Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Upah


__ADS_3

''Hai, Sayang. Mama kangen,'' sapa bu Ida sambil melambaikan tangannya. 


Ainaya tersenyum, membalas dengan lambaian tangan pula. Bahagia melihat orang yang menyayanginya itu baik-baik saja. Menoleh ke arah Haris yang ada di belakang layar. Kemudian kembali fokus menyapa bu Ida. 


''Apa kabar, Tante?'' tanya Ainaya sedikit gagap. Meski ia sudah mendengar sendiri panggilan yang disematkan bu Ida, tetap saja masih terlalu kaku untuk mengucap. 


''Apa kamu tidak bisa mengubah panggilan tante manjadi mama?'' tukas bu Ida serius. 


Lagi, Ainaya menatap Haris dengan penuh tanda tanya. 


''Mama sudah tahu semuannya,'' jawab Haris tanpa ditanya. Paham dengan bola mata sang istri yang banyak menuntut padanya itu. 


''Iya, Sayang. Mama minta maaf karena selama ini tidak tahu apa-apa. Tapi sekarang mama sudah tahu semuanya. Cepatlah pulang, Bilal merindukanmu.'' Menggeser layar ponselnya ke arah Bilal yang berbaring di atas ranjang. 


Akhirnya apa yang diinginkan Ainaya tercapai, meski hanya bisa melihat dari layar, hatinya terasa sejuk dan berharap secepatnya bisa memeluknya.


''Mama pasti repot mengurus Bilal?'' Ainaya merasa bersalah dengan keadaan yang terjadi. Menganggap dirinya terlalu egois sudah meninggalkan anak demi mempertahankan harga dirinya. 


''Gak kok, Haris yang mengurus sepenuhnya. Mama cuma bantu saja.'' Sontak itu membuat Ainaya kaget dan menatap pria yang dari tadi menatapnya. 


''Makanya cepat pulang, kasihan Bilal, dia pasti kangen banget sama mama nya,'' pinta bu Ida penuh harap. 


Ainaya mengangguk tanpa suara lalu menyerahkan ponselnya kepada Haris. Tak tahu harus bicara apa lagi dan memilih diam. 


''Maafkan papa ya, Nak. Sudah ninggalin kamu, tapi papa janji akan secepatnya pulang dengan mama.'' Mengedipkan satu matanya ke arah Ainaya.


''Iya, jangan lama-lama.'' Bu Ida memutus sambungannya dan kembali fokus bermain dengan sang cucu. 


Sementara Haris meletakkan ponselnya di atas meja dan merapikan selimut yang berantakan. Membiarkan Ainaya yang berdiri di belakang jendela.


''Kenapa kamu datang disaat aku ingin melupakan semua nya dan ingin memulai hidup baru, Mas?'' tanya Ainaya tanpa menatap. 


Haris menghela nafas panjang. Pertanyaan itu sangat normal bagi seorang istri yang sudah dikecewakan berulang kali. Dan kini, gilirannya mencari jawaban yang tepat dan meyakinkan. 


''Kamu boleh melupakan semuanya, dan kita akan meniti hidup baru bersama-sama. Tapi tetap bersamaku dan Bilal. Kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia,'' jawab Haris seperti apa yang direncanakan. 


''Bagaimana dengan mbak Jihan?'' tanya Ainaya lagi. 

__ADS_1


''Aku sudah menceraikan dia karena beberapa sebab,'' jawab Haris jujur. 


''Apa kamu juga sudah tahu tentang kb permanen itu?''


''Kamu sudah tahu juga?'' tanya Haris menyelidik. 


Ainaya mengangkat bahunya lalu keluar. Meninggalkan Haris yang masih menunggu jawabannya. 


''It's okey, aku memang terlambat tahu, tapi tidak terlambat menjemputmu.''


Haris ikut keluar mengikuti Ainaya. Mereka menghampiri bu De yang nampak santai bersama beberapa warga di depan gudang. 


''Eh, kalian sudah bangun?'' Bu De berdiri mendekati Ainaya dan Haris. 


Mereka menjawab dengan senyuman tanpa suara. 


''Bu De nungguin apa, kok padinya belum diangkat?'' Menunjuk beberapa karung padi yang masih berada di luar. 


''Nungguin kang Hadi, dia belum datang. Mana kuat bu De mengangkatnya sendiri.''


Ainaya melirik ke arah Haris. Mungkin ini kesempatan untuk membalas perbuatan suaminya. 


