
Pertemuannya dengan Adam memang tidak membuahkan hasil. Klien yang beberapa waktu lalu bergabung dengan perusahaannya itu tidak memberi tahu di mana Ainaya tinggal. Namun, itu tak sulit bagi Haris yang memiliki banyak koneksi orang-orang canggih. Dalam hitungan jam orang suruhannya pun sudah kembali membawa kabar baik.
''Kamu yakin Ainaya tinggal di apartemen ini?'' Haris menandatangani sebuah cek lalu memberikannya pada pria yang sudah setia padanya.
''Iya, Tuan. Tadi saya sudah melihat nya sendiri di sana.''
''Baiklah, sekarang kamu pergi,'' suruh Haris pada ajudannya.
Apartemen itu bukan tempat yang asing karena Haris pun memiliki dua unit di sana.
Aku harus temui Ainaya sekarang.
Haris meninggalkan ruangannya. Ia menghampiri Andik yang nampak sibuk dengan pekerjaannya.
''Aku akan pergi sebentar, nanti kalau ada tamu kamu suruh menunggu.''
Andik mengangguk siap menjalankan perintah sang bos.
Memangnya dia mau ke mana? Apa ini juga ada hubungannya dengan Nona Ainaya.
Akhir-akhir ini Andik bisa menangkap kejanggalan pada diri Haris, namun ia belum bisa memastikan apa penyebab yang sesungguhnya.
Haris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera tiba di apartemen dan bertemu dengan Ainaya.
''Aku harus bicara apa? Tidak mungkin aku bilang kangen sama dia. Pasti dia besar kepala.''
''Bilal, ya aku harus menggunakan Bilal supaya dia mau pulang dan kembali tinggal di rumah.''
Haris menghentikan mobilnya di tempat khusus. Ia langsung masuk menuju unit di mana sang istri tinggal.
Ainaya yang sibuk nonton televisi pun terkejut mendengar ketukan pintu. Memelankan suara tv nya lalu beranjak dari duduknya.
''Baru tiga puluh menit lalu mas Adam pergi, kenapa balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?'' terka Ainaya berjalan ke arah pintu.
"Ada apa, Mas __" ucapan Ainaya berhenti saat melihat sosok yang berbeda dengan dugaannya.
''Tu--Tuan Haris,'' sapa Ainaya gugup.
Keduanya saling tatap hingga beberapa saat.
''Kita pulang, Bilal membutuhkanmu.'' Haris meraih tangan Ainaya. Namun, dengan sigap wanita itu menarik nya kembali, menghindar.
__ADS_1
Menjadi seorang perempuan harus mempunyai prinsip, Nay. Jangan suka menyerah dengan keadaan. Haris sudah membuatmu menderita. Oke, kalian memang punya anak, tapi bukan berarti kamu lemah dan mau menuruti permintaan dia. Harus punya harga diri. Pasang tembok yang kokoh supaya tidak ada laki-laki yang merendahkan.
''Maaf, Tuan. Saya tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Apapun alasannya.'' Aniaya menolak dengan tegas.
''Saya hanya akan datang untuk menjenguk Bilal saja, bukan tinggal di sana,'' lanjutnya lagi.
Haris pun bukan orang yang gampang menyerah dan pergi begitu saja. Ia masih memutar otaknya, mencari alasan untuk membujuk Ainaya.
''Hampir semalaman Bilal gak tidur kamu tega sama dia?'' ucap Haris mengiba.
Setiap bersangkutan dengan Bilal, hati Ainaya kembali lemah. Namun ia tetap dengan pendiriannya, ingin bangkit dari keadaan dan mencari kehidupan baru.
''Mungkin memang belum terbiasa. Tapi saya yakin dua atau tiga malam dia akan tidur nyenyak.''
Ainaya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak ingin Haris melihat matanya yang meremang dipenuhi air mata.
Hanya sekali kedip saja pasti akan luruh.
''Oke, baiklah. Aku hargai keputusanmu. Tapi untuk yang satu ini jangan menolak.''
Ainaya mendongak menatap mata Haris yang memerah.
