
Jihan meminta pulang ke rumahnya sendiri. Ia merasa cemas saat berada di dekat bu Ida. Takut wanita itu akan mencurigainya yang saat ini sebenarnya baik-baik saja. Bahkan, jauh lebih baik dari yang mereka kira.
''Kenapa harus di rumah sendiri?Mama juga bisa merawat kamu, Ji,'' tawar Bu Ida meyakinkan.
Jihan menggeleng sembari tersenyum. Sesekali melirik Haris yang sibuk berbicara dengan seseorang di balik ponselnya.
''Mama gak perlu khawatir, aku baik-baik saja.'' Jihan berjalan pelan menghampiri Bilal yang ada di gendongan suster.
''Baiklah, jika memang itu yang kamu mau mama izinkan. Tapi kalau kamu butuh sesuatu cepetan telepon mama.'' Bu Ida merapikan barang-barangnya dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.
Akhirnya mama menyayangi Jihan juga. Dia gak mungkin menuntut kami untuk punya anak lagi.
Haris tersenyum penuh kemenangan. Kehadiran Bilal adalah sumber kebahagian rumah tangganya bersama Jihan, wanita yang sangat dicintainya.
Haris naik mobil bersama Jihan dan putranya, sementara bu Ida dan pak Indrawan naik mobil lainnya.
Hampir setengah perjalanan menuju rumah, tiba-tiba saja Bilal merintih. Seperti biasanya, bayi itu menjulurkan lidahnya tanda haus.
Jihan segera mengambil botol susu dan menempelkan di bibir mungilnya. Seperti sebelumnya, Bilal pun tak mau memasukkannya justru tangisnya semakin kencang menggema memenuhi ruangan mobil.
"Bagaimana ini, Mas? Dia gak mau.'' Jihan mencoba untuk menenangkan, namun seperti nya bayi itu benar-benar merindukan makanan aslinya.
''Kamu coba lagi!'' titah Haris ikut panik dan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
Jihan mencoba nya lagi seperti perintah sang suami. Namun nihil, Bilal tetap saja tidak mau membuka mulut dan menangis.
''Bagaimana kalau kita ke rumah Ainaya? Aku gak mau Bilal kenapa-napa gara-gara gak mau minum susu,'' ucap Jihan takut.
Haris bingung. Di satu sisi ia pun takut, namun ia juga enggan jika harus mengizinkan Ainaya merawat Bilal.
''Bagaimana kalau kita menyewa orang yang mau menyumbangkan asinya?'' saran Haris asal. Sebab, saat ini hanya jalan keluar itu yang melintas dalam otaknya.
''Memangnya Ainaya ke mana? Kalau dia nganggur ngapain kita cari orang lain,'' tolak Jihan memekik.
Bukan begitu, Ji. Aku hanya gak mau dia tinggal bersama kita. Pasti keadaannya akan semakin kacau.
''Ayolah, Mas!'' Teriakan Jihan membuyarkan lamunan Haris.
''Baiklah, kita akan menjemput Ainaya.'' Terpaksa Haris mengikuti saran dari Jihan, namun juga memutar otak dan mencari cara supaya wanita itu tidak membongkar semuanya.
__ADS_1
Haris menghentikan mobilnya di depan rumah paman. Ia menatap rumah sederhana yang tertutup rapat itu. Kemudian turun setelah meminta Jihan untuk tetap di dalam mobil.
Berjalan lenggang membuka pagar yang terbuat dari bambu lalu masuk.
Pantas saja Ainaya memberikan anaknya pada mas Haris. Ternyata keluarganya orang miskin, kasihan sekali dia. Semoga setelah ini suaminya pulang dan mendapat banyak uang.
Jihan merasa ikut sesak melihat keadaan rumah paman yang jauh dari kata layak.
Pintu terbuka lebar. Bibi yang berdiri di depan Haris membungkuk hormat.
''Ada apa Tuan datang ke sini?'' tanya bibi ramah.
Haris menatap ke arah dalam. Ruangan depan nampak sepi bahkan tidak ada tanda-tanda seseorang di sana.
''Ainaya di mana?'' tanya Haris dengan nada datar.
''Ada di kamar, Tuan. Dia tidur,'' ucap bibi menunjuk ke arah kamar yang ada di bagian tengah.