Seketika bu De menggeleng tanda menolak, sedangkan Haris menelan saliva dengan susah payah. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya, malu. Terlebih, ini saatnya ia menunjukkan ketulusan pada Ainaya. 


''Jangan, nanti malah badannya sakit-sakit semua, biarin lah nungguin kang Hadi saja.'' Bu De menahan tangan Haris yang hampir menyentuh karungnya. 


''Lebih baik kalian makan, bu De sudah siapkan di meja makan,'' suruh Bu de lagi. 


Nampak seorang pria tua melintas membuat Haris punya ide cemerlang. Ia memanggil pria itu. 


''Apa Bapak bisa mengangkat padi itu ke dalam?'' tanya Haris serius. 


''Bisa, Pak. Tapi ini pekerjaan kang Hadi,'' tolaknya secara halus. 


''Gak papa, Bapak masukin saja. Ini upahnya.'' Memberikan lima lembar uang seratus ribu pada pria itu. 


Semua orang yang melihat ikut melongo, bahkan uang sebanyak itu bisa lima hari kerja, namun diberikan Haris hanya untuk mengangkat sepuluh karung padi saja. 

__ADS_1


''Ta--tapi, Pak __" Haris memasukkannya ke dalam saku kemeja pria itu.


''Nanti ini untuk kang Hadi.'' Memberikan tiga lembar pada Bu De. Bukan untuk pamer, tapi kasihan juga pada mereka yang harus nungguin di bawah terik. 


''Ini untuk ibu-ibu juga, anggap saja bonus.'' Memberikan pada beberapa orang yang ada di sana, per orang dua lembar. 


Ainaya hanya terdiam. Tak heran jika Haris sangat dermawan untuk urusan harta. Meski hubungannya tak wajar, pria itu pun beberapa kali mengirim uang ke rekeningnya dengan jumlah yang cukup besar. Bahkan sampai hari ini bisa untuk membeli mobil Alphard 3.5 Q A/T. 


''Suamimu baik banget, Nduk,'' puji bu De berbisik. 


Ainaya hanya tersenyum lirih. Menyaksikan Haris yang masih sibuk membagikan uangnya. 


Kamu memang baik, Mas. Tapi aku harus meyakinkan hatiku dulu sebelum mengambil keputusan. 


Haris mendekati bu De yang berdiri di samping Ainaya. 


''Makasih Bu De sudah menampung istri saya. Kalau diizinkan saya juga ingin memberikan sesuatu untuk Bu De dan Didin,'' ucap Haris dengan keseriusannya. 


Bu De tersenyum kikuk. Bingung mau menjawab apa, karena ia ikhlas membantu Ainaya dan tidak mengharapkan imbalan apapun. Terlebih, bisa membantu keduanya bersatu itu adalah perbuatan yang mulia dan wajib ditunaikan. 


''Kasih jumlah dong, Mas. Mungkin bu De bisa memilih.'' Ainaya angkat suara sedikit kesal. 


''Lima puluh,'' ucap Haris ambigu. 


''Lima puluh ribu?'' lanjut Ainaya memastikan.


Haris mengangguk dan terkekeh. 


Bagaimana bisa, ia memberikan uang pada orang lain lima ratus ribu dan tiga ratus ribu, Kenapa pada Bu De hanya lima puluh. Bukankah tidak adil. 


''Lima puluh juta.''


Bu De menganga, Didin yang sibuk mencuci motor nya pun terpaksa menghentikan aktivitasnya lalu mendekati Haris dan Bu De serta Ainaya. Memastikan bahwa ia tak salah dengar. 


''Itu terlalu banyak, Pak,'' ucap bu De dengan bibir bergetar. Sekujur tubuhnya panas dingin mendengar nimonal yang sangat besar itu. 


Haris merangkul Ainaya. ''Itu tidak ada artinya apa-apa dibandingkan perempuan yang ada di samping saya ini. Bu De sudah memberikan tempat terbaik untuk dia. Bu De merawatnya seperti anak sendiri. Saya sangat berterima kasih. Mohon di terima.'' Memberikan sebuah cek di depan bu De. 

__ADS_1


''Jangan cek dong, Mas. Bu De gak bisa ambil uang ini,'' protes Ainaya mencoba melunakkan hatinya. 


Haris segera menghubungi Andik untuk segera datang membawa uang tunai. 


__ADS_2