Mungkinkah dia kurang tidur karena menjaga Bilal seperti yang aku alami?
''Kamu pindah dari sini dan tinggal di apartemenku. Di sini juga kok, tapi di lantai sembilan,'' pinta Haris serius.
Ainaya berpikir lagi.
Cukup, Nay. Jangan tergantung dengan dia lagi. Kamu pasti bisa.
''Maaf, Tuan. Saya gak bisa.'' Ainaya tetap menolak.
Haris sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk. Mungkin saat ini memang belum waktu yang tepat untuk memikat hati Ainaya, namun ia masih berharap di lain waktu.
''Gak papa. Jaga diri kamu baik-baik, permisi.''
Haris memutar badan membelakangi Ainaya. Beberapa detik kemudian ia menatap wanita itu dengan intens. Seolah masih ada sesuatu yang ingin dikatakan namun tertahan di ujung lidah.
Ada senyuman tipis yang terlukis dari sudut bibir Haris. Entah itu sebagai tanda apa. Ainaya merasakan sesuatu yang berbeda di diri pria tersebut.
''Hati-hati,'' ucap Ainaya setelah Haris sedikit menjauh.
__ADS_1
Haris menjawab dengan anggukan dan meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan karena penolakan yang begitu kuat.
Maaf, Mas. Bukan aku tak ingin bersama Bilal, tapi kamu sendiri yang membuat jarak di antara kita, dan aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Hatiku terlalu sakit diperlakukan seperti perempuan murahan.
Menutup pintu dan menyandarkan punggungnya.
Haris berada di fase terburuk, di mana saat ini ia tak bisa melupakan Ainaya. Pikirannya semrawut hingga menyentuh pulpen saja selalu jatuh.
''Tuan tidak apa-apa?'' tanya Andik mendekati.
Haris menggeleng tanpa suara. Tidak biasanya pria itu terlihat lesu tak bersemangat dan itu membuat sang asisten khawatir.
''Apa perlu saya panggilkan dokter, Tuan?'' Andik menyarankan, takut terjadi sesuatu dengan bosnya.
''Gak usah, aku gak kenapa-napa,'' jawab Haris pelan.
Membuka map yang ada di depannya. Mencoba untuk fokus dengan pekerjaan.
''Apa ini karena nona Ainaya?'' tanya Andik untuk yang kesekian kali.
''Iya, dia pergi dari rumah dan tinggal di apartemen milik Adam,'' jawab Haris dengan lugas dan ketus.
Sudah kuduga, tahu begitu kenapa gak dibawa pulang, cibir Andik, namun hanya dalam hati.
Lagi-lagi Andik mempunyai ide untuk membuat bos nya itu semakin kalut.
''Mungkin hubungan mereka sudah dekat, maka nya Nona Ainaya memilih tinggal di tempat nya.''
''Tapi dia masih istriku,'' bantah Haris dengan nada tinggi.
Mulai marah dia. Aku yakin ini tandanya cinta sudah mulai tumbuh.
''Seorang istri seharusnya diberikan fasilitas yang memadai. Disayang, dimanja, bukan selalu dimarahi dan dianggap pengasuh. Begitu saja kok minta diajarin.'' Andik bergegas pergi, takut terkena amukan Haris yang nampak tersulut emosi.
''Dasar asisten gak berguna. Awas saja kalau nanti datang, aku akan pecat dia,'' ucap Haris emosi.
Andik hanya bisa tertawa menggelitik membayangkan kepala Haris yang bertanduk.
Itulah akibat orang yang munafik, lain di bibir lain di hati kalau cinta bilang cinta, kalau tidak ya tidak, gitu aja kok repot.
Andik melanjutkan pekerjaannya, sementara Haris memilih untuk meluapkan amarahnya. Membanting barang-barang yang ada di ruangannya. Semakin frustasi dengan masalah yang membelit.
__ADS_1
Aku bukan orang yang gampang menyerah, Nay. Bagaimanapun caranya aku akan mendapatkan mu lagi. Kamu tidak boleh menjadi milik orang lain termasuk Adam.
Haris mulai mencari cara untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Ainaya pada orang tua nya dan juga Jihan.