Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Bertemu Ajeng


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Haris merapikan penampilannya lalu keluar dari ruangan. Andik yang melihatnya pun langsung keluar menghampiri sang bos.


''Apa Tuan sudah siap?'' tanya Andik ramah.


Haris mengangguk dan berjalan menuju lift. Seperti biasa, sang asisten mengikutinya dari belakang. Sebuah pemandangan yang menyejukkan mata bagi karyawan saat melihat kedua pria itu. Seakan mereka terhanyut oleh pesona yang dimilikinya.


''Kita ke supermarket terdekat saja, sekalian makan siang,'' perintah Haris sebelum Andik melajukan mobilnya.


Terdengar bunyi notif dari ponsel Haris. Pria itu segera merogoh dan membukanya. Ternyata pesan dari anak buahnya yang bertugas mencari informasi tentang di mana dulu Ainaya bekerja.


Dulu Nona Ainaya bekerja di PT Santoso, Tuan. Dia bekerja sebagai karyawan, ada dua temannya bernama Ajeng dan Lidya, sampai sekarang mereka masih di sana.


Haris memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Ia tahu tempat itu adalah milik salah satu kliennya juga, namun sudah lama tak bekerja sama dengan mereka.


''Setelah dari supermarket kita langsung ke PT Santoso,'' ucap Haris.


Andik mengangguk tanpa suara. Ia pun ingin ke sana karena beberapa saat juga mendapat kabar tentang gadis yang dicari juga bekerja di sana. Mungkin saja memang tujuan mereka sama.


Sebelum berbelanja, Haris menghubungi bu Ida. Menanyakan kebutuhan Bilal dan juga merk-merk barang nya.


''Jangan salah ya, Ris, takutnya nanti Bilal sakit perut,'' tutur bu Ida mengingatkan.


Haris tersenyum, meski saat ini pikirannya sedang kacau, ia masih bisa mengingat dengan jernih dan tidak akan lupa.


Ia masuk menuju di mana tempat susu berada, sedangkan Andik langsung ke tempat popok sekali pakai untuk mempersingkat waktu. Mereka berdua membawa troli dan sibuk memilah milih barang yang akan di beli.


Dalam beberapa menit, Haris dan Andik sudah menjadi pusat perhatian para pengunjung, terutama ibu-ibu dan wanita remaja. Bahkan, mereka saling berbisik di tengah kesibukan dua pria tampan itu.


''Beruntung sekali istrinya, pasti sangat bahagia mempunyai suami perhatian seperti itu.'' Beberapa pegawai pun saling berbisik.


''Iya, sudah tampan mau belanja lagi, jarang ada laki-laki yang kayak gitu,'' timpal yang lainnya.


Andik hanya bisa melirik tanpa berkomentar. Tetap fokus dengan barang yang dibelinya.


Setelah troli penuh, mereka langsung ke kasir untuk membayar. Meminta salah satu pegawai membantunya membawa ke mobil.


Andik menyodorkan kartu di depan kasir, sementara Haris keluar lebih dulu dan menunggu di mobil.


Baru saja duduk, ia melihat Jihan keluar dari mobil mewah yang baru saja parkir. Tak hanya itu, ia juga melihat seorang pria keluar dari mobil yang sama.

__ADS_1


Haris bergegas menghubungi Andik untuk segera kembali dan mengatakan apa yang ia lihat. Namun, sepertinya Jihan tidak masuk ke supermarket melainkan restoran yang ada di sebelahnya.


''Siapa laki-laki itu, apa mungkin dia __"


Haris menghentikan ucapannya, ia tak ingin berprasangka buruk pada wanita uang masih sah menjadi istrinya.


Aku harus mencari bukti lain untuk menceraikan dia.


Haris semakin yakin akan berpisah dengan Jihan. Ia harus mengambil keputusan secepatnya sebelum semua terlambat dan berakhir sia-sia.


Andik memasukkan barang-barangnya ke bagasi dengan bantuan pegawai, kemudian dia masuk ke tempat semula.


''Di mana Nyonya Jihan, Tuan?'' tanya Andik antusias.


''Di restoran depan.'' Menyungutkan kepalanya ke arah mobil yang ditumpangi Jihan.


