
''Itulah akibatnya kalau kamu tidak percaya sama mama. Bukankah dari awal mama sudah bilang bahwa Jihan itu bukan perempuan yang baik, tapi kamu tetap ngotot menikahinya,'' tegur bu Ida.
Haris terdiam, sesekali melirik ke Arah Ainaya yang nampak sibuk dengan makanan di depannya. Percuma saja bicara, itu hanya akan menciptakan perdebatan saja.
''Sekarang kamu bawa ke mana itu si Jihan,'' timpal pak Indrawan.
''Ke kantor polisi, paling tidak ia harus merasakan dinginnya jeruji besi atas perbuatannya.'' Haris mengulurkan tangannya, mengusap saus yang tertinggal di bibir sang istri.
Ia membatalkan niat utama yang akan membawa Jihan pada buaya-buaya yang kelaparan. Itu hanya akan memudahkannya dan tidak bisa merasakan sakit. Semua harus impas dengan apa yang dilakukan.
''Mama setuju sekali. Semoga dia secepatnya sadar dan nanti mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi.'' Sebenci-bencinya seorang ibu tetaplah memiliki hati nurani dan tidak tega melihat sesama wanita menderita.
Ainaya hanya menjadi pendengar setia. Sedikitpun tak ingin menyahut. Itu bukan urusannya. Apapun yang akan dilakukan Haris, ia akan mendukung selama tak terlalu jahat.
''Kapan kalian bulan madu?'' tanya Bu Ida antusias.
Seketika Ainaya terbatuk. Tersedak makanan yang hampir masuk ke kerongkongan. Sangat terkejut dengan pertanyaan mama mertuanya.
Haris segera menyerahkan segelas air putih di depan sang istri.
''Kayaknya minggu depan. Aku harus mengurus paspor untuk Ainaya dulu,'' jawab Hatis santai yang membuat sang istri terbelalak.
''Bilal di ajak, 'kan?'' tanya Ainaya memastikan.
''Ini bulan madu kalian, ngapain ajak Bilal segala? Itu hanya akan membuat kalian repot. Tenang saja, Bilal akan aman di rumah dengan mama.'' Bu Ida menepuk lengan sang menantu dengan pelan. Kemudian pergi ke belakang.
''Kenapa kamu gak bilang dulu,'' bisik Ainaya di telinga Haris.
''Aku lupa,'' ucap Haris merasa bersalah. Bukan, merasa gemas melihat kepanikan sang istri.
Ainaya hanya bisa menerima dengan berat hati. Mana mungkin ia bisa menolak, sementara Haris mendapat dukungan dari kedua mertuanya.
Bu Ida kembali. Menepuk punggung Haris dari belakang. ''Jangan bulan madu dulu, kalian harus meresmikan pernikahan dulu setelah itu baru pergi,'' saran bu Ida.
Haris kembali berpikir keras. Benar juga, mungkin akan lebih bebas kalau mereka sudah memiliki buku nikah seperti harapan Ainaya. Dengan begitu, mereka akan siap melanjutkan untuk membangun rumah tangga yang bahagia.
__ADS_1
''Baiklah, aku akan segera meresmikannya,'' jawab Haris pasrah, untuk sementara waktu harus sabar menunggu masa itu tiba.
Di lain sisi
Andik masih disibukkan dengan perkara yang menimpa Haris, terpaksa beberapa hari ini ia tak menghubungi Ajeng yang membuat sang empu cemas.
''Mungkin saja dia sedang sibuk, kemarin saja hampir seharian penuh gak ada di kantor.'' Didin mencoba menenangkan Ajeng yang tampak kacau.
''Tapi gak gini juga caranya, kalau dia memang serius seharusnya tetap memberi kabar. Jangan-jangan aku hanya di ghosting doang,'' ucap Ajeng terbata.
Didin terkekeh. Meski katanya berulang kali patah hati, namun ini kali pertama ia melihat kesedihan sang adik yang menurutnya sangat lucu.
''Di kantor banyak laki-laki tampan dan jabatannya juga bagus, kamu tenang saja. Nanti mas ambilin satu untuk kamu.'' Mencubit dagu Ajeng.
''Gak mau, kalau malam ini dia gak datang, besok aku akan kembalikan cincin ini." Mengangkat jari manisnya. ''Untuk apa diberi cincin kalau diabaikan seperti ini.''
