cctv memang tadi Nona menerima sabun dari tangan seorang perempuan, nanti saya akan mengirim fotonya,'' ucap lelaki itu yang membuat Haris tersenyum. Setidaknya ia mendapat celah untuk memperpanjang masalah itu. 


Siapapun kamu akan habis di tanganku. Kamu menggunakan cara perlahan, aku juga sama, kita bertemu di satu tempat yang akan menjadi kenangan seumur hidup. 

__ADS_1


__ADS_2