
''Kamu yakin?'' Adam kembali memastikan ucapan Wisnu yang menurutnya hanya tipuan belaka. Suaranya begitu lantang menembus disko yang terdengar bising.
''Yakin. Aku dokumentasikan kebersamaan mereka.'' Menunjukkan beberapa photo di restoran saat meeting bersama. Kembali meneguk minuman yang ada di depannya.
Adam pun menggeser-geser layar ponsel itu dan menatap lekat gambar Ainaya yang nampak cantik jelita.
Matanya yang kantuk kini kembali terbuka lebar. Sungguh, itu bukan pemandangan yang bagus, melainkan membuatnya malas.
Pantas saja kamu gak menerima ku. Ternyata kamu lebih memilih Haris yang brengsek itu.
Adam menggebrak meja di depannya dengan keras hingga beberapa orang yang ada di sekitarnya menoleh ke arahnya. Amarahnya memuncak. Tak rela jika melihat mereka kembali bersatu.
''Kamu kenapa, marah?'' ejek Wisnu sambil tertawa keras. Matanya berkeliling mencari wanita-wanita malam yang berkeliaran mencari mangsa. Meski mereka sering nongkrong di klub malam, namun masih tetap menjaga etika. Sekalipun tak pernah jajan di luaran atau pun menikmati tubuh wanita yang bukan mahramnya. Itu hanya sebatas hiburan untuk melepas lelah.
''Sayang saja wanita secantik itu hanya menjadi istri kedua,'' cetusnya.
Wisnu terkekeh. Menepuk lengan Adam dengan pelan. ''Aku dengar-dengar Haris sudah bercerai dengan istri pertamanya, dan Ainaya akan menjadi istri satu-satunya,'' terangnya setelah ia melihat beberapa kabar berita yang beredar.
Itu artinya gak ada kesempatan untukku, sial.
Adam berdecak kesal. Padahal, ia sudah berharap penuh pada wanita itu, namun sepertinya keinginannya itu kandas sudah sebelum mendapat respon.
''Jangan sentuh aku! Aku bukan perempuan malam seperti yang kamu kira,'' seru suara wanita dari belakang.
Adam dan Wisnu menoleh ke arah sumber suara. Mereka menatap wanita cantik yang nampak ketakutan saat seorang lelaki terus mendekatinya.
''Kayaknya dia salah kamar.'' Wisnu menyungutkan kepalanya ke arah wanita itu.
''Maksud mu?'' tanya Adam serius.
''Biasa, anak baru dan belum tahu aturan di sini,'' terang Wisnu seperti yang ia ketahui.
Adam beranjak dari duduknya dan menghampiri wanita itu. Di bawah gemerlapnya lampu yang menyala redup ia bisa melihat ketakutan yang sangat dalam di wajahnya.
''Lepaskan dia! Cari yang lain,'' suruh Adam sembari mendorong lelaki berjenggot yang sudah diburu nafsu.
Lelaki itu tak terima dan menatap Adam dengan tatapan sinis, seolah menantang demi mendapatkan wanita yang diinginkan. Terlebih, ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk menikmati tubuhnya.
__ADS_1
''Lebih baik kamu pergi! Ini urusan saya.''
Adam berkacak pinggang. Tak lama berselang ia meninju wajah lelaki yang baru saja membentaknya hingga terjatuh.
Semua orang panik dan berhamburan mencari perlindungan. Hanya tinggal beberapa orang yang masih berada di dekat mereka. Memastikan siapa yang membuat keributan.
''Kamu masih berani mengatakan ini bukan urusanku,'' pekik Adam.
Lelaki itu bangkit sembari mengusap bibirnya yang dipenuhi darah akibat pukulan dari Adam. Ia pun tak mau kalah dan kembali menantang.
''Sudah sudah, ada apa ini?'' Manajer klub berdiri di tengah kedua lelaki yang sedang dipenuhi dengan amarah. Melihat keduanya bergantian.
Adam merapikan jaketnya lalu mendekati wanita yang masih tampak ketakutan dan menutup wajahnya.
''Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu,'' ucapnya dengan nada lembut.
Wanita itu memberanikan untuk menatap Adam dan menerima uluran tangan lelaki itu.