Haris masuk lalu membuka pintu kamar Ainaya. Kakinya menganyun mendekati Ainaya yang tertidur di atas pembaringan.
''Bangun, Nay!'' ucap Haris menyenggol tangan Ainaya pelan.
Tubuhnya yang terlalu lemah belum sanggup untuk bangun hingga ia hanya diam saja.
''Ada apa kamu ke sini?'' tanya Ainaya lagi.
''Bilal nangis. Dia tidak mau minum susu formula. Dan rencananya aku akan mengajakmu ke rumah untuk menyusui dia selama beberapa hari."
Haris mengucap tujuannya dengan terpaksa. Masih tidak reka jika putranya di asuh wanita itu.
Senyum mengembang di sudut bibir Ainaya.
''Kamu gak bohong kan, Mas? Kamu beneran menyuruh ku untuk menyusui anak kita?'' tanya Ainaya memastikan.
Haris menoleh manatap adanya Ainaya tajam. ''Bukan anak kita, tapi anak ku dan Jihan, jangan berani-beraninya kamu mengakui dia. Atau keluarga ini akan aku hancurkan,'' ancam Haris untuk yang kesekian kali.
''Dan satu lagi.'' Haris mengangkat jari telunjuk nya. Memasang wajah serius dari sebelumnya.
''Jangan panggil aku mas. Panggil aku Tuan. Aku tidak mau Jihan curiga,'' ucapnya tegas.
__ADS_1
Ainaya mengangguk paham.
''Baiklah, aku mengerti. Dia anak kamu dan mbak Jihan, bukan anakku. Dan aku harus memanggilku Tuan layaknya pengasuh.''
Bibi datang dan membantu Ainaya membereskan bajunya. Menyiapkan beberapa kebutuhan wanita itu dari hal yang terkecil sekalipun.
''Maaf, Tuan. Saya hanya ingin mengingatkan. Ainaya baru saja melahirkan dan tidak bisa melakukan beberapa hal seperti mengangkat berat atau sesuatu yang membuat nya kelelahan. Harus dengan hati-hati.'' Bibi memberikan tas yang berisi baju itu pada Haris.
''Aku tahu,'' jawab Haris singkat. Ia membawa tas milik Ainaya keluar dari kamar lebih dulu.
Bibi membantu Ainaya jalan. Sebagai orang tua ia pun tak bisa mengabaikan kondisi sang keponakan yang masih lemah.
''Jaga diri baik-baik. Kalau kamu butuh sesuatu telepon bibi,'' suruh bibi pada Ainaya yang sudah berada di sisi mobil.
''Baik, Bi,'' Jawab Ainaya lalu masuk dan duduk di jok belakang.
Jihan menoleh ke arah Ainaya dan langsung memberikan bayinya yang masih tenggelam dalam tangis. Menutup dengan gorden memudahkan Ainaya untuk membuka bajunya.
''Maafkan mama ya, Sayang,'' ucap Ainaya dengan rasa bersalahnya.
Ia mencoba untuk tidak terlihat menyedihkan, takut Haris marah dengan sikap nya yang berlebihan.
Seketika Bilal terdiam setelah mendapatkan makanan yang sesungguhnya. Seolah merasa nyaman berada di dekapan ibu kandungnya.
''Suami kamu belum pulang, Nay?'' nay Jihan saat mobil mulai melaju.
''Belum, Mbak,'' jawab Ainaya singkat.
Haris pura-pura bodoh dan fokus pada jalanan.
''Sayang banget ya, kamu ditinggal lama oleh suamimu, kalau aku gak mungkin betah.'' Meraih tangan Haris dan menciumnya.
Ciuman itu memang tidak nampak, namun decakan terdengar jelas di telinga Ainaya hingga membuat hatinya meringis sakit.
''Tenang saja, Nay. Kamu menyusui Bilal dibayar kok, karena sekarang dia bukan lagi anakmu, tapi anakku dan mas Haris, terang Jihan.
Ainaya tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mendekap putranya dan menyalurkan rasa rindu yang menggebu.
Setidaknya mama bisa bersama mu, Nak. Apapun yang terjadi mama akan tetap ada di sampingmu.
__ADS_1
Ainaya berjanji, selama diizinkan ia akan tetap berada di dekat Bilal. Ia akan menjadi orang yang pertama kali mengetahui perkembangan bocah itu.