Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Mencari tahu


__ADS_3

Hari ini Ainaya dipaksa melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Dimana hati seorang ibu teriris perih menjalar hingga ke seluruh tubuh saat ia mencoba untuk memberikan asi lewat dot.


Seolah ia adalah ibu yang paling jahat sedunia. Namun apa daya, itu tak bisa di hindari lagi mengingat perjanjian yang sudah tertulis. Terlebih, ia juga harus segera pergi dari rumah itu untuk menjalani kehidupan barunya.


''Maafkan mama ya, Nak. Mama lakukan ini demi kebaikan mu,'' ucap Ainaya lirih mencium pipi Bilal yang terus menjulurkan lidahnya. 


Hampir lima belas menit, Ainaya tak berhasil juga dan terpaksa meminta bantuan Jihan. 


''Bagaimana kalau dia tidak mau, Bu?'' Ainaya mulai merasa kasihan pada Bilal yang dari tadi hanya bisa merintih. 


Jihan menggeleng, pusing jika harus dihadapkan dengan bayi. Jika bukan karena mempertahankan pernikahannya, mana mungkin ia mau merawat bayi seperti saat ini. Menjengkelkan.


''Pokoknya kamu atur saja bagaimana baiknya.'' Jihan memasrahkan Bilal pada Ainaya. Lalu pergi ke kamar. 


''Ini gak bisa dibiarkan, kasihan Bilal. Aku harus menyusuinya.''


Ayu membawa Bilal ke kamar dan menyusuinya. Mengabaikan perintah Haris karena takut bocah itu sakit. Pasti akan lebih merepotkan.


''Apa Bilal sudah mau minum susu dari dot?'' tanya Haris yang masih merapikan rambutnya di depan cermin. 


''Belum, dari tadi dia nangis terus aku suruh Ainaya menyusuinya lagi,'' ucapnya santai. 


Haris menarik napas dalam-dalam. Kembali memutar otak untuk memisahkan antara Ainaya dan Bilal. 


''Sudah lah, Mas. Biarkan saja Ainaya bekerja di sini. Toh suaminya juga belum pulang,'' lanjut Jihan. 


Tapi masalah nya dia itu istriku, Ji. Dan aku gak bisa terus menerus seperti ini. Aku gak tahu bagaimana reaksimu saat mengetahui itu, dan sebelum semua itu terjadi aku akan menjauhkannya dari keluarga kita. 


Haris memakai jam di pergelangan tangan lalu keluar. Samar-samar ia mendengar suara Ainaya sedang berbicara. 


Ainaya berbicara dengan siapa? Apa mungkin ada tamu yang datang?


Haris bergegas turun. Ia berhenti di sudut tangga saat melihat Ainaya yang ada di sofa kamar berbicara dengan benda pipihnya.

__ADS_1


''Ini aku lagi ngajakin Bilal, Mas. Kamu sendiri gimana kabarnya?'' tanya Ainaya pada seseorang yang ada di balik ponsel. 


Mas, apa dia punya kakak? Atau jangan-jangan __


''Ya sudah, nanti kita ketemu. Tapi untuk sekarang jangan dulu,'' larang Ainaya mengingat keadaanya yang masih terombang-ambing. 


''Makasih kamu sudah meluangkan waktu berbicara denganku. Salam untuk semua keluargamu," ucapan itu terdengar jelas di telinga Haris yang  berdiri tak jauh dari Ainaya berada.


Siapa dia? Dari nada bicaranya sepertinya laki-laki itu akrab banget dengan Ainaya. 


Haris berdehem membuyarkan Ainaya yang melamun. 


Ainaya hanya menoleh tanpa menyapa. Kembali fokus pada Bilal yang sibuk memasukkan tangannya ke dalam mulut. 


Tidak ada percakapan, Haris langsung pergi karena pagi ini ada urusan penting.


Ini yang kamu mau kan, Mas? Oke, dua bulan nanti aku akan pergi dan menjalani hidup baruku bersama orang-orang yang memang benar tulus mencintaiku, bukan karena menginginkan sesuatu dariku.


Haris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak mempedulikan keselamatannya yang kini terancam.


