
Hampir tiga puluh menit Ainaya hanya terdiam sambil menikmati pelukan hangat itu. Ia merasa damai berada di dekapan sang suami. Seolah ini adalah tempat ternyaman yang pernah ia rasakan semenjak menjadi istri dari seorang Haris Mahendra. Sungguh, tak menyangka hatinya setenang saat ini, bahkan masa lalu yang sering diungkit pun ikut lenyap dari ingatan. Bukankah ini hal yang sangat aneh?
Tangannya mengulur menyentuh jemari Haris dan mengusapnya lembut. Sontak, itu membuat sang pemilik terkejut dan membuka mata setelah beberapa menit terpejam.
''Kamu belum tidur, Nay?'' tanya Haris berbisik, jaraknya yang terlalu dekat membuat pergerakan Ainaya tercekat hingga ia hanya bisa mengangguk.
''Apa aku mengganggumu?'' Lagi, Haris merasa bersalah karena sudah mengajak Ainaya tidur bersama.
Ainaya menggeleng tanpa suara. Membungkam mulut Haris dengan satu tangannya. Sedangkan yang satu mencengkeram erat kancing piyama.
''Apa mama gak kasih kabar tentang Bilal, Mas?'' tanya Ainaya serius.
Haris meraih ponselnya yang ada di nakas. Membuka layarnya. Ada beberapa pesan masuk, namun satupun tidak ada dari bu Ida.
''Mungkin mama tidur di rumah tante Riya, biasanya kalau kemalaman memang begitu,'' ucap Haris asal dan kembali meletakkan ponselnya di tempat semula.
Bahas apa lagi, ya.
Ainaya kehabisan kata-kata hingga ia memilih untuk kembali diam sembari memainkan kancing sang suami.
''Ini sudah hampir jam sepuluh, kok kamu belum tidur. Biasanya tidur jam berapa?'' Haris mengusap kening Ainaya seperti yang sering ia lakukan pada Bilal. Berharap wanita itu nyaman berada di sampingnya.
''Gak pasti, kadang jam delapan, kadang juga larut malam, tergantung capek apa gak.'' Tak sengaja Ainaya meraba leher Haris yang membuat sang empu kegelian dan tertawa.
''Mau begadang?'' tanya Haris sambil menahan geli yang semakin menyeruak, karena kali ini tak hanya di leher, melainkan sudah menyusup ke dalam piyama dan menyentuh dada bidangnya.
''Boleh,'' jawab Ainaya menggoda.
Entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya ingin bercanda dengan Haris, mungkin itu menjadi celah supaya hubungan mereka lebih dekat lagi.
''Apa warna kesukaan kamu?'' Haris membuka suara. Terdengar konyol atau tidak, ia belum tahu cara bercanda dengan istri kecilnya itu.
''Putih seperti tirai yang terpasang itu.'' Menunjuk tirai jendela yang bergerak-gerak karena terpaan angin dari luar.
__ADS_1
''Kalau makanan kesukaan kamu, apa?'' tanya Haris berlanjut.
''Yang sederhana apa yang mahal? Karena aku bisa menyesuaikan tempat juga. Selama suamiku berduit, aku mau makan yang enak-enak, tapi jika seandainya suamiku miskin, aku juga mau makan seadanya,'' canda Ainaya.
Haris menangkup kedua pipi Ainaya dan menatap manik mata nya dengan intens.
''Katakan saja semuanya, pasti akan aku belikan,'' ucapanya mengiringi.
Ainaya menyebutkan beberapa menu makanan dari hotel berbintang, juga makanan kampung yang sering ia makan saat tinggal di rumah bu De.
''Wah, ternyata istriku doyan makan.'' Ainaya terkekeh, mencubit pelan pinggang Haris yang membuat sang empu meringis kesakitan.
''Gak juga, aku cuma nunjukin makanan yang aku suka,'' kilah Ainaya. Sebenarnya ia pun suka menjajaki kuliner ke berbagai daerah, hanya saja tak memiliki kesempatan untuk itu.
Wajahnya sudah mulai merona saat Haris terus menatapnya tanpa berkedip. Meski di bawah pencahayaan temaram, tak menyurutkan penglihatan keduanya.
