Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Perdebatan kecil


__ADS_3

Haris menumpuk map yang sudah selesai ditandatangani. Melihat jam yang melingkar di tangannya. Seakan tak percaya ia merampungkan pekerjaannya lebih awal.


"Baru jam empat, apa jam ini mati?" Ia mengambil ponselnya, memastikan bahwa ia tak salah lihat. 


Ternyata benar, baru jam empat sore. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku. Entah karena apa, hari ini otaknya bekerja lebih baik daripada biasanya. Tiba-tiba teringat dengan Bilal. 


Kira-kira jam segini dia lagi ngapain. 


Mengambil foto Bilal yang disimpan di laci. Kemudian memajangnya di meja kerja.


Meskipun hampir seharian  penuh berpisah, ia masih merasakan kehangatan bocah itu di pelukannya. Bahkan aroma wanginya pun tak hilang. 


Andik datang menyerahkan