Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Berubah


__ADS_3

Haris dalam dilema. Pikirannya keruh setelah mendengar masa lalu Ainaya dari Andik. Tak menuntut kemungkinan bahwa seseorang yang berbicara dengan sang istri tadi pagi lewat telepon adalah pacar wanita tersebut. 


Tangisan Bilal membuyarkan otak Haris yang saat ini berkelana. Ia bergegas ke kamar untuk melihatnya. Menghampiri ranjang. Mendekati sang putra yang menendang-nendangkan kaki, sedangkan tidak ada siapapun disana. 


"Sebentar, Sayang. Mama __" Ainaya yang baru saja keluar dari kamar mandi menghentikan ucapannya saag melihat Haris ada di tepi ranjang. 


"Maaf, Tuan. Tadi saya salah bicara," ralat Ainaya dengan berat hati. 


Haris terdiam menatap penampilan Ainaya yang sedikit berbeda. Jika biasanya tak pernah ber make up dan hanya memakai daster rumahan, kali ini dia tampak cantik dengan parasnya yang kalem juga bajunya yang lumayan seksi. Apalagi setelah melahirkan tubuhnya lebih berisi dan sangat menggoda iman. 


Kenapa Dengan mas Haris, tumben dia gak marah. 


"Maaf, Tuan. Saya mau bicara," ucapan Ainaya lagi-lagi membuyarkan Haris yang hampir tenggelam dalam lamunan. 


"Bicara apa?" Haris menggeser tubuhnya saat Ainaya berjalan ke arah ranjang. Memberi ruang pada wanita itu untuk duduk di samping Bilal. 


"Sepertinya setelah empat puluh hari nanti saya akan langsung pergi dari sini. Saya harap Tuan dan Bu Jihan merawat Bilal dengan baik."


 Haris menatap Ainaya dengan tatapan curiga. Teringat dengan ucapan Andik saat di kantor. 


"Apakah ini ada hubungannya dengan pacar kamu?"


Ainaya terbelalak. Bagaimana bisa Haris bertanya seperti itu. Padahal, selama ini pria itu tak pernah peduli dengan apa yang dilakukannya, tapi tiba-tiba kepo dengan urusan pribadinya. 


"Bukan urusan, Tuan," jawab  Ainaya ketus. Menggendong Bilal dan membawanya keluar. Kembali memberikan asi lewat dot supaya terbiasa saat ditinggal nanti. 


Ih, ngapain juga aku urus Ainaya. Bukankah jika dia pergi dari sini akan lebih baik dan semua aman. 


Haris ikut keluar dari kamar Bilal lalu ke atas. Setibanya di ujung tangga, matanya kembali  menoleh ke arah ibu dari putranya yang ada di ruang tengah. 


Ainaya tahu bahwa saat ini Haris mengamatinya. Ia hanya pura-pura tidak mengetahuinya dan memilih sibuk dengan Bilal. 


Aku tidak tahu apa isi hatimu saat ini, tapi kelihatan aneh.


Haris masuk ke kamarnya. Untuk yang kesekian kali ia mendapati ruangan itu kosong dan berantakan. Sebab, satu jam yang lalu Jihan pamit ke rumah sahabatnya dan dipastikan akan pulang malam. 


Selimut tak karuan letaknya serta bantal pun teronggok di lantai. 


"Apa sebaiknya aku cari asisten lagi?"

__ADS_1


Haris memungut benda-benda yang ada di atas lantai dan meletakkan di tempat yang semestinya. Kini ia yakin sepenuhnya akan menyewa asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah. 


Haris kembali turun. Menghampiri Ainaya yang duduk di tempat semula. Berdiri tak jauh dari wanita itu yang kesusahan untuk meraih botol di meja. 


Kenapa dia gak minta bantuanku? 


Haris membungkuk, namun tak sengaja bibirnya menyentuh rambut Ainaya yang juga membungkuk bersamaan hingga sebuah ciuman itu terjadi. 


Ainaya menggulung jarinya lalu menariknya lagi. Menghindari sentuhan yang tak diinginkan. 


"Ma–maaf, Tuan," ucapnya  gugup. 


"Gak papa," jawab Haris mengambilkan botol dan menyerahkan pada Ainaya. 


"Lain kali kalau butuh bantuan panggil aku," ucap Haris menawarkan diri. 


