Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Rencana baru


__ADS_3

Kondisi Ainaya sudah mulai membaik. Dokter sudah memindahkannya ke ruang rawat sehingga memudahkan keluarga untuk menjenguknya. 


Paman dan Bibi sibuk menimang cucunya yang terlelap. Bayi mungil yang berpaduan antara wajah Ainaya dan Haris itu nampak tampan dan imut.


''Kira-kira siapa namanya ya, Pak?'' tanya bibi pada paman yang sibuk menoel pipi gembul bayi itu.


''Bapak mana tahu, itu kan urusan Haris.''


Mereka membawa bayi itu masuk dan menghampiri Ainaya yang terbaring di atas brankar. 


''Bagaimana keadaan kamu, Nay?'' tanya Bibi mengusap bibir Ainaya yang terkena air bekas minum. 


''Lebih baik, Bi. Aku cuma butuh istirahat.'' Matanya tak teralihkan dari bayinya yang ada di gendongan bibi. 


''Apa kamu sudah menghubungi Haris? Sebenarnya di mana dia?"


Ainaya terdiam. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi pria itu namun hasilnya selalu nihil, bahkan sekalipun Haris tak pernah meresponnya. 


''Dia di Bali bersama mbak Jihan, Bi,'' jawab Aianya malas. Mengusap lembut kepala putranya. 


''Tapi sekarang kamu harus hubungi dia. Katakan kalau anaknya sudah lahir. Aku yakin dia akan bahagia dan lebih memperhatikanmu,'' ucap bibi penuh harap. 


Ainaya  ikut tersenyum. Menyembunyikan kesedihannya yang mendalam. Ia kembali mengambil benda pipihnya. Namun, kali bukan Haris yang ia telepon melainkan Andik. Sebab, hanya pria itu jalan satu-satunya untuk bisa menghubungi suaminya. 


Andik yang ada di ruangan Haris terpaksa keluar saat melihat nama Ainaya berkelip di layarnya. Ia satu-satunya orang dari pihak Haris yang mengetahui tentang rahasia besar itu dan tidak boleh bocor sedikitpun. 


''Ada apa, Nona?'' tanya Andik menahan suaranya. Celingukan, takut ada keluarga Haris yang mendengar. 


''Katakan pada mas Haris kalau aku sudah melahirkan,'' ucap Ainaya tanpa basa-basi. 


Andik memulas senyum bangga. Entah memihak pada siapa, yang pasti ia ikut bahagia dengan kabar baik itu. 


''Katakan juga padanya untuk menyiapkan nama,'' imbuhnya lagi. 


''Baik, Nona.'' Andik memutus sambungannya. 


Ia langsung memesan tiket pulang lalu  mengirim pesan pada Haris tentang kabar yang dibawa. 


Awalnya Haris biasa saja saat membuka pesan dari Andik, namun seketika matanya membulat sempurna ketika membaca isinya. 

__ADS_1


Ainaya melahirkan, itu artinya anakku lahir.


Seandainya berada di tempat yang sepi mungkin akan tertawa bahagia, sayangnya ia tak bisa melakukan apa-apa selain memendam rasa itu dalam hati. 


Bagaimana ini, aku dan Jihan harus segera pulang. Tapi bagaimana dengan mama dan papa. Aku harus memberi alasan apa pada mereka. 


Haris berpikir keras mencari cara supaya ia bisa pulang tanpa kedua orang tuanya. Tidak mungkin ia pulang bersama mereka, pasti akan curiga dengan kebohongan itu.


''Ma, Pa. Kata dokter kemarin aku sudah boleh pulang. Hari ini juga aku mau pulang ke rumah,'' ucap Haris dari ranjang. 


Tak hanya bu Ida dan pak Indrawan yang bingung. Jihan juga ikut bingung dengan pernyataan konyol itu. Mereka berencana akan melanjutkan liburannya setelah Haris sembuh, namun tiba-tiba malah mengajak pulang. 


''Kamu belum sembuh total, Ris. Kenapa minta pulang?" Bu Ida menghampiri Haris dan menempelkan punggung tangannya di kening pria itu yang masih dibalut perban. 


"Gak apa, Ma. Aku hanya takut Jihan akan melahirkan di sini," ungkapnya meyakinkan. 


Tidak ada yang bisa melarang keinginan Haris. Mereka pun mengangguk setuju dengan permintaan pria itu. 


Andik masuk dengan membawa tiga tiket. 


