Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Pura-pura tidak kenal


__ADS_3

Berbeda dengan Ainaya yang nampak santai, Haris mendadak panik mendengar pertanyaan Jihan. Otaknya berkelana memikirkan jawaban yang tepat. Tidak ingin istri pertamanya itu tahu tentang pernikahannya yang tersembunyi. 


"Suamiku bekerja di luar negeri, Mbak," jawab Ainaya setelah beberapa menit kemudian. 


Haris sedikit lega, setidaknya jawaban itu menyelamatkan dirinya dari mara bahaya yang kemungkinan akan terjadi. 


Jihan hanya O ria melihat jam yang melingkar di tangannya. Lalu, menatap Haris yang berdiri di belakangnya. 


"Kita pulang, Mas. Aku capek," pinta Jihan penuh harap. 


Haris mengangguk setuju. Mereka berpamitan dengan Ainaya lalu keluar dari ruangan itu. 


Sepanjang perjalanan menuju lobi, Haris tak bisa berpikir tenang. Takut jika suatu saat Ainaya membongkar semuanya, pasti rencana yang sudah tersusun rapi akan menjadi kacau. 


Aku yakin Ainaya ingat dengan perjanjian itu. 


"Sayang, aku lupa kasih uang ke Ainaya untuk biaya rumah sakit. Kamu tunggu di mobil aku akan segera kembali," ucap Haris meyakinkan. 


Jihan mengangkat jempolnya. Sedikitpun tak merasa curiga dengan ucapan suaminya. Ia segera masuk ke mobil menunggu Haris kembali. 


Haris bergegas ke ruangan Ainaya. Nampak wanita itu merapikan penampilannya yang sudah rapi. 


"Apa ada yang ketinggalan?" tanya Ainaya pada Haris. 


Haris menggeleng, kakinya terus melangkah mendekati Ainaya yang berdiri di samping ranjang. 


"Aku harap kamu masih ingat dengan perjanjian kita," kata Haris dengan tegas. 


Ainaya tersenyum. 


"Terlalu banyak perjanjian di antara kita. Sekarang jelaskan! Mana yang harus ku ingat?" Ainaya seolah menantang Haris. Sebagai seorang istri yang tak di akui ia pun sedikit kecewa. Namun apa daya, itu sudah menjadi suratan yang tertulis di atas materai. 


"Jangan pernah mengatakan pada siapapun tentang pernikahan kita. Cukup keluargamu dan aku yang tahu." Haris kembali menjelaskan. 


Ainaya meriah tas nya kemudian menatap mata Haris dengan lekat. Terlihat jelas tidak ada sehelai pun cinta untuknya.


"Aku tidak akan melupakan itu, tenanglah. Permisi." 


Ainaya melewati tubuh tegak sang suami yang masih mencerna ucapannya. Ia pergi dengan kekecewaan yang mendalam. 


"Tunggu!" pekik Haris menghentikan langkah Ainaya yang sudah tiba di ambang pintu. 


Haris membuka dompet dan mengeluarkan berapa lembar uang. Meghampiri Ainaya yang terdiam tanpa menoleh. 


"Ini untuk belanja kebutuhan kamu." Menyerahkan sejumlah uang di depan Ainaya. 

__ADS_1


Tanpa banyak pikir Ainaya langsung menerima uang itu. Sebab, ia sangat membutuhkannya mengingat bahan makanan di rumah habis. 


"Terima kasih." Melanjutkan langkahnya meninggalkan Haris yang menatap punggungnya. 


Ainaya langsung ke supermarket. Sementara Haris mengantar Jihan pulang ke rumah. 


Seperti biasa, Ainaya tak hanya belanja makanan pokok. Ia juga membeli beberapa cemilan sehat yang boleh dikonsumsi ibu hamil. Tak lupa membeli susu dan buah untuk persiapan sehari-hari. 


"Tumben dia baik padaku?" Ainaya mendorong troli. Memilih-milih sesuatu yang ada di rak. 


"Apa jangan-jangan ini sogokan supaya aku tidak berbicara macam-macam dengan Mbak Jihan?" terka nya. 


"Bodo amat, hidupku sudah cukup susah. Dan aku tidak mau anakku merasakan apa yang aku rasakan."


Ainaya kembali fokus berbelanja. Tanpa sengaja ia melihat seseorang yang tak asing berdiri tak jauh darinya. 


"Tante Ida," panggil Ainaya dengan suara lembut. 


Sang pemilik nama seketika menoleh dan tersenyum. Menghampiri Ainaya yang juga berjalan ke arahnya. 