Terdengar langkah kaki dari arah pintu memecahkan keheningan yang sempat  tercipta. 


Haris jadi salah tingkah saat melihat Jihan masuk. 


"Kamu baru pulang, Ji?" tanya Haris tanpa mendekat.


Jihan mengangguk tanpa membuka suara. Menatap Haris dan Ainaya bergantian. Meletakkan tote bag di atas meja. 


"Hari ini gak ada yang penting, makanya aku cepet pulang kangen juga sama kamu." Haris menjawab asal untuk menutupi kepanikannya. 


Ainaya menundukkan kepalanya pura-pura cuek dengan mereka berdua yang bercakap di dekatnya. 


"Malam ini kita makan diluar yuk, Mas. Aku sudah sediakan tempat yang spesial untuk kita berdua." Jihan bergelayut manja di lengan Haris. 


Namun, dengan cepat pria itu menurunkan tangan sang istri. Menghindar. 


"Kita makan di rumah saja, jangan sering keluar nanti kalau papa dan mama tahu bagaimana?" tolak Haris secara lembut. 


"Lagipula kasihan Ainaya sendirian," imbuhnya lagi. 


Kenapa harus bawa-bawa aku, bilang saja kalau kamu gak mau. 


Jihan berdecak kesal kemudian pergi ke kamar. Sedangkan Haris ke belakang untuk membuat makanan. 

__ADS_1


Entah rasa benci yang ditanam sejak pertama kali bertemu itu lenyap ke mana. Kini hanya ada rasa iba dan welas asih hingga rela membuat makan malam untuk Ainaya.


Eh, dia suka cumi gak ya? 


Menarik kembali tangannya yang hampir memegang pisau. Menyembulkan kepalanya ke arah pintu. Nampak Ainaya  berdiri sembari bernyanyi seperti yang dilakukan setiap malam saat menidurkan Bilal. 


"Nay, kamu suka oseng cumi?" tanya nya dari jarak jauh. 


Lagi-lagi Ainaya terbelalak mendengar itu. Bahkan, sempat menyebut yang ia alami saat ini hanyalah mimpi di sore hari. 


Ini gak mimpi, mungkin mas Haris benar-benar didatangi malaikat baik. 


"Cepetan jawab!"


Tiba-tiba pria itu sudah berdiri di dekat sofa. Entah sejak kapan datangnya, Ainaya pun tak menyadarinya. 


Panik, ya itu yang dirasakan Ainaya. Keringat dingin bercucuran menembus pori-pori. Hentakan suaranya berhenti di kerongkongan seketika menghambat kalimat yang akan diutarakan. 


"Kalau diam berarti suka." Haris tersenyum lebar melihat Ainaya yang nampak seperti  patung hidup. Ia kembali ke belakang untuk melanjutkan aktivitasnya. 


Ada apa ini? Kenapa dia baik padaku. Bukankah selama ini dia sangat membenci ku? 


Ainaya duduk kembali. 


Kakinya terasa lentur, diperlakukan sedemikian rupa saja sudah membuatnya tersanjung dan merasa dianggap, apalagi dicintai. Pasti hidupnya akan jauh lebih sempurna dan beruntung. 


Duh mikirin apa sih aku ini. Jangan berharap, Nay. Dia hanya memuji mu karena kerjamu bagus. Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menjadi istri yang sesungguhnya. 


Meyakinkan diri sendiri untuk tidak berharap penuh pada Haris.


Santapan makan malam sudah tersusun rapi di meja makan. Minuman susu khusus ibu menyusui pun sudah disiapkan membuat Jihan salut dengan suaminya. 


"Ternyata kamu jago masak ya, Mas?" tanya Jihan mulai mencicipi masakan sang suami. 


"Bukan jago, ini hanya menghilangkan kegabutan saja," jawab Haris singkat melirik Aniaya yang masuk ke kamar Bilal. 


"Kita makan yuk! Aku sudah lapar," ajak Jihan duduk di kursi tengah. 


"Sebentar, aku panggil Ainaya  dulu, sepertinya Bilal tidur kok. Sekali-kali dia makan sama kita."

__ADS_1


Haris berlalu meninggalnya ruang makan dan beralih ke kamar Bilal. 


Ada apa dengan mas Haris?  Sepertinya dia sangat perhatian dengan Ainaya. Apa ini hanya karena Bilal, atau lebih?


__ADS_2