''Kok tiga, aku kan juga mau pulang, Dik." Bu ida memukul pelan lengan sang asisten. 


"Maaf, Bu. Tapi tiket hari ini sudah kosong, mungkin ibu dan bapak baru bisa pulang besok."


Mereka meninggalkan rumah sakit dan langsung ke bandara. 


Sedangkan Bu Ida dan pak Indrawan, memilih untuk menginap di hotel terlebih dahulu sebelum mereka mendapatkan tiket. 


Haris menggenggam tangan Jihan. Mereka berhenti di depan bandara. 


''Apa kamu tahu kenapa aku ingin pulang sekarang?" tanya Haris penuh teka-teki. 


Jihan menggeleng pelan. 


''Ainaya sudah melahirkan. Itu artinya sebentar lagi kita akan menjadi orang tua.'' 


''Beneran, Mas?" tanya Jihan tak percaya. 


Haris mengangguk lalu memeluk Jihan dengan erat. Dengan teganya mengucap kata yang menyakitkan itu. Seolah melupakan seorang ibu yang mati-matian melahirkan bayinya. 

__ADS_1


Setelah beberapa bulan sandiwara kehamilan, kini mereka mulai menyusun rencana menjadi orang tua baru. 


''Bagaimana kalau mana memintaku memberikan asi pada anak itu?'' ucap Jihan takut. 


Bahkan, menjadi orang tua akan lebih sulit daripada pura-pura hamil. 


"Itu gampang. Banyak seorang ibu yang tidak bisa menyusui anaknya, biar aku yang mengurusnya." 


Andik hanya bisa mendengar percakapan mereka. Membayangkan apa yang akan terjadi jika Haris mengambil anak Ainaya. 


Haris dan Jihan langsung pergi ke sebuah rumah sakit di mana Ainaya dirawat. Menyewa satu ruang rawat vvip dan menyuruh Jihan berbaring di sana. Sedangkan Haris dan Andik, mereka berjalan menuju ruangan dokter yang menangani Ainaya bersalin. 


"Saya suaminya Ainaya, Dok. Saya ke sini  ingin meminta surat untuk mengurus data diri anak saya, Dok," pinta Haris meyakinkan. 


''Baik, Pak. Silahkan tunggu!" Dokter membuka laci mengambil amplop coklat dan memberikannya pada Haris. 


"Terimakasih karena dokter sudah membantu istri saya melahirkan." Haris keluar, kali ini ia langsung ke ruang bayi di antar suster. 


"Itu bayi Anda, Tuan." Menunjuk bayi mungil yang berada di barisan terdepan. Bayi yang paling tampan di antara bayi lainnya. 


"Anakku. Akhirnya kamu lahir ke dunia ini, Nak. Ini papa."


Baru kali ini Haris merasakan sebuah kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, yaitu lahirnya sang pewaris dari keluarga Mahendra. Bayi yang bisa menyambung hubungan antara bu Ida dan Jihan. 


''Apa saya boleh menggendongnya, Sus?" tanya Haris antusias. 


Ia semakin tak sabar ingin menyentuh kulit lembutnya. 


"Boleh, Tuan." Suster masuk dan mengambil bayi Haris lalu menyerahkannya pada sang ayah. 


"Siapa namanya, Tuan?" tanya Andik dari arah samping ikut menatap bayi itu dengan tatapan intens. 


"Namanya Bilal Mahendra. Dia yang akan menjadi ahli waris satu-satunya di keluarga Mahendra." Haris mengucap dengan lantang. Bangga dengan putranya yang berjenis kelamin laki-laki, dan Haris tidak berharap apapun lagi dari Ainaya. Sekarang dalam hidupnya hanya ada dia, Jihan dan putranya. 


Haris membawa bayi itu ke ruangan Jihan dan menunjukkan pada sang istri. 


"Dan sebentar lagi aku akan mengubah  identitasnya yang baru," kata Haris tanpa rasa iba pada ibu kandungnya. 


Andik yang ada di luar ruangan memilih pergi dan mengunjungi kamar Ainaya. 

__ADS_1


Kasihan sekali Nona Ainaya. Sebentar lagi dia akan kehilangan Bilal. Itu artinya harapannya menjadi seorang ibu akan pupus. Semoga ada laki-laki yang tulus dan menerima dia apa adanya. 


Tanpa disadari mata Andik berkaca-kaca. Membayangkan jika itu terjadi pada keluarganya, pasti akan ikut hancur lebur. 


__ADS_2