"Kamu belanja juga?" tanya Bu Ida mengabsen barang belanjaan Ainaya. 


"Iya, Tante. Tadi suami baru kasih uang dan menyuruhku belanja," terang Ainaya jujur. 


"Di mana suami mu sekarang?" tanya Ida celingukan. 


"Dia tidak ikut, Tante," Jawab Ainaya dengan cepat. Ia tidak ingin orang lain berburuk sangka pada suaminya yang kini berada dengan istri pertamanya. 


"Sayang banget, padahal ibu ingin berkenalan dengan dia," ujar bu Ida dengan penuh penyesalan. 


Ibu sudah mengenal dia. Karena suamiku adalah putra ibu, ucap Ainaya dalam hati. 


Hampir semua kebutuhan Ainaya terpenuhi. Uang yang diberikan Haris pun masih tersisa. Ia keluar dari supermarket dan berdiri di tepi jalan menunggu angkot. 


Bertepatan dengan itu Bu Ida keluar. Matanya langsung menatap Ainaya yang berdiri di bawah terik dan diselimuti dengan polusi. 


"Ainaya," panggil bu Ida dengan keras. 


Ainaya menoleh, meskipun terdengar samar-samar, ia yakin namanya yang dipanggil. 


Ainaya tersenyum ke arah bu Ida yang melambaikan tangan. Ia menghampiri wanita itu. 


"Ada apa, Tante?" tanya Ainaya meletakkan kantong kresek di bawah. 


"Ikut Tante yuk, kita jalan-jalan dulu!" ajak bu Ida berjalan ke arah mobil yang masih berada di tempat parkir. 

__ADS_1


Ainaya menggeleng. "Gak susah, Tante. Nanti merepotkan." 


Bu Ida menarik tangan Ainaya. Tanpa persetujuan wanita itu, ia langsung membukakan pintu lalu mempersilahkan masuk. 


Tak ada penolakan lagi. Ia mengikuti permintaan sang mertua yang sedikit konyol. 


"Kita langsung pulang, Pak!" suruh Bu Ida pada sang sopir yang mulai sibuk melajukan mobil. 


Ainaya membulatkan matanya. Ingin sekali protes, namun apa daya ia sudah terlanjur dan tak bisa mundur lagi. 


"Nanti aku akan kenalkan kamu dengan menantu tante." Bu Ida menepuk punggung tangan Ainaya dengan pelan. 


Dari raut wajahnya nampak bahagia saat bercerita tentang kehamilan Jihan. 


Tak berselang lama mobil berhenti di depan rumah mewah. Mereka turun bersamaan, matanya menyusuri bangunan yang ada di depannya. 


"Ayo masuk!" Suara Bu Ida membuyarkan lamunan Ainaya. 


Ternyata ini rumah orang tua mas Haris. 


Ainaya mengikuti langkah Bu Ida. Ayunan kakinya berhenti saat melihat Haris dan Jihan saling suap-suapan. Mereka terlihat sangat mesra dan romantis hingga membuat Ainaya iri. 


"Ke sini, Nay," teriak bu Ida. 


Seketika Jihan dan Haris menoleh ke arah sumber suara. Mereka saling tatap dengan pikiran masing-masing. 


Kenapa Ainaya bisa datang ke sini dengan mama? Jangan-jangan dia akan membongkar semuanya. 


Haris berdiri dari duduknya. Ia takut Ainaya berbicara macam-macam pada sang mama. 


Pasti suasana akan semakin runyam jika itu sampai terjadi. 


"Kenalkan ini anak dan menantu Tante, Bu." Ida menunjuk Haris dan Jihan bergantian. 


Mereka saling diam seraya mengulurkan  tangannya ke arah Ainaya. Pura-pura tidak saling mengenal satu sama lain. 


"Jihan," ucap Jihan saat Ainaya menerima uluran tangannya. Begitu juga dengan Haris, ia melakukan hal yang sama. 


"Dia juga hamil." Mengelus perut Jihan dengan lembut. 


Berbeda ketika di rumah sakit tadi yang nampak rata, saat ini perut Jihan terlihat lebih buncit layaknya orang mengandung. Bahkan, ukuran perut kedua istri Haris itu hampir sama. 


Sebenarnya ada apa ini? 


Ainaya mulai bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa ada yang menjanggal antara Jihan dan Haris. Mereka nampak gugup saat Bu Ida kembali membahas pasal kehamilan.

__ADS_1


__ADS_2