
''Maaf, karena aku kamu harus terkena imbasnya. Aku yakin ini semua adalah ulah orang yang membenciku, bukan kamu.'' Haris mengusap tangan Ainaya dengan lembut.
''Kenapa kamu yakin? Kita belum tahu ini murni kecelakaan atau memang disengaja,'' jawab Ainaya. Ia berharap itu murni supaya tak ada permusuhan yang melibatkan musuh dan suaminya.
''Aku ini bukan orang bodoh, Sayang. Aku yakin ini disengaja.'' Haris begitu yakin bahwa luka yang diderita Ainaya adalah unsur kesengajaan.
''Sudahlah, Mas. Lebih baik kamu tidur, sudah malam.'' Mengusap punggung Haris. Menyalakan lampu temaram kemudian mematikan lampu utama.
Dipastikan malam ini tidak akan ada pergulatan mengingat kondisi Ainaya yang belum sembuh.
''Aku lihat Bilal sebentar, kamu tidur dulu.'' Haris berdiri dari duduknya. Menutup sebagian tubuh Ainaya dengan selimut lalu keluar. Sembari membawa ponsel.
Ia tidak akan bisa tidur terlelap sebelum menemukan orang yang ada di balik luka istrinya tersebut. Ia berjalan menuju balkon, menatap jauh kedepan di mana kegelapan itu menguasai langir, hanya ada beberapa bintang yang berkedip.
''Selama ini aku hanya memberi dia rasa sakit, dan sekarang aku tidak akan membiarkan orang lain membuatnya menderita lagi.''
Ponsel berdering membuyarkan lamunan Haris. Lelaki itu segera mengambil dan mengangkatnya.
''Ada kabar apa?'' tanya Haris ke inti.
''Maaf, Tuan. Ternyata wanita itu bukan asli orang sini. Dia berdomisili di Surabaya, dan dari informasi yang saya dengar, di sudah kembali tadi siang naik kereta. Apa saya harus menyusul ke sana?'' tanya suara berat yang ada di ujung telepon.
''Tetap cari dia, aku yakin ini hanya taktik belaka. Pasti dia akan mencari cara lain untuk mencelakai Ainaya atau mungkin yang lain.''
Haris menutup sambungannya. Semakin geram dengan orang yang main kucing-kucingan.
''Kalau kamu memang iri dengan kebahagiaanku, tidak begini caranya, tapi jika iri dengan harta ku, kenapa tidak bermusuhan secara cerdas.''
Melayangkan pukulan ke arah udara, kesal. Namun tak bisa melampiaskan pada siapapun.
Hari turun ke lantai dasar. Menghampiri Bu Ida dan Pak Indrawan yang belum tidur. Duduk di tengah mereka seperti layaknya anak kecil.
''Apa kamu butuh bantuan papa?'' tawar pak Indrawan serius.
''Satu-satunya orang yang menjadi tersangka sudah pergi ke Surabaya, Pa. Aku yakin dia sengaja mengelabui kita.'' Haris memejamkan mata sejenak mengurai kekesalannya yang membuncah.
Entah alah, padahal dulu Jihan pun sering mengalami sakit atau masalah, namun ia tak seperti saat ini. Bahkan, ia merasa sudah gagal melindungi sang istri.
__ADS_1
''Untuk sementara waktu biarkan Ainaya di rumah. Mungkin untuk beberapa hari kamu juga harus di rumah menjaganya,'' pesan Pak Indrawan.
Haris mengangguk setuju, itu memang sudah direncanakan sembari menunggu hasil penyelidikan ke Surabaya. Berharap secepatnya ditemukan dan membuahkan hasil.
''Aku ke kamar dulu, Pa.'' Haris pamit dan kembali ke kamar setelah memeriksa kamar Bilal.
Suara alarm mengusik Ainaya yang masih terasa ngantuk. Terpaksa ia membuka mata dan kembali memeriksa tangannya.
Meski rasa panas itu sudah mulai pudar karena salep, namun bintik merah belum menghilang.
'Kapan aku sembuh?'' gumamnya yang masih bisa didengar Haris yang juga baru membuka mata.
''Dokter Naina bilang satu minggu lagi, sabar saja. Aku yakin akan segera sembuh.'' Mengecup kening Ainaya. Lalu, turun dari ranjang. Meregangkan otot-otot yang terasa kaku seraya berjalan ke kamar mandi.
