
Suasana sudah kembali tenang. Emosi yang sempat memuncak pun kian mereda. Hampir empat hari melakukan penyelidikan, akhirnya polisi bisa menangkap orang yang sudah berani membahayakan nyawa Ainaya. Hari ini Haris dan Andik serta bang Lim datang ke kantor polisi untuk memastikannya.
''Kamu yakin dia orang yang memukulmu?'' Andik menunjuk lelaki berkulit hitam yang ada di dalam sel.
''Iya, Tuan. Saya yakin dia yang memukuli saya. Dia juga mengancam akan membunuh istri saya jika tidak memberikan makanannya.''
Kedua tangan Haris mengepal sempurna. Seandainya ia berada di luar pasti sudah menghajar lelaki itu sampai tewas. Sayangnya, saat ini ada di kepolisian dan ia hanya bisa menahan tangannya yang terasa gatal.
Haris mendekati sel. Memasukkan kedua tangannya ke kantong. Dijaga berapa polisi di belakangnya.
''Apa maksud kamu memberi racun itu ke makanan saya?'' tanya Haris dengan pelan namun menekan.
Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan. Meski akhirnya kalah dan mendekam di penjara, seolah tak ada rasa sesal yang menyelimuti.
''Saya ingin kamu dan istrimu mati,'' jawabnya lugas. Seolah itu memang inisiatif dirinya sendiri, namun Haris tak mudah percaya begitu saja, sebelum tahu motifnya.
''Lalu apa yang kamu dapatkan kalau saya dan istri saya mati? Harta? Nukankah kamu hanya orang asing kenapa begitu antusias.'' Haris tak kehabisan pertanyaan. Ia terus memberikan tekanan pada orang itu untuk mengakui siapa dalang dibalik semuanya.
''Padahal, saya punya tawaran yang menarik jika kamu mau membongkar siapa orang yang menyuruhmu.'' Kembali, iming-iming sesuatu yang menggiurkan. Meski belum tentu ia berikan, setidaknya mencari jalan agar orang itu membuka mulut.
''Ini benar-benar rencana saya sendiri, saya hanya ingin keluarga anda mati,'' jawabnya meyakinkan.
Haris semakin geram, pergerakannya tercekat. Mungkin saat ini ia hanya bisa menelan kekecewaan karena tak bisa melampiaskan amarahnya.
''Aku pastikan kamu akan membusuk di sini,'' ancam Haris sembari berjalan mundur, menjauh. Tangannya menunjuk wajah lelaki itu.
Setibanya di depan kantor, ia mendapatkan telepon dari orang yang ada di Surabaya.
''Tuan, sekarang dia mau membuka mulut, tapi dia minta jaminan keamanan,'' ujar orang yang sudah hampir minggu bertugas itu.
''Baiklah, aku bersedia. Bawa dia ke sini dengan selamat dan amankan semua keluarganya,'' ujar Haris merasa menang.
Lampu mulai menyala dan sebentar lagi akan menerangi semua masalah yang berbelit dan memakan waktu itu.
__ADS_1
Sembari menunggu anak buahnya tiba, Haris menghabiskan waktu nya bersama istri dan anaknya di rumah. Membuat candaan dengan mereka yang mungkin jenuh karena tak bisa keluar rumah.
''Aku dengar mas Didin ada di sini? Dia bekerja di bagian apa?'' tanya Ainaya menyela Haris yang nampak sibuk dengan laptopnya.
''Aku juga belum tahu, itu urusan Andik, karena dia adalah calon adik iparnya, aku yakin ditempatkan di bagian yang lumayan bagus. Kelihatannya Didin juga berpotensi, hanya saja selama ini dia tinggal di kampung, jadi tak terlalu berpengalaman.
''Iya, aku juga salut sama dia. Semua warga kampung sekarang lebih mudah mendapatkan pupuk organik, dan semua itu karena mas Didin.
Hati Haris terbakar mendengar Ainaya menyanjung Didin. Sungguh, bukan itu yang ingin ia dengar. Namun justru sebaliknya, terang-terangan istrinya memuji lelaki lain yang belum menikah di depannya.