''Tapi saya sudah bayar. Dia gak bisa seenaknya membawa perempuan ****** itu,'' teriak lelaki yang ada di depan Adam.
Lelaki itu menyebut nomor rekeningnya dan nominal uang yang sudah ia keluarkan untuk membeli wanita itu.
''Tidak, Pak. Itu terlalu banyak, dia cuma memberiku uang lima ratus ribu,'' ucap wanita itu jujur.
''Tapi aku sudah memberikan pada ayahnya sebesar lima juta,'' bantah lelaki itu.
Adam tak banyak bicara. Itu terlalu bertele-tele dan membuang waktu saja. Ia langsung mentransfer yang yang disebut lelaki itu dan menunjukkan bukti nya.
''Mulai sekarang kamu jangan ganggu dia.'' Adam memperingatkan dan membawa wanita itu pergi.
Sedangkan Wisnu, lelaki itu lebih memilih tetap di klub untuk menghabiskan malamnya daripada ikut Adam yang tak karuan.
Adam berhenti di tempat parkir. Melepas tangan wanita yang ditolongnya. Keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
''Siapa nama kamu?'' Adam menatap penampilan wanita yang ditolongnya itu dari atas hingga bawah. Lumayan menarik, hanya saja baju yang dipakainya terlalu murahan. Make up nya pun terlalu tebal seperti badut. Lucu.
''Laila, Pak. Orang-orang memanggilku Ela,'' jawabnya menundukkan kepala, takut dengan mata Adam yang tampak tajam.
__ADS_1
''Ngapain kamu di sini? Apa kamu tahu tempat apa ini?'' Adam melepas jaketnya dan menutup tubuh Ela yang terekspos.
''Tahu, aku dipaksa bapak untuk ikut laki-laki tadi. Dan aku gak berani membantah,'' ucapnya jujur.
''Duh, kenapa sih lagi-lagi aku bertemu cewek polos kayak Ainaya, kalau kayak gini aku ga bisa move on dari dia,'' keluh Adam kesal. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Niat hati pergi ke klub ingin melupakan Ainaya yang sampai saat ini masih bersemayam dalam hatinya, justru menemukan makhluk yang serupa.
''Ya sudah, sekarang masuk, aku anterin pulang.'' Membuka pintu mobil bagian depan.
''Aku gak mau pulang,'' tolak Ela menggeleng cepat.
Adam mengernyitkan dahinya melihat reaksi Ela yang sedikit aneh. Di mana-mana wanita yang akan diantar pulang pasti antusias, namun berbeda dengan wanita itu, bahkan dengan tegas menolaknya.
''Kenapa?'' tanya Adam kembali menutup pintunya lagi.
''Aku takut ayah memaksaku lagi untuk melayani laki-laki hidung belang seperti tadi.''
Adam menepuk jidatnya. Padahal, baru beberapa waktu ia mendengar alasan Ela berada di tempat itu kenapa sekarang sudah lupa. Apa dia sudah mulai pikun sebelum memiliki pasangan lagi.
''Ya sudah sekarang ikut aku. Kamu akan tinggal di tempat yang aman,'' ucapnya lagi dan membuka pintu kembali.
Sepertinya dia baik. Apa dia juga seperti laki-laki lain. Akan memintaku untuk melayaninya. Ah, sudahlah, setidaknya malam ini aku lepas dari ayah.
Ela bergegas naik dan memasang seatbelt. Tak peduli apa yang akan di lakukan Adam nantinya. Toh, lelaki itu sangat tampan. Mungkin melayaninya juga tak rugi.
Di tengah perjalanan, Ela tak sanggup untuk menahan pertanyaan yang membuat dadanya bergejolak, ia melirik ke arah Adam yang fokus dengan setirnya.
''Bapak akan membawaku ke mana?" tanya Ela takut.
''Ke apartemen,'' jawab Adam singkat.
''Apa Bapak juga mau membeli keperawananku?'' tanya Ela tersendat, menahan air matanya yang hampir luruh. Tidak bisa membayangkan jika itu terjadi, pasti hidupnya akan hancur.
''Apa wajahku seperti bajingan tadi?'' Adam menunjuk wajahnya sendiri.
Ela menggeleng tanpa suara lalu terdiam menatap ke arah depan.
__ADS_1