Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Ikut meeting


__ADS_3

''Saya dengar-dengar Ibu juga pernah bekerja di perusahaan besar di kota ini?'' tanya salah satu karyawan yang menemani Ainaya jalan-jalan berkeliling kantor. 


Tidak ada jawaban, Ainaya menoleh ke arah wanita cantik yang ada di belakangnya. Sebuah pertanyaan yang cukup menarik dijawab, namun apakah itu akan berpengaruh untuk Haris jika kenyataannya memiliki istri dari kalangan rendah. 


Begitulah resiko menjadi istri orang terkenal. Pasti akan dikorek ke akarnya, sejumput masalah pasti dilirik oleh publik. Membesar-besarkan masalah yang terjadi. Mereka tak henti-hentinya mencari celah supaya mendapatkan kabar terbaru dan terupdate. 


''Ma--maaf, Bu. Bukan maksud saya bicara lancang.'' Wanita itu membungkuk. Wajahnya mendadak pucat saat mendapat tatapan dari sang majikan. 


''Gak papa,'' jawab Ainaya santai. 


''Jawab saja, gak papa.'' Tiba-tiba suara berat menyahut dari samping. Sebuah tangan mengusap pucuk kepala Ainaya. Ternyata itu adalah Haris.


''Kamu mau ke mana, Mas?'' tanya Ainaya menghentikan langkah sang suami. 


Andik ikut berhenti dan berdiri di samping sang bos.


''Mau ikut?'' ucapnya sambil menaik turunkan alisnya. 


Mungkin akan lebih seru bertemu klien dengan istri tercinta yang masih rahasia. 


''Memangnya boleh?'' Ainaya mendekat, melirik ke arah Andik yang memasang wajah serius. Berbeda sekali dengan Haris yang cengengesan. 


''Boleh.'' Haris merangkul pundak kecil Ainaya, memberi kode pada karyawan untuk meninggalkan mereka. 


''Nanti bagaimana kalau Bilal bangun?'' tanya Ainaya cemas. 


''Gak akan. Aku sudah menyuruh orang untuk menjaganya.''


Terasa sangat aneh. Ini pertama kalinya Haris bertemu dengan klien ditemani seseorang selain Andik. Meski begitu tak masalah, bahkan kehadiran wanita itu akan menjadi penyemangat baginya. 


Haris membuka pintu mobil bagian belakang. Mempersilakan Ainaya masuk lalu ia ikut duduk di samping wanita itu. 


''Jangan jatuh cinta dengan klien ku, sekarang kamu milikku.'' Haris kembali memperingatkan. 


Ainaya hanya tersipu. Mana mungkin ia berani jatuh cinta pada pria lain, sedangkan ada lelaki yang sangat agresif dan pemarah sudah mengikatnya. 

__ADS_1


''Memangnya siapa sih orang itu?'' tanya Ainaya menyelidik. 


''Rahasia,'' jawab Haris yang membuat Ainaya kesal. Ia memilih diam dan menatap ke arah luar. Menikmati pemandangan jalan yang dipenuhi dengan kendaraan berbagai jenis. 


Mobil berhenti di depan sebuah restoran ternama di tengah kota. Seperti yang dilakukan tadi, Haris kembali membuka kan pintu untuk Ainaya. Mereka masuk saling bergandengan tangan.


Saat di tengah jalan, Ainaya menarik tangan Haris dari belakang. Matanya tak teralihkan dari wajah lelaki yang duduk tak jauh dari mereka berdiri. 


''Apa nama klien kamu Wisnu?'' tanya Ainaya pelan, namun masih didengar Haris dengan jelas. 


''Iya,'' jawabnya singkat. ''Itu orangnya.'' Menunjuk lelaki yang saat ini juga ditatap Ainaya dengan intens. 


''Aku gak jadi ikut.'' Ainaya memutar badan memunggungi Wisnu dan juga beberapa pengunjung lainnya. 


''Kenapa, kamu kenal sama Wisnu?'' Haris memegang kedua lengan Ainaya. Mengabsen setiap jengkal wajahnya. Cukup cantik dan sedap dipandang. Meski make up nya tipis tetap saja tak menyurutkan kecantikan wanita itu, justru terlihat lebih alami. 


''Bukan kenal sih, tapi waktu itu aku pernah melamar kerja di kantor dia.'' Menundukkan kepalanya. Kali ini tak hanya Wisnu, nama Adam pun kembali melintas di otaknya. 


Apa kabar lelaki yang sudah banyak membantunya itu?