Didin berdiri dari duduknya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kehabisan akal untuk membujuk sang adik yang tampak merajuk.
''Ya sudah, marahin saja nanti kalau dia datang, aku keluar dulu.'' Didin bergegas keluar dan menutup pintu kamar. Berkacak pinggang. Ia pun ikut heran dengan cara kerja Andik yang seperti monster, jangankan Ajeng yang berada di tempat lain, ia yang satu kantor pun jarang melihatnya, bahkan tak pernah bertegur sapa selain saat melamar kerja kala itu.
Ketukan pintu membuyarkan Didin yang sedang melamun. Lelaki itu bergegas menatap sosok lelaki tampan yang berdiri di ambang pintu.
''Andik,'' seru Didin sembari tersenyum puas. Akhirnya, orang yang dari tadi diharapkan datang juga.
''Maaf Mas, aku baru bisa datang, sibuk,'' ucapnya ramah.
Didin manggut-manggut mengerti. Memperlihatkan calon adik iparnya itu untuk duduk. Meski baru beberapa kali bersama, paham betul dengan pekerjaannya.
''Ajeng ngambek, dia takut kamu gak serius,'' ucapnya lirih.
Wajah Andik mendadak redup. Ia sudah pernah menebak, jika pacaran pasti hal seperti ini akan terjadi. Namun apa daya, ia tak bisa lari dari tugas dan tanggung jawab sebagai orang kepercayaan seorang Haris.
''Tapi aku percaya kamu gak mungkin seperti itu.'' Menepuk kaki Andik yang nampak merenung. Entah apa yang dipikirkan. Didin pun tak tahu.
''Di mana dia? Biar aku yang bicara,'' tanya Andik serius.
__ADS_1
Didin menyungutkan kepalanya ke arah pintu kamar Ajeng yang tertutup rapat. Berharap wanita itu tenang setelah bertemu sang belahan jiwa.
Didin tersenyum tipis, meminta izin pada Didin untuk masuk ke sana.
''Tapi ingat! Jangan di apa-apain. Dia tanggung jawabku,'' pesan Didin yang langsung disetujui oleh sang asisten.
Andik membuka pintu tanpa mengetuk, menatap Ajeng yang duduk membelakanginya.
''Ngapain ke sini lagi, silahkan bela mas Andik saja, biar dapat persenan,'' pekik Ajeng tanpa menoleh.
Andik menahan tawa. Pertama kali ia melihat kemarahan Ajeng. Dan menurutnya sangat lucu sekali.
''Kenapa diam? Takut aku pukuli.'' Ajeng mengusap air matanya yang menetes. ''Dia itu tampan dan kaya, gak mungkin mau sama perempuan sepertiku yang hanya dari kampung,'' isak Ajeng semakin menjadi.
''Siapa yang bilang seperti itu?'' Suara berat dari arah pintu membuat pupil mata Ajeng melebar. Suara yang membuat jiwanya bergetar sekaligus deg degan. Grogi dan gugup juga salah tingkah seperti saat ini.
Bergegas Ajeng menoleh ke arah sumber suara lalu berdiri.
Kakinya mengayun mendekati lelaki yang baru saja ia maki-maki.
''Aku gak mimpi, 'kan?" Menggerakkan tangannya, menyentuh pipi kokoh Andik. Masih belum sepenuhnya percaya, meski yang ia sentuh itu terus tersenyum manis, ia masih butuh bukti lainnya.
''Kalau kamu masih ragu, peluk aku,'' suruh Andik nakal.
Didin yang mendengar ucapan itu segera berlari menghampiri Ajeng dan mendorongnya ke belakang, menjauhkannya dari Andik.
''Gak boleh pelukan sebelum ijab qabul, meski aku ini bukan orang alim, tapi aku tahu itu gak baik.''
Andik mengangguk setuju, ia pun tidak akan melanggar perintah lelaki itu sebelum menikah.
"Aku akan membayar hutangku yang waktu itu.''
''Hutang apa?'' Ajeng balik tanya.
''Dinner.''
__ADS_1
Ajeng baru ingat, bahwa seminggu yang lalu mereka pernah merencanakan makan malam, namun harus gagal karena masalah yang menimpa Ainaya.