Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Mengungkap


__ADS_3

Ainaya melanjutkan langkahnya. Ia duduk bersama dengan Lidya dan Ajeng. Tak menghiraukan ucapan Nian yang terus merendahkannya. Beberapa pengunjung pun mulai memandangnya sebelah mata. Mereka berbisik dan membenarkan ucapan sang mantan yang tidak benar. 


"Apa perlu aku usir dia, Nay?" geram Ajeng. Menyungutkan kepalanya ke arah Nian yang masih mematung di tempat. 


Ainaya menggeleng. Mengaduk jus jambu yang mulai mengembun. Berusaha mengalihkan hatinya yang masih terasa nyeri dengan perkataan menohok tadi. 


"Seharusnya kamu jangan diam saja, Nay. Nian sudah keterlaluan," imbuh Ajeng tak terima. Sebagai seorang sahabat mereka ikut kesal dengan kelakuan pria itu.


 


Tapi Nian benar, aku adalah simpanan om-om. Jika seorang istri itu akan disayang, tapi aku tidak.


"Aku yang salah," jawabnya singkat. Meneguk minumannya hingga tinggal setengah. Tak ingin terlalu larut dalam masalah yang berbelit, takut terjadi sesuatu dengan janin yang dikandungnya. 


Ajeng dan Lidya memeluk Ainaya menguatkan wanita itu. Baru kali ini melihat sang sahabat mengeluarkan air mata. 


"Makan yuk, aku lapar." Ainaya mengusap air matanya. Melihat beberapa menu tanpa ingin menyentuhnya.


"Kamu mau yang mana, Nay?" tanya Ajeng yang siap mengambilkan makanan untuk Ainaya. 


Mata Ainaya menyusuri hidangan yang nampak lezat, namun di matanya semua itu menjijikkan. Perutnya kembali mual ketika mencium sesuatu yang menusuk. 


Menatap Ajeng dan Lidya bergantian. Satu tangannya mengelus perutnya yang seperti di aduk-aduk. 


Aku gak boleh muntah di sini. Ajeng dan Lidya gak boleh tahu kalau aku hamil. 


Mencoba sekuat tenaga menahan isi perutnya supaya tidak keluar. Keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-pori. 


Namun, semua tak sesuai ekspektasinya


Justru perutnya seolah memberontak. Terpaksa Ainaya berlari menuju belakang setelah meletakkan tas nya di meja. 


Ajeng dan Lidya saling tatap kemudian mengejar sang sahabat yang mulai menjauh. Mereka khawatir dengan keadaan Ainaya. 


Terdengar suara orang muntah dari balik kamar mandi. Sudah dipastikan itu adalah Ainaya. Ajeng dan Lidya menunggu di depan pintu. Menerka-nerka yang terjadi. 


"Apa jangan-jangan Ainaya masuk angin?" lirih Ajeng khawatir. 


"Mungkin," jawab Lidya harap-harap cemas. 

__ADS_1


Pintu terbuka. 


Ainaya keluar dengan wajah pucatnya, bersandar di dinding mengurai rasa pusing yang mulai melanda. 


"Kamu gak papa, Nay?" Ajeng mengusap kening Ainaya yang dipenuhi keringat. 


Ainaya menggeleng pelan. Isi perutnya memang sudah habis, namun ia masih belum sepenuhnya pulih.


"Kita balik yuk, kayaknya aku butuh istirahat," ajak Ainaya pada kedua sahabatnya. 


Baru beberapa langkah, tiba-tiba tubuh Ainaya terhuyung ke belakang. Beruntung Lidya masih bisa menangkap punggung wanita itu hingga tak terjatuh ke lantai. 


"Kamu gak papa, Nay?" tanya Ajeng khawatir. 


Kali ini Ainaya tak bisa menjawab. Tubuhnya terlalu lemah dan terpaksa diam. 


"Kita bawa ke rumah sakit." Lidya memanggil salah satu waitress untuk membawa Ainaya keluar. Mereka bertiga naik taksi untuk segera tiba di rumah sakit. 


Nian yang masih ada di restoran itu hanya bisa menjadi penonton saat dua orang memapah Ainaya menuju depan. Sedikitpun tak merasa iba dengan kondisi sang mantan. 


Ainaya menjalani perawatan di salah satu rumah sakit terdekat, ditemani oleh kedua sahabat membuatnya lebih kuat dan yakin. 


Dokter yang baru saja melepas stetoskop itu tersenyum melihat kondisi janin pasien. Mengusap perutnya sejenak. 


Dokter mengangguk lalu keluar. Ajeng dan Lidya mendekat. Mereka penasaran dengan dokter yang tak memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi pada Ainaya. 