''Pak Haris...'' teriak suara berat dari ujung ruangan. 


''Kalau kamu malu menjadi istriku, kamu bisa mengaku menjadi asisten pribadiku.'' Memberikan map yang ada di tangan Andik. 


Tak ada pilihan lain, Ainaya mengikuti langkah Andik dan Haris menghampiri Wisnu. Memasang wajah yang penuh percaya diri menjadi istri dari Haris. 


''Wow, spesial banget pak Haris ditemani istrinya,'' cetus Wisnu dengan suara lantang. 


Haris mengerutkan alis, bingung. Dari mana Wisnu tahu tentang itu, sedangkan hanya ada beberapa orang luar yang tahu tentang pernikahannya, sedangkan semua karyawan kantor sudah menutup rapat berita tadi pagi.


Suasana sedikit tegang. Ainaya khawatir suaminya itu marah besar atau salah paham. Padahal, ia pun tak pernah mengatakan status itu selain pada Adam. Mungkinkah lelaki itu yang mengadu pada Wisnu?


Kenapa jadi seperti ini? Bagaimana kalau mas Haris marah? 


Ainaya meremas ujung bajunya, menyesal. Sudah lancang ikut sang suami yang sedang bekerja. Apalagi, hari ini adalah hari pertama mereka baikan. Apakah itu akan menjadi pemicu hubungannya yang baru saja membaik. 

__ADS_1


''Apa saya salah bicara?'' Wisnu menutup mulutnya, bola matanya menatap mereka bergantian. 


''Tidak, Anda tepat sekali, dia adalah istri saya. Bisa kita mulai meetingnya?'' Haris mengalihkan pembicaraan, takut Ainaya tersinggung dengan pembahasan itu. Ia meraih tangan Ainaya yang terasa dingin dan menggenggamnya. Sesekali mengangguk ke arah wanita itu memberi kode untuk tetap biasa layaknya saat mereka ada di kantornya sendiri. 


Selama meeting berlangsung, pria itu sangat serius dan fokus. Sesekali melirik ke arah sang istri yang menjadi pendengar setia. Wanita mana yang tak meleleh dengan cara bicaranya, bahkan sekretarisnya Wisnu pun sempat tak berkedip saat menatapnya. Pantas saja ia menjadi pemimpin sebuah perusahaan ternama. 


''Bagaimana pak Wisnu? Apa Anda setuju dengan pendapat saya?'' tanya Haris memastikan.  


Wisnu mengangguk tanpa berpikir panjang, ia merasa sudah cukup jelas dengan penjelasan Haris tadi. 


''Semoga kerjasama kita berjalan lancar.'' Keduanya saling berjabat tangan tanda setuju.  


Haris melambaikan tangannya ke arah waitress yang melintas. 


''Ada yang bisa saya bantu, Pak?'' tanya Waitress cantik dengan sopan.


''Kamu pesan apa?'' tanya Haris pada Ainaya yang dari tadi nampak sibuk memainkan ponsel. 


''Terserah Mas saja,'' jawab Ainaya singkat. Kembali menatap ke arah bawah di mana tangan sang suami terus menggenggamnya. 


''Saya pesan baked salmon lima sama ice drink lima juga,'' ucap Haris tanpa meminta pendapat yang lain. Sebab, ia merasa makanan yang dipesan sudah cukup mewah dan berkelas. 


''Saya masih penasaran dengan kisah cinta Anda, Pak?" tanya Wisnu kepo.  


Sebagai lelaki yang belum beristri, ia pun ingin seperti Haris yang bisa mendapatkan Ainaya. 


''Terlalu rumit untuk ditiru, Pak. Semoga Anda tidak menjalani kisah cinta seperti saya.'' 


Mereka tertawa terbahak-bahak, kecuali Ainaya yang cenderung diam karena malu. 


Meski tak menunjukkan kemesraannya di depan umum. Pasangan Ainaya dan Haris cukup menarik perhatian bagi setiap pengunjung yang melintas. Bagaimana tidak, saat makan pun kedua tangan mereka saling menggenggam erat dan tak bisa dilepaskan sehingga mengundang beberapa pasang mata untuk menyaksikan.  


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Cukup lama mereka berdua berada di luar, Haris teringat dengan Bilal yang ada di kantor. 


''Maaf, Pak. Sepertinya saya harus balik ke kantor,'' pamit Haris sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.

__ADS_1


Wisnu mengangguk menatap punggung Ainaya dan Haris berlalu, sedangkan Andik membayar makanannya.  


Adam tau gak ya kalau mereka balikan? 


__ADS_2