
Ainaya membuka mata dengan pelan. Menoleh ke arah Bilal yang ternyata sudah bangun lebih dulu. ''Maafkan mama, Nak. Mama terlambat bangun ya?''
Membuka kancing piyama bagian atas lalu menyusui sang buah hati tanpa pindah posisi.
Ada rasa nyaman saat di dekat bayi itu. Seakan masalah yang membelenggu lenyap seketika jika berada didekatnya.
''Maafkan mama yang tidak bisa membesarkanmu. Tapi mama yakin mama Jihan pasti akan menyayangimu seperti mama,'' ucap Ainaya lirih.
Dari lubuk hati terdalam ia pun tidak ingin pergi. Namun, perjanjian itu memaksakannya harus melakukan itu.
Ceklek
Suara pintu terbuka.
Ainaya bergegas menutup bagian dadanya tanpa menatap seseorang yang datang.
''Maaf, Nay. Ini aku,'' ucap Jihan mengiringi.
Ainaya tersenyum lalu kembali menyusui Bilal.
''Maaf, Bu. Ada apa?'' tanya Ainaya tanpa terbangun.
Jihan mendekat kemudian duduk di sofa. ''Gak ada papa sih? Aku cuma mau lihat Bilal saja. Bagaimana tidurnya? Apa semalam nyenyak? Lalu bagaimana dengan dot nya?'' tanya Jihan bertubi-tubi.
''Sudah lumayan, Bu. Semalam juga gak rewel, saya yakin dalam wktau dekat dia sudah terbiasa,'' terang Ainaya dengan gamblang.
Jihan tersenyum. Sepertinya ia pun juga harus belajar merawat Bilal. Terlebih tercium bau-bau keanehan dengan sikap Haris semalam.
''Apa selama ini mas Haris baik sama kamu?'' tanya Jihan menyelidik.
Ainaya memutar bola mata nya.
Apakah selama ini bu Jihan tidak tahu bahwa mas Haris membenciku. Jika tahu kenapa masih bertanya seperti itu.
''Maksud Ibu?'' tanya Ainaya balik.
''Maksudku. Apa mas Haris memang sering __" Jihan menghentikan ucapannya saat mendengar suara dentuman sepatu dan lantai dari tangga.
Ia segera berdiri dari duduknya dan mengambil Bilal lalu membawanya keluar.
Sementara Ainaya masih bingung dengan maksud Jihan tadi.
Mas Haris gak pernah baik padaku, Bu. Dia sangat membenciku dan ingin aku segera pergi dari sini. Jika ibu butuh jawaban, maka itulah jawabannya.
Ainaya merapikan selimut lalu ikut keluar.
__ADS_1
''Anak papa belum mandi ya?'' goda Haris yang sudah rapi dengan setelan kantornya.
''Belum, Pa. Baru bangun,'' timpal Jihan menirukan suara anak kecil.
Ainaya ke belakang dan meletakkan baju kotor si kecil di tempatnya. Ia segera ke kamar sebelum nanti sibuk dengan Bilal lagi.
Duduk di tepi ranjang dan menatap koper yang sudah dipenuhi baju dengan tatapan nanar.
Sebentar lagi aku akan pergi dari sini, itu artinya aku jarang sekali bertemu dengan Bilal, bahkan hampir tidak pernah. Tapi aku harus bisa demi kebaikan semuanya.
Ainaya mengusap air matanya yang sempat lolos. Meskipun berat, ia akan tetap pergi demi meraih kebahagiaan yang sesungguhnya.
Terdengar suara berisik dari arah dapur membuat Ainaya mengernyitkan dahi.
Siapa itu? bukankah bu Jihan dan mas Haris ada di depan?
Ainaya mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka. Matanya terbelalak melihat sang suami menyalakan kompor.
Ngapain mas Haris berebus air sendiri?
Ainaya keluar dan mendekati pria itu.
''Maaf, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?''
''Kamu bisa beli yang lebih bagus. Kayaknya itu sudah gak layak dipakai,'' ucap Haris asal.
Ia merogoh saku celana dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu pada sang istri.
''Terima lah, anggap saja ini nafkah dariku. Karena bagaimanapun juga kamu masih istriku,'' ucapnya pelan sembari celingukan. Mungkin takut Jihan mendengarnya.