Mungkin ini saatnya aku mengizinkan mas Haris untuk menyentuhku. Tapi bagaimana caraku memulainya. Gak mungkin kan aku menawarkan diri, malu.
Ainaya memutar otak, mencari cara supaya Haris melakukannya tanpa disuruh.
''Apa kamu lapar?'' tanya Haris.
Ainaya menggeleng. Membuka kancing baju milik sang suami bagian atas. Meraba dadanya yang ditumbuhi bulu halus.
Pertanda apa ini
Haris menangkap ada sesuatu yang diharapkan wanita itu, namun ia belum bisa melakukan lebih, takut salah dan membuat sang istri marah.
Masa sih gak bisa membaca kode dariku.
Ainaya kesal saat tak mendapat respon dari Haris. Padahal, ia sudah sangat siap menjalankan tugasnya malam ini, namun sepertinya lelaki itu memang tak paham dengan apa yang dimaksud.
Apa yang harus aku lakukan. Haris mengigit bibir bawahnya. Menahan sesuatu yang sudah memberontak menendang celana nya. Sungguh perbuatan Aniaya membuatnya tersiksa lahir batin.
__ADS_1
Saking tak betahnya, Haris membuka mata lalu mengecup kening Ainaya dengan lembut dan lama.
''Apa kamu sudah siap melakukannya malam ini?'' tanya Haris berbisik.
Ainaya mengangguk malu lalu memejamkan matanya.
Haris tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, ia langsung menyambar bibir Ainaya dan melihatnya. Beralih posisi berada di atas sang istri.
Menggunakan kedua lututnya untuk menopang tubuh supaya tak menindih sepenuhnya. Menghentikan ciumannnya sejenak untuk mengatur posisi yang lebih nyaman.
''Jangan terlalu kasar,'' ucapnya mengiba.
Disaat mendengar itu, hati Haris merasa tersayat dan nyeri mengingat malam pertama mereka yang diwarnai isak tangis Ainaya karena kesakitan akibat ulahnya yang brutal. Namun ia bisa apa, semua itu sudah terjadi dan tak bisa diulangi. Hanya cinta tulus yang mampu menebus semuanya.
''Aku gak akan kasar lagi, tapi mungkin malam ini juga akan terasa sakit karena kamu habis melahirkan.''
''Kok kamu tahu?'' tanya Ainaya menyelidik.
''Ada beberapa temanku yang mengatakan seperti itu. Kata mereka istrinya mengeluh sakit saat berhubungan habis melahirkan, tapi aku akan melakukannya dengan pelan.''
Ainaya mengangguk paham. Ia pun kembali menerima perlakuan lembut dari Haris. Pasrah apa yang akan dilakukan lelaki itu padanya.
Malam semakin sunyi mencekam, dinginnya menusuk tulang, namun di kamar itu terasa semakin memanas saat dua insan mulai bermandikan peluh. Suara erangan dan ******* menghiasi ruangan yang berdiameter sepuluh kali sepuluh meter tersebut. Sungguh tidak ada kata kata yang mampu mewakilkan kenikmatan itu.
Ini pertama kali Ainaya merasa ada sesuatu yang akan keluar dari perutnya hingga kedua tangannya mencengkeram kuat punggung Haris. Wajahnya merona antara malu dan puas bercampur aduk membuatnya bagaikan melayang ke angkasa.
Apa apaan ini? Apa aku sudah gila.
Ainaya bingung dengan dirinya sendiri karena tak ingin mengakhiri pertempuran itu. Sedikitpun tak melepaskan rangkulannya dari tubuh sang suami yang mulai ambruk di atasnya karena beberapa detik yang lalu juga menyemburkan laharnya ke dalam rahim sang istri.
Keduanya saling mengatur napas yang masih memburu. Haris mengusap kening Ainaya yang dipenuhi dengan keringat lalu menciumnya. Sungguh, malam ini seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.
''Terimakasih istriku,'' ucapnya mengiringi.
__ADS_1
Ainaya tersipu dan melengos, tak berani menatap Haris jika teringat lenguhannya tadi, pasti lelaki itu akan menggodanya karena sudah terlalu menikmatinya.
Siap-siap untuk ronde selanjutnya, Sayang.