Sementara itu, Ainaya menyalakan lampu utama dan segera menyusul ke kamar mandi. Ingin terbiasa mandi dengan suaminya.
Terasa begitu hangat mengalahkan dinginnya air shower. Meski tidak ada adegan yang lebih, ia merasa menjadi istri sepenuhnya saat bisa melayani suami tercinta. Mengambilkan sampo, sabun juga handuk seperti permintaannya.
''Pagi ini aku pengen makan lobster.''
Haris yang sudah selesai mandi mengikat handuk di perutnya. Menatap Ainaya yang tampak mengeringkan rambut di depan cermin.
''Ada apa, Den? Request sarapan apa?'' Bibi bergaya seperti anak-anak muda saat meminta sang pedangdut menyanyikan sebuah lagu.
''Lobster asam manis pagi ini juga,'' jawab Haris seperti permintaan sang istri.
Terdengar langkah kaki dari ujung telepon. Lalu bibi berdecak kesal.
''Sayang sekali gak ada lobster, Den. Hanya tinggal cumi dan rajungan sama daging, kebetulan bibi baru belanja nanti siang, gimana atuh?''
Bibi memang orang sunda yang terkadang membawa logat kampungnya, namun juga lebih ke bahasa indonesia.
Haris ber Oh ria. Lalu bertanya pada Ainaya.
''Gak usah, Mas. Yang lain aja,'' jawab Ainaya sedikit kecewa.
''Baik, Bi. Kapan-kapan saja lobster nya, sekarang seadanya saja.''
__ADS_1
Haris mematikan teleponnya dan kembali menelpon seseorang sembari mengoles salep di tangan Ainaya.
''Pagi ini bawakan dua porsi lobster asam manis, cepat sedikit, aku lapar,'' ucap Haris yang langsung di iyakan oleh penerima telepon.
Haris ada Ainaya turun bersama. Mereka langsung ke kamar Bilal. Meski wanita itu belum bisa menggendong, namun tak afdhol jika belum melihat keadaan sang buah hati.
''Mama cepat sembuh ya, nanti kita pergi liburan,'' ucap Haris menirukan suara anak kecil.
''Ada perubahannya gak?'' tanya bu Ida dari arah ruang tengah.
Ainaya menghampirinya dan menunjukkan bintik yang sudah mulai menghitam.
''Kalau rasanya gimana? Masih sakit?'' tanya bu Ida menyelidik.
''Gak, Ma. Tapi sedikit gatal. Ini semalam kayaknya aku garuk pas tidur, jadi berdarah.'' Menunjukkan lecet di bagian kelingking.
''Harus hati-hati, Nay, jangan pakai lotion yang murahan, harus terbukti BPOM nya.''
''Iya, Ma,'' jawab Ainaya singkat.
''Den Haris, pesanan Anda sudah datang.'' Pak Satpam menghampiri Haris dan Bilal yang sudah berada di ruang makan.
''Makasih, Pak.'' Haris menerima kantong kresek yang ada logo rumah makan ternama langganan. Ia meminta bibi untuk memindahkan makanan itu dan memanggil Ainaya.
''Cepat banget.'' Ainya ikut membantu bibi mengambil piring dan membuka kantong kreseknya.
''Yang nganterin kan pesawat,'' jawab Haris asal.
''Handphone Aden bunyi. Apa perlu bibi ambil?'' teriak bibi yang tadi bertugas membersihkan kamar Haris.
''Ambil saja, Bi. Bawa ke sini.'' Haris sedikit berteriak sembari menatap Ainaya yang sudah duduk di kursi ruang makan.
Bibi berlari kecil membawa telepon genggam yang masih berdering lalu memberikannya pada Haris.
''Ajak Bilal sebentar.'' Menggeser lencana hijau tanda menerima.
Namun, ia masih belum bisa bicara dengan orang penelpon karena Bilal mencengkram erat bajunya.
__ADS_1
''Nanti ikut papa lagi ya, Nak. Tenang saja baby.'' Haris mengusap pucuk kepala sang putra dan menempelkan benda pipih di telinganya.
Seketika matanya terbelalak mendengar penjelasan seseorang yang ada di balik telepon, meski suaranya tersendat-sendat dan pelan, ia bisa mendengarnya dengan jelas.