
Dinginnya malam semakin menusuk tulang. Namun, keringat justru bercucuran menembus pori-pori membuat Ainaya panik saat Ajeng dan Lidya pamit ke kamar. Mereka seolah melupakan keberadaan sang sahabat yang berada di ambang ketakutan dan memilih untuk mengurai rasa lelahnya akibat perjalanan.
''Itu kamar pak Andik.'' Bu De menunjuk kamar yang ada di samping kamar Ajeng dan Lidya.
''Makasih, Bu De,'' jawab Andik malu-malu lalu bangkit.
Kini di ruang tamu hanya ada Ainaya dan Haris karena bu De juga ikut pergi. Sementara Didin, usai memeriksa gudang ia pun terlelap sebelum besok kembali dengan aktivitasnya.
''Kamu gak ngantuk?'' Haris membuka suara. Menatap Ainaya dari samping.
Ainaya menggeleng pelan. Jelas itu adalah kebohongan besar. Karena faktanya, saat ini matanya terlalu berat untuk dibuka.
''Aku temani begadang ya,'' tawar Haris menyalakan musik dari ponselnya.
Ainaya terdiam. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mencoba mengusir rasa takut yang dari tadi melanda, namun ia tetap tak bisa.
Terlalu seram untuk diingat kembali. Meski belum tentu terulang lagi karena hubungan nya yang belum stabil, namun seolah perlakuan Haris saat menjamahnya menjadi momok yang membuatnya enggan untuk bersatu lagi.
Ya, Ainaya takut Haris meminta haknya secara paksa dan penuh nafsu seperti dulu. Jika semua orang mengatakan bahwa bercinta itu bagaikan berada di surga dunia, justru Ainaya merasakan sebaliknya karena Haris selalu melakukannya dengan kasar. Sering kali ia mengadu sakit dan menangis, namun pria itu seolah tak pernah peduli demi mendapatkan kepuasan.
Sampai kapan itu akan menghantui Aianya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Hampir dua jam mereka duduk di ruang tamu, kini Ainaya sudah terlelap, sedangkan Haris menikmati lagu yang diputar. Sungguh, suasana itu membuatnya ingin memeluk sang istri saja.
Sepertinya dia sudah benar-benar tertidur.
Haris mematikan ponselnya lalu membuka kamar. Merapikan tempat tidurnya terlebih dulu. Lantas, ia mengangkat tubuh Ainaya dan membaringkannya di atas pembaringan dengan pelan.
Sebelum ikut berbaring, Haris mengirim pesan kepada bu Ida. Memintanya untuk bersabar, karena sampai sekarang belum ada tanda-tanda Ainaya mau diajak pulang.
''Jangan sentuh aku!'' teriak Ainaya yang membuat Haris kaget.
Ia yang baru saja akan ganti baju terpaksa mendekati sang istri yang nampak histeris. ''Hei, kamu kenapa?'' Menangkup kedua pipi wanita itu dan mengusapnya dengan lembut.
__ADS_1
Ainaya menggeleng cepat dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Enggan menatap Haris, pasti bayangan itu akan muncul lagi disaat mereka saling bertatapan dari dekat.
''Kalau kamu merasa gak nyaman denganku, aku akan tidur di luar,'' ucap Haris meyakinkan.
Ainaya terdiam. Ia lega mendengar itu, namun juga sungkan dengan bu De dan yang lain. Pasti mereka mengira ia sudah jahat pada Haris.
''Gak usah, aku saja yang tidur di bawah.'' Ainaya menurunkan kakinya, namun langsung dicegah oleh Haris.
''Aku saja, kamu tetap di sini.''
Haris mengambil bantal dan meletakkannya di atas karpet gulung tipis yang sudah terpasang. Lalu, ia berbaring tanpa mengucapkan selamat malam. Berpura-pura tertidur dan memunggungi Ainaya.
Apa aku terlalu jahat melarang suamiku untuk tidur di sampingku. Tapi ini semua bukan keinginanku. Aku hanya belum siap untuk bersama dia.