Jemari Ainaya menggulung dan berbentuk kepalan. Kepalanya menunduk ke bawah hingga beberapa helai rambut menutupi pipinya. Melangkah mundur sedikit menjauh kemudian menggeleng.
''Gak papa, Nay. Terima saja! Bukankah kamu banyak keperluan. Lagipula sekarang kamu masih tanggung jawabku,'' ucap Haris dengan suara yang masih mode pelan namun mendesak.
Selama menjadi istri dari Haris. Ini pertama kali pria itu memberikan uang dengan cara lembut. Sebelumnya Ainaya akan menerima uang diiringi dengan bentakan dan ocehan, namun saat ini layaknya seorang suami sungguhan.
Lama tak mendapat respon membuat Haris geram. Ia meraih tangan Ainaya dan menyerahkan uang itu.
''Nanti aku akan kirim ke rekening kamu. Sekarang buatkan aku kopi.'' Haris kembali ke ruang makan, sedangkan Ainaya menjalankan perintah sang suami tanpa membantah.
Ia memasukkan uang itu ke dalam saku piyama sebelum meracik kopi didalam cangkir.
Kenapa akhir-akhir ini mas Haris baik padaku? Apa ada niat yang terselubung lagi. Memangnya apa yang ingin ia ambil dariku. Semuanya sudah dirampas, bahkan dia sudah mengambil satu-satunya barang berharga dariku.
Ainaya mengaduk kopi yang sudah dituang air panas lalu memberikannya pada Haris.
__ADS_1
''Tuan gak sarapan?'' tanya Ainaya pelan.
Haris tersenyum dan itu adalah senyuman paling manis semenjak mereka bertemu.
''Gak usah, hari ini aku akan berangkat pagi. Aku juga sudah memesan makanan untuk kamu dan Jihan.''
Lagi-lagi Ainaya merasa diistimewakan. Entah apa maksudnya, ia pun belum mengerti sepenuhnya. Namun, tak ingin besar kepala, takut itu hanya sebuah sandiwara seperti yang sedang mereka lakoni saat ini.
''Kamu cepetan mandi, ganti baju. Aku akan pergi setelah kamu jaga Bilal.''
Ainaya mengangguk cepat lalu ke belakang dengan membawa kebingungan nya.
Mas Haris kesambet dimana ya?Kenapa dia baik padaku? Apa dia sudah mendapat hidayah dari Allah supaya gak jahat lagi padaku.
Bodo amat, Ainaya tak peduli. Ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Memakai baju pemberian bu Ida. Dress Sslutut berwarna lavender itu nampak pas di tubuh nya. Wajahnya terlihat lebih cerah dan cantik meskipun hanya bermake up tipis.
''Selera orang kaya mah jauh berbeda.''
Memutar tubuhnya di depan cermin. Memastikan bahwa penampilannya tak buruk.
Setelah puas memuji dirinya sendiri, Ainaya keluar. Ia segera menemui Haris yang ada di gendongan Bilal.
''Saya sudah selesai, Tuan,'' sapa Ayu dari arah belakang.
Haris memutar tubuh, terkejut melihat penampilan Ainaya yang sangat cantik. Bahkan, matanya lupa untuk berkedip.
Mas Haris kenapa? Apa wajahku seperti badut? Tapi sepertinya bedak yang aku pakai gak terlalu tebal?
Jika di depannya ada kaca, Ainaya ingin segera melihat wajahnya, tapi sayang ia hanya bisa menebak-nebak saja.
''Apa saya terlalu aneh memakai baju ini, Tuan?'' tanya Ainaya membuyarkan lamunan Haris.
Pria itu menggeleng cepat.
''Gak kok, gak ada yang aneh. Sekarang kamu ajak Bilal, aku sudah terlambat.''
Haris mengalihkan pembicaraan, takut Ainaya melihat wajahnya yang kini diselimuti rasa kagum.
''Da--da, Sayang. Papa pergi dulu ya.'' Haris mencium kedua pipi Bilal bergantian lalu pergi.
Setibanya di ambang pintu, ia menoleh menatap punggung Ainaya yang berjalan menuju kamar.
Aku ini mikir apa sih? istri ku cuma Jihan. Sampai kapanpun hanya ada dia. Jangan mikir yang aneh-aneh.
Menepis perasaannya yang bercampur aduk tak karuan
__ADS_1