Apa sebaiknya aku bilang pada mereka berdua. Takutnya mereka marah kalau aku menyembunyikan kehamilanku. 


"Jeng, Di, aku mau bicara. Tapi kalian jangan bilang pada siapapun," pinta Ainaya menggenggam tangan mereka. 


"Apa?" tanya Ajeng antusias. 


"Aku hamil." 


Ajeng menganga. Ungkapan Ainaya seperti sebuah mimpi baginya. Otaknya berkelana mengingat ucapan Nian saat di restoran. 


Lydia menepuk kedua pipinya. Berharap itu memang benar-benar mimpi buruk.


"Jangan berprasangka buruk dulu, aku sudah menikah," imbuhnya menjelaskan. Menunjuk cincin kawin yang tersemat di jari manisnya.

__ADS_1


Ajeng menarik kursi lalu duduk di tepi brankar, sedangkan Lidya duduk di samping kaki Ainaya. Mereka siap untuk mendengar cerita dari sang sahabat. 


"Tapi kalian tidak akan menganggap aku pelakor, kan?" tanya Ainaya sebelum menceritakan semuanya. 


Mereka menggeleng ragu karena belum tahu cerita yang sebenarnya. 


Ainaya menghela napas panjang. Memantapkan hatinya untuk mengungkap fakta yang selama ini disembunyikan. 


"Aku menikah dengan mas Haris. Sebenarnya dia sudah mempunyai istri, tapi karena istrinya tidak bisa memberi anak, dia menikah dengan ku. Ini juga bukan keinginanku, tapi karena keluarga mas Haris sudah banyak berkorban pada keluargaku, dan aku harus membayar hutang."


Ainaya menjelaskan panjang lebar. Itu yang ia tahu dari paman dan bibinya. 


"Itu namanya kamu bukan pelakor," jawab Ajeng. 


Sebagai seorang wanita ia mengerti kegelisahan yang dialami Ainaya. "Tapi kamu membantu mas Haris memiliki keturunan, apa salahnya? Bukankah poligami tidak dilarang, selama suami bisa adil?" 


"Ya, meskipun berat bagi istri pertama menerima kalau penyebabnya seperti itu bagaimana lagi?" lanjut Lidya. 


Mereka tidak membela namun juga tidak menyalahkan posisi Ainaya yang saat ini menjadi istri kedua. 


"Makasih, kalian sudah mau menemaniku sampai sekarang." Berpelukan. Mengeratkan persahabatan yang sudah terjalin sejak lama. 


Keadaan Ainaya sudah membaik. Ia hanya butuh istirahat di rumah. Sebab itu Ajeng dan Lidya akan mengantarkannya pulang ke rumah. 


"Gak usah, Jeng, Di. Aku akan menelpon mas Haris, biarkan dia yang jemput," ucap Ainaya asal. Ia tidak ingin mereka melihat keadaan rumahnya yang sederhana, sementara Haris Mahendra adalah seorang CEO yang terkenal dengan kekayaannya. 


"Kalau suami kamu bisa mencukupi semua kebutuhan, kenapa kamu kerja?" tanya Ajeng. 


Ainaya tersenyum sambil memutar otak. "Itu karena aku ingin bersama kalian." Ainaya meyakinkan agar kedua sahabatnya itu tidak curiga. 


Mereka manggut-manggut lalu pergi karena sudah hampir malam. 


Tak berselang lama Ajeng dan Lidya pergi, Ainaya turun dari ranjang. Ia keluar dari rumah sakit setelah mengurus administrasi seorang diri. Bertepatan saat tiba di parkiran, Haris dan Jihan turun dari mobil. 


Mereka terlihat mesra dan romantis hingga membuat semua orang iri. Layaknya orang asing. Ainaya Dan Haris berpapasan tanpa saling sapa. Sedangkan Jihan, terus tertawa kecil mendengar gurauan sang suami. 


Sesampainya di rumah, tibagtiba saja Ainaya ingin pergi ke Bali. Entah kenapa, kali ini ia tidak bisa menahan keinginannya itu. Terpaksa menghubungi Haris karena menganggap itu adalah ngidam. 


Sekali panggilan Haris mengangkat teleponnya menyapa dengan suara ketus. 

__ADS_1


"Sepertinya anakmu ingin ke Bali, Mas. Tolong temani aku," pinta Ainaya tanpa basa-basi 


Terdengar suara mengejek dari ujung telepon. "Jangan banyak alasan, bilang saja itu keinginanmu, jangan bawa anak. Dia belum bernyawa, mana mungkin pengen ke bali," tolak Haris dengan keras kemudian menutup sambungannya. 


__ADS_2