
''Sebenarnya kamu dan Jihan ada masalah apa? Kenapa harus menginap di rumah mama?'' Hampir setengah perjalanan bu Ida baru memberanikan diri bertanya pada Haris.
Haris menggeleng tanpa suara. Hatinya masih kalut memikirkan fakta yang menyakitkan itu. Meski Jihan sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf, tetap saja tak bisa mengembalikan keadaan. Selamanya mereka tidak akan memiliki keturunan.
''Setiap rumah tangga pasti ada masalah, tapi alangkah baiknya kamu selesaikan secepatnya, bukan pergi seperti ini,'' tegur pak Indrawan menimpali.
Haris menarik napas dalam-dalam dan membuka matanya yang beberapa saat terpejam. Tangannya bergerak mengusap lembut pipi Bilal. Hanya bayi itu yang mampu memberinya semangat.
Maafkan papa, Nak. Papa janji sebentar lagi akan membawa mama pulang. Kalian akan kembali bersama.
Tidak ada pembicaraan lagi, Haris belum siap untuk membongkar kejahatan Jihan. Takut kedua orang tuanya membenci wanita itu seperti dulu. Padahal, itu adalah kesempatan yang bagus supaya dia dan Ainaya bisa bersatu. Namun, ada beberapa hal yang harus dibereskan sebelum memutuskan.
''Oh iya, Ris. Maaf kalau pertanyaan mama ini menyinggungmu, tapi mama gak bisa memendamnya, itu hanya akan membuat mama semakin penasaran,'' ucap Bu Ida melirik pak Indrawan.
''Apa?'' tanya Haris singkat. Masih belum ada semangat untuk membahas apapun.
''Kalau dilihat secara intens, kok Bilal mirip Ainaya ya, bukan Jihan. Maaf mama asal nebak saja.''
Haris tersenyum kecut. Mungkin ini saatnya untuk mengungkap semua kepada kedua orang tuanya. Memberikan sebuah hak pada wanita yang sudah memberikan anak padanya.
''Gak usah dijawab, pertanyaan mama mu itu konyol, dia memang suka ngaco,'' timpal pak Indrawan geleng-geleng.
''Gak papa, Pa. Kalian berhak tahu semuanya. Aku tidak akan menutupinya lagi.''
Suasana terasa mencekam dengan ucapan Haris yang penuh dengan teka-teki.
''Sebenarnya Ainaya memang ibu kandung Bilal,'' terang Haris menatap kedua orang tuanya bergantian.
Mereka mengernyitkan dahi lalu saling pandang. Seolah masih membutuhkan penjelasan yang tepat.
__ADS_1
''Aku menikahi Ainaya hanya ingin mendapatkan keturunan karena Jihan memang dinyatakan mandul,'' lanjutnya.
Sontak itu membuat bu Ida kalap dan menampar sang putra. Geram dengan niat Haris yang seolah mempermainkan sebuah pernikahan. Merendahkan wanita hanya demi kebahagiaannya semata.
Haris mengusap pipinya yang terasa perih. Tamparan itu tak seberapa dibandingkan rasa sakit yang ditorehkan untuk sang istri. Sedangkan pak sopir dan pak Indrawan, mereka diam dan fokus dengan pikiran masing-masing. Membiarkan bu Ida meluapkan amarahnya.
''Jadi selama ini kamu dan Jihan membohongi mama untuk mempertahankan pernikahan kalian?" pekik Bu Ida dengan mata berkaca-kaca.
Pak indrawan mengulurkan tangan. Mengusap lengan bu Ida dan menyuruhnya untuk sabar.
''Kasihan cucu kita, Ma. Dia tidur takutnya nanti bangun, kita bicarakan di rumah,'' ucapnya kemudian. Menenangkan.
Hening
Bu Ida menatap wajah Bilal yang nampak tenang di alam mimpinya. Sedangkan Haris hanya bisa menundukkan kepala. Merenungi kesalahannya selama ini. Berharap kejujurannya kali ini akan membawanya pada kebaikan.
Maafkan oma. Meski oma gak tahu tentang ibu kandung kamu, oma tetap menyayangi dia. Oma bangga sekali karena kamu terlahir dari wanita yang baik.
Tanpa terasa mobil berhenti di depan rumah. Haris turun dan membukakan pintu untuk bu Ida. Pak Sopir mengeluarkan barang-barang milik Bilal. Sengaja mereka membawa banyak baju untuk bayi itu atas permintaan Haris.
