Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Menculik


__ADS_3

Haris berdiri di depan Ajeng. Menatap lekat wanita itu.


''Bisa dibilang seperti itu. Maaf, kalau kedatangan saya sangat mengganggu, tapi untuk saat ini saya butuh informasi dari kamu. Di mana Ainaya?'' ucap Haris tanpa basa-basi.


Ajeng menggeleng dan berlari meningglakan mereka berdua. Menghindari dua pria yang pasti akan mendesaknya untuk menunjukkan keberadaan sang sahabat.


Ajeng kembali ke ruangannya, ia bergegas mengambil ponsel dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. Lidya yang melihat keanehannya pun segera menyusul.


''Ada apa?'' tanya Lidya yang tak kalah gugupnya.


Ajeng mendaratkan jarinya di bibir memberi kode pada Lidya untuk diam.


''Halo, ada apa, Jeng? Tumben siang-siang begini telepon?'' tanya suara lembut dari seberang sana.


''Gawat, Nay. Sepertinya Haris sudah curiga padaku, sekarang dia ada di depan kantor,'' ucap Ajeng takut.


Ya, seseorang yang dihubungi Ajeng adalah Ainaya. Ia memberitahu apa yang baru saja terjadi padanya.


Ainaya pun ikut terkejut mendengar itu. Dari lubuk hati terdalam, ingin sekali pulang dan bertemu dengan Bilal, namun ia pun tak ingin lagi mengulang masa lalu, dan akan bertekad dengan kehidupan barunya.


''Pokoknya kamu bilang pada dia kalau kamu gak tahu apa-apa,'' ucap Ainaya lalu menutup telponnya. Ia tak ingin mendengar tentang Haris lagi.


Ajeng meletakkan ponselnya di atas meja lalu meneguk air putih hingga kandas. Ia duduk dan mengatur nafasnya yang sempat ngos-ngosan akibat berlari demi menghindari Andik.


''Sebenarnya ada apa sih?'' Lidya melanjutkan pertanyaannya.


Ajeng beralih duduk di samping Lidya. ''Jadi, tadi ada laki-laki yang bernama Andik mengajakku keluar. Eh, ternyata dia itu ajudannya Tuan Haris,'' terang Ajeng panjang lebar.


Lidya berdecak, ia pun ikut kesal dengan Haris setelah mendengar cerita dari Ajeng tentang perbuatannya pada Ainaya. Bahkan, mereka sengaja mengucapkan sumpah serapah supaya pria itu mendapat karma yang keji sesuai perbuatannya.


''Dulu saja di sia-siakan, sekarang di cari, apa sih maunya dia?'' gerutu Lidya jengkel.


Ajeng pun ikut kesal sekaligus khawatir. Sebab, ia yakin tidak hanya sampai di sini saja. Pasti Haris dan Andik akan mencari cara lain untuk mengorek nya.

__ADS_1


''Aku akan tetap tutup mulut, apapun yang terjadi mereka gak boleh bertemu,'' janji Ajeng seperti yang pernah diucapkan pada Ainaya.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, waktunya karyawan pulang. Begitu juga dengan Ajeng dan Lidya. Seperti biasa, mereka saling menunggu di tempat parkir jika salah satu belum keluar.


Ajeng menyusuri halaman kemudian berjalan ke arah motornya.


''Sepertinya Tuan Haris pulang.'' Ajeng langsung memakai helm nya dan keluar dari halaman. Membelah jalanan yang masih dipenuhi kendaraan lainnya.


Baru saja tiba di tempat yang sepi, sebuah mobil berhenti di


depan motor Ajeng membuat gadis itu kaget dan menarik rem mendadak.


''Gila, siapa sih itu?'' gerutu Ajeng membuka kaca helmnya tanpa turun.


Dua orang pria berbaju hitam pekat keluar dan berjalan ke arah belakang. Ajeng tak bisa berkutik, berputar arah pun percuma, karena dari samping pun ada mobil yang berhenti. Bibirnya terlalu kelu untuk berteriak minta tolong. Akhirnya ia pasrah dan memilih diam.


Dengan cepat mereka membungkam mulut Ajeng dan membawanya masuk ke mobil. Meski sesekali membentak, tak ada hasilnya karena tenaganya cukup lemah untuk melawan mereka.