Hampir semalaman penuh Haris tak bisa memejamkan mata. ia hanya diam dan terus menatap Ainaya yang terlelap di atas ranjang. Rasa takut kehilangan itu semakin mencuat saat dengan jelas Ainaya terlihat penuh ragu untuk menerimanya. Bahkan, wanita itu seperti enggan berada di dekatnya.
Bukankah itu adalah bukti bahwa seseorang sudah tak memiliki rasa yang spesial.
Apakah ia tidak layak untuk mendapatkan maaf, atau memang sudah tidak ada lagi cinta untuknya.
Kalaupun tidak ada cinta lagi untukku, setidaknya beri aku kesempatan mencintaimu, Nay. Beri aku waktu untuk membuktikan ketulusanku.
Haris terbangun dan menatap ke arah luar, dimana kegelapan itu mulai lenyap diganti dengan langit yang cerah. Berharap ada titik baru menyinari niatnya kali ini.
Meraih ponselnya dan membaca pesan dari bu Ida.
Gak papa, kamu yang sabar. Mama yakin semua akan baik-baik saja.
Haris tersenyum lalu keluar. Matanya berkeliling ke arah ruangan depan. Ternyata Adik pun sudah bangun.
"Mau ikut jogging, Tuan?" tanya Andik sembari mengikat tali sepatu.
''Dengan siapa saja?'' tanya Haris antusias.
__ADS_1
''Mas Didin dan Ajeng juga Lidya. Kurang tahu juga, tadi saya cuma baca pesan dari Ajeng.'' Ucapan sang asisten justru membuat Haris berdecak.
Bagaimana tidak, jika benar mereka yang akan jogging sambil menikmati mentari muncul dengan pasangan masing-masing, justru ia akan terlihat mengenaskan tanpa seorang wanita.
''Gak,'' jawab Haris ketus. Lalu berjalan menuju kamar mandi sambil menggerutu pelan. Sesekali mengumpat Andik yang tidak memahami perasaannya.
Selepas dari kamar mandi, Haris kembali ke kamar. Bertepatan itu Ayinaya pun terbangun dan melihat jalan yang ada di nakas. Ia bergegas turun dan mengunci rambutnya dengan asal.
''Mau ke mana?'' tanya Haris antusias.
''Ke kamar mandi lah, mau sholat setelah itu jogging,'' jawab Ainaya buru-buru.
''Mereka sudah pergi.'' Haris terlihat senang melihat sang istri yang tampak cemberut. Mungkin dengan begitu ia bisa mengajak Ainaya pergi berdua.
''Kenapa aku ditinggal?'' Ainaya duduk di tepi ranjang. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
''Bukan ditinggal, mereka hanya jalan dulu, kalau kamu mau pergi aku siap menemanimu,'' ucap Haris menawarkan diri.
Ia mengambilkan baju ganti untuk Ainaya meletakkan di samping wanita itu.
Daripada gak sama sekali, kayaknya gak papa juga sama mas Haris.
Terpaksa Ainaya mengangguk lalu bersiap pergi.
Ainaya dan Haris keluar dari rumah Bu De. Pertama-tama mereka melintasi kampung Sukarela yang masih sangat sepi. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang melintas, itu pun kebanyakan ibu-ibu yang membawa kantong kresek, dari belanja.
''Kenapa di sini sepi banget. Apa semua orang belum bangaun?'' ucap Haris sambil berlari kecil mendahului Ainaya. Sebab, dari tadi wanita itu hanya berjalan saja.
''Bukan belum bangun, tapi di sini memang jarang sekali ada yang lari pagi seperti kita, hanya beberapa orang saja yang melakukan aktivitas seperti itu.''
Haris manggut-manggut mengerti. Ia berhenti dan menoleh ke belakanag ke arah sang istri.
''Apa kamu mau pulang denganku?'' tanya Haris memastikan.
__ADS_1
Ainaya terdiam dan menatap intens. Banyak yang ia pikirkan sebelum mengambil keputusan. Di antaranya kehidupan Bilal nanti nya.