Bu Ida membawa Bilal ke kamar, sementara pak Indrawan dan Haris duduk di ruang tamu. Mereka saling diam dan bergulat dengan pikiran masing-masing.
''Terkadang cinta itu bisa membuat orang nekat melakukan apapun. Tapi jangan sampai kamu salah mengambil langkah,'' tutur pak Indrawan.
''Kamu bisa membeli apapun termasuk perempuan untuk mengandung anakmu, tapi kamu tidak bisa membeli sebuah pernikahan. Mama tahu kamu sangat mencintai Jihan dan tidak bisa berpisah dengannya, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menyakiti Ainaya,'' timpal bu Ida ketus.
Haris terdiam. Ia mencerna ucapan kedua orang tuanya. Ya, mungkin saat ini masih belum bisa melepaskan Jihan, namun ia pun bertekad akan membawa Ainaya kembali. Bagaimanapun caranya.
''Sekarang pikirkan nasib Bilal, dia butuh orang tua yang lengkap. Jangan sampai kamu menyesal seumur hidup karena sudah memisahkan dia dari ibunya.''
__ADS_1
Haris beranjak dari duduknya. Menatap bu Ida dan pak Indrawan bergantian.
''Aku akan menjemput Ainaya. Aku akan minta maaf padanya,'' ucap Haris serius.
Bu Ida ikut berdiri. Maju satu langkah mendekati Haris. ''Untuk saat ini mama yakin Ainaya tidak mau kembali padamu, tapi mama akan terus berdoa yang terbaik untuk kamu dan dia. Bangunlah, sudah saatnya kamu bahagia dengan perempuan yang benar-benar mencintai kamu dengan tulus, bukan sekedar memanfaatkanmu.'' Menepuk pundak Haris pelan.
Haris mengangguk lalu pergi setelah meminta beberapa ART untuk menjaga bayinya. Ia juga menyuruh mereka membersihkan kamar. Ya, kamar yang nantinya akan menjadi tempat peristirahatan Ainaya saat mereka tinggal di rumah pak Indrawan.
''Pokoknya ganti gorden, sprei, selimut dengan warna putih, karena Ainaya suka warna itu,'' terang Haris secara detail.
Ia tak akan lupa dengan warna kamar Ainaya saat dulu masih tinggal di rumah sederhana pemberian nya. Setidaknya ada salah satu yang ia ingat dari wanita itu.
''Baik, Pak. Kami akan segera melakukannya,'' jawab wanita yang ada di depan Haris dengan ramah.
''Sepertinya Mama bahagia sekali?'' Pak Indrawan menggeser duduknya.
Bu Ida tertawa kecil. ''Aku setuju kalau Ainaya menjadi mantu kita, PA. Bukan Jihan.''
Haris masuk ke dalam mobil. Untuk saat ini belum yakin bisa mengajak Ainaya pulang, namun ia akan membuktikan kesungguhannya untuk mempertahankan wanita itu.
''Apa sebaiknya aku telpon dia dulu ya?'' Mengetuk-ngetukkan jarinya di setir. Kemudian mengambil ponselnya. Lagi, menatap foto Ainaya dan Bilal.
''Kayaknya gak usah deh, aku yakin dia masih marah sama aku.'' Meletakkan ponselnya lagi dan bergegas melajukan mobilnya.
Sesampainya, Haris segera masuk ke apartemen setelah menyapa satpam yang berjaga. Tak seperti biasanya nampak serius, kali ini ia sedikit bercanda yang membuat beberapa orang tertawa. Menunjukkan bahwa ia sangat bahagia.
Pintu lift terbuka. Haris keluar dan mempercepat langkahnya menuju hunian Ainaya. Namuan, ayunan kakinya berhenti saat melihat Adam dan beberapa orang pria keluar dari tempat itu. Terlihat jelas mereka berbicara dengan serius dan menyebut nama sang istri.
''Kira-kira kapan Nona Ainaya pergi?" tanya pria kekar yang berbaju hitam pekat dengan celana yang senada.
__ADS_1
''Aku gak tahu, terakhir kali aku mengantar nya ke kantor Haris dan setelah itu nomornya sudah gak aktif.
Haris yang mendengar itu pun terkejut bukan main, bahkan ia hampir rubuh.