Seorang pria yang ada di mobil lain pun sedikit tak tega melihat Ajeng, namun ia harus tetap melakukan itu demi bisa menemukan sang istri


Apa mereka ini suruhan Tuan Haris juga, ah sial. Apa mereka akan membunuhku kalau aku gak membuka mulut.


Ajeng memejamkan matanya. Dalam hati terus berdoa meminta keselamatan dan jalan keluar. Tidak mungkin ia melawan mereka yang bertubuh kekar seperti petinju kelas dunia.


Mobil berhenti di depan sebuah gedung yang lumayan mewah, namun sangat sepi dan jauh dari pemukiman. Orang itu membawa Ajeng turun.


''Maaf kalau aku sangat kasar.'' Suara berat dari arah samping membuat Ajeng menoleh.


Benar dugaan saya, ternyata mereka adalah orang-orang suruhan Haris.


''Aku tidak akan menyakitimu, tapi aku mohon katakan, di mana keberadaan Ainaya,'' pinta Haris penuh harap.


Ajeng memalingkan pandangannya ke arah lain, sedikitpun tak ingin membahas Ainaya apalagi memberi tahu tentang keberadaan wanita itu.

__ADS_1


''Anda salah orang, Tuan. Saya tidak tahu di mana Ainaya jadi percuma saja Anda menyiksa saya,'' ucap Ajeng tanpa menatap.


Haris menarik napas dalam-dalam. Ia maju mendekati Ajeng yang masih bersikeras dengan kebohongannya.


''Ini kamu, kan?'' tanya Andik sambil memutar video cctv di apartemen. Kali ini ia yang sangat garang


Ajeng hanya melirik sekilas. Ternyata mereka lebih pintar dari yang aku duga, bahkan rekaman ini sangat jelas bahwa ia membantu Ainaya memasukkan koper ke dalam mobil.


''Sekarang jangan mengelak lagi, di mana Nona Ainaya pergi?'' tanya Andik menekankan.


Keringat dingin bercucuran. Sekujur tubuh Ajeng terasa lemas melihat orang di sekelilingnya. Namun, ia tetap menggeleng, tak ingin mengingkari janji. Meski nyawa taruhannya ia tak mau membuat Ainaya kecewa.


''Sampai kapanpun saya tidak akan mengatakan keberadaan Ainaya, kalau Anda memang benar-benar mencintainya, cari dia sampai ke ujung dunia,'' bentak Ajeng pada mereka yang menatapnya.


Haris mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak mungkin memaksa lagi, takut itu akan memperpanjang masalah.


''Baiklah, kalau kamu memang tidak mau mengatakannya sekarang, gak papa. Tapi suatu saat aku harap kamu ingat Bilal. Bayi yang ditinggalkan Ainaya.'' Mundur satu langkah. ''Bawa dia pulang.''


Haris masuk ke dalam mobil. Begitu juga Andik, sedangkan para bodyguard pun membawa Ajeng kembali ke tempat di mana mereka membawanya tadi.


''Kita harus cari cara lain, Tuan. Mungkin Lidya juga tahu di mana Nona Ainaya,'' ucap Andik memberi saran.


''Percuma, pasti dia sama saja seperti Ajeng, tutup mulut.'' Haris memejamkan matanya, mungkin kata Ajeng benar, jika cinta itu ada, ia harus berusaha penuh mencarinya tanpa bantuan orang lain.


Nay, lebih baik kamu menghukumku dengan cara lain. Aku gak bisa seperti ini terus-menerus.


Lagi-lagi dering ponsel membuyarkan otak Haris yang berkelana.


Ia segera membukanya. Ternyata itu adalah pesan dari orang yang ditugaskan untuk menyelidiki Jihan.


Laki-laki yang sering bersama Nyonya Jihan bernama Ozan. Dia photographer majalah dewasa juga pelukis asal Turki. Dari informasi yang saya tahu mereka dekat sejak dua tahun lalu karena sebuah kerja sama.


Aku tidak peduli dengan dia. Terserah apa yang akan dilakukan, untuk saat ini aku harus fokus mencari Ainaya. Hanya dia yang aku butuhkan.

__ADS_1


__ADS_2