''Dia dengan laki-laki, entah itu siapa, kamu harus selidiki. Supaya aku punya bukti kuat untuk segera berpisah dengan dia,'' lanjutnya.


Andik mengangguk setuju, ia pun ikut geram dengan kebohongan yang dilakukan Jihan. Sebagai seorang istri perbuatan itu memang tak bisa dimaafkan lagi.


Andik kembali membelah jalanan, tak butuh waktu lama untuk tiba di PT Santosa, hanya sekitar lima belas menit dari supermarket tempat mereka belanja.


''Maaf, Pak. Hari ini pak Anton tidak ada di ruangannya. Beliau ada di luar kota, tapi jika penting Bapak bisa bertemu dengan sekretarisnya atau asisten,'' ucap resepsionis ramah.


Andik manggut-manggut. Matanya menelusuri beberapa karyawan yang melintas. Mengabsen wajah-wajah yang sangat asing, menurutnya.


Kira-kira mereka bekerja di lantai berapa ya, apa aku tanyakan saja.


''Baiklah, kalau begitu saya akan bertemu dengan sekretarisnya,'' ucap Andik kemudian.


Resepsionis mengangguk dan mengantar Andik ke lantai lima, di mana sang sekretaris berada.


Terpaksa ia tetap masuk demi menemukan seseorang yang menjadi kunci keberadaan Ainaya. Sebelum masuk lift, Andik menghubungi Haris yang menunggu di mobil.


''Apa di sini ada karyawan yang bernama Ajeng?'' tanya Andik basa-basi.


''Ada, Pak. Dia karyawan personalia, di lantai lima juga.''


Andik hanya ber Oh ria.

__ADS_1


Aku harus bertemu dengan dia. Bagaimanapun juga dia yang waktu itu keluar dari apartemen dengan Nona Ainaya.


Pintu lift terbuka. Entah, sebuah kebetulan atau memang sudah takdir, wanita dengan wajah yang sama di cctv muncul dari balik ruangan. Andik menghentikan langkahnya sejenak, memutar otak untuk bisa berbicara dengan wanita itu.


''Ajeng,'' panggil Andik dengan suara keras.


Beberapa karyawan yang ada di sekitarnya pun ikut menoleh, termasuk Ajeng. Gadis itu menatap Andik dengan tatapan aneh.


''Ajeng, kamu di panggil.'' Salah satu karyawan menyenggol tangan Ajeng yang nampak bengong.


''Tapi aku gak kenal dia.'' Ajeng berbisik.


''Dia tampan sekali, samperin saja siapa tahu jodoh, bukankah kamu baru putus dari Rendy,'' timpal yang lainnya.


Andik berjalan mendekati Ajeng yang masih kebingungan. Bahkan, gadis itu tak tahu harus bersikap bagaimana. Haruskah tersenyum pada orang yang belum dikenal, atau jujur bahwa ia memang tidak mengenal pria itu. Ah, jadi salah tingkah hingga akhirnya tanpa sadar menerima uluran tangan pria yang tadi memanggilnya.


''Namaku Andik.'' Andik menyebutkan mana.


''Ajeng,'' ucap Ajeng singkat.


''Aku tahu, kamu temannya Ainaya, kan?'' tebak Andik.


Deg


Tiba-tiba saja jantung Ajeng berpacu lebih cepat saat pria yang ada di depannya itu mengucapkan nama sang sahabat.


''Anda siapa?'' tanya Ajeng curiga.


''Aku temannya Ainaya, boleh meminta waktu sebentar, ini kan jam makan siang,'' ucap Andik pura-pura akrab.


Gak mungkin orang jahat bisa masuk ke sini.


Ajeng menormalkan otaknya yang sempat oleng akibat terpana dengan ketampanan seorang Andik. Meski sedikit ada rasa curiga, ia tetap mengikuti pria itu keluar dari kantor.


''Silahkan masuk!'' Andik membuka pintu mobil untuk Ajeng.


Baru saja membungkuk, gadis itu membulatkan matanya melihat sosok yang ada di dalam. Terpaksa ia mengurungkan niatnya.


''Jadi Anda orang suruhan tuan Haris, suaminya Ainaya?'' Ajeng menatap Andik dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


Andik tersenyum tipis, sedangkan Haris langsung keluar.


__ADS_2