Hening
Haris malas berbicara, takut Ainaya akan lebih membanggakan lelaki kampung itu, di bandingkan dengannya memang bukan apa-apa. Ainaya tak pernah memandang fisik, ia selalu mengutamakan kebaikan orang lain daripada kekayaan dan lainnya.
''Kenapa diam? Ngantuk?'' goda Ainaya mencium pipi Haris dari samping.
''Gak, cuma melamun saja, kapan aku disayang istri.''
Melirik ke arah Ainaya yang jelas-jelas sangat dekat dengannya.
Sebagai seorang istri, Ainaya sangat membanggakan Haris, meski ada masa lalu yang sulit digambarkan ia tetap menjadi istri yang baik dan patuh. Menganggap apa yang terjadi adalah ujian pernikahan dalam hidupnya.
''Makanannya sudah siap, Den, Non,'' lapor bibi yang baru saja datang.
Ainaya mengangguk, menoleh ke arah Bilal. Bayi tujuh bulan itu sudah mulai mencoba merangkak dengan berusaha menyeimbangkan tangan dan lututnya. Sangat lucu dan menggemaskan.
''Aku jadi pingin cepat-cepat memberinya adik,'' ucap Haris berbisik.
Ainaya terkekeh dan menepuk lengan sang suami. Ia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ruang makan. Meninggalkan Haris yang masih sibuk dengan sang putra yang juga mulai bisa diajak bicara.
Tentu ia juga mengharapkan anak yang kedua, hanya saja malu untuk mengungkapkannya seperti Haris. Wanita memang lebih dominan diam daripada harus berbicara panjang lebar dengan keinginannya, namun juga penuh misteri dengan isi hatinya.
Dari jauh Haris hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu sang istri. Meski ia ingin menggodanya, namun sungkan dengan yang lain.
__ADS_1
''Kulitnya sudah sembuh, Non?'' Bibi mengusap tangan Ainaya yang hampir kembali seperti semula.
''Iya, Bi. Semua ini berkat mas Haris dan mama juga papa, mereka selalu mengingatkan aku untuk minum obat,'' ujar Ainaya.
Bahkan, Ainays hampir bosan meminum obat untuk memulihkan keadaannya.
''Kalau orang itu ditangkap, bibi akan cubit dia, sampai membekas,'' ancam bibi menirukan gaya orang mencubit
Ainaya hanya tersenyum kecil melihat bibi. Kini ia merasa damai berada di tengah-tengah orang yang benar-benar menyayanginya.
Haris berjalan ke arah depan menyambut Andik yang baru datang. Mereka bicara serius di runag tamu sembari membawa Bilal. Entah apa yang mereka bahas, sepertinya itu sangat serius.
''Jangan bawa dia ke polisi, aku akan membuat perhitungan lebih dulu.''
Itulah yang Ainaya dengar dari meja makan.
Apa ini tentang orang yang sudah mencelakaiku?
Ainaya menghampiri mereka berdua. Ia semakin penasaran apa yang membuat sang suami tiba-tiba berubah.
''Ada apa, Mas?'' tanya Ainaya ragu. Takut membuat mereka tak nyaman karena terlalu ikut campur.
Pupil mata Haris melebar. Tangannya mengelus ceruk lehernya. Bingung mau menjawab apa, sedangkan ia tak mungkin berkata jujur pada sang istri.
''Ini hanya masalah kantor, Sayang,'' kata Haris gugup yang membuat Ainaya curiga.
Andik membisu dan memainkan layar ponselnya. Menghindari pertanyaan Ainaya yang mungkin akan tertuju padanya juga.
Aianya mengangguk. Ia kembali ke ruang makan. Meski tak begitu percaya melihat gerak-gerik Haris yang mencurigakan, ia tak ingin tahu lebih dalam lagi. Berharap dia lelaki itu tidak terjerumus dalam dendam yang menyesatkan.
Andik menunjuk foto seseorang yang baru saja dikirim anak buahnya.
''Dia pelaku utamanya.'' Andik menyunggingkan senyum tak percaya.
__ADS_1
Haris pun membeku melihat wajah yang tak asing di matanya. Tak menyangka orang dibalik semua itu adalah orang yang pernah dekat dengannya.