Haris duduk di kursi kebesarannya lalu membuka laptop yang ada di depannya. Ingin sekali mengalihkan pikirannya. Akan tetapi, jarak jauh pun tak mampu memisahkan. Bayangan wajah cantik Ainaya terus melintas menghantuinya. 


Apa jangan-jangan laki-laki tadi adalah pacar nya? tanya Haris dalam hati. Menutup laptopnya lagi. 


Andik masuk dan berdiri disamping meja. 


''Kamu cari tahu masa lalu Ainaya. Apa sebelumnya dia sudah punya pacar apa belum,'' perintah Haris tanpa basa-basi. 


Baik", Tuan." Andik menjawab dengan lugas.


''Tumben banget peduli dengan urusan Ainaya, biasanya cuek.'' Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Meskipun sedikit mengganjal namun Andik tetap menjalankan perintah. 


Haris memilih untuk memejamkan mata. Percuma ia memaksakan diri untuk bekerja, faktanya otaknya saat ini tak bisa berfungsi dengan normal. Butuh sesuatu yang mungkin bisa membuatnya bangkit. Apa lagi akhir-akhir ini Haris sering bertengkar dengan Jihan. Pasti butuh refresing dan menghirup udara segar.

__ADS_1


Seharusnya aku senang jika ada yang mencintai Ainaya, tapi kenapa aku bingung seperti ini? sebenarnya ada Apa dengan ku?''


Haris tak mengerti dengan jalan pikirannya, seakan tak sesuai dengan isi hatinya saat ini. Ingin menjauh namun tak rela, begitu juga sebaliknya. 


Hampir tiga jam Andik meninggalkan kantor, kini ia kembali membawa beberapa kabar yang diketahui dari sahabat Ainaya. 


''Ada kabar apa?'' tanya Haris tanpa membuka mata.


Andik menghela panjang sebelum ia menceritakan kabar yang ia dapat. 


''Ternyata sebelum menikah dia bekerja di PT Berlian. dia juga mempunyai pacar yang bernama Zian, tapi aku dengar mereka sudah putus karena Ainaya dipaksa bibi dan paman menikah dengan, Anda."


Berhenti sejanak untuk mensuplay oksigen karena runagan itu terasa semakin panas akibat kobaran api yang hampir menyambar.


''Selebihnya dia adalah perempuan baik dan pendiam. Dia juga cerdas. Itu saja yang saya tahu.''


''Apa selain laki-laki yang bernama Zian tidak ada yang lainnya?'' tanya Haris menyidik.


Kayaknya ngerjain Tuan Haris lucu juga.


''Itu yang terakhir, Tuan. Ada beberapa laki-laki yang dekat dengan Nona Ainaya. Akan tetapi mereka ditolak. Aku gak nyangka jika nona Ainaya itu ternyata bunga kampus. Bahkan ada beberapa bos besar yang menyukainya juga. Mungkin setelah bercerai dari Tuam dia akan mendapatkan laki-laki yang kaya raya dan baik hati.''


Andik cekikikan dalam hati melihat perubahan di wajah Haris. Pria itu sudah jelas tersulut emosi mendengar penjelasan dari Andik yang sebagian adalah kebohongan.


 


Sedangkan Haris, ia pura-pura tetap tenang meskipun dalam hati sudah luap-luap.


''Apa Anda butuh sesuatu, Tuan?'' tanya Andik lebih mendekat.  


Haris menggeleng tanpa suara. Untuk saat ini ia tak butuh apapun kecuali kesendirian. 


''Kalau begitu saya permisi, masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.'' 

__ADS_1


Andik pergi dari ruangan Haris dengan membawa kebahagiaan. Ia berhasil membuat sang bos kalang kabut. Se cerdik kancil sekalipun pria itu tidak akan pernah bisa menyembunyikan kekesalannya dari seorang Andik.


Mungkin dengan begini kamu akan berpikir lagi untuk mengambil keputusan. Ainaya wanita yang baik. Dia tidak pernah menuntut apapun seperti Jihan. Hanya orang-orang terpilih yang akan mendapatkan wanita itu. Saya harap Tuan tidak menyia-nyiakan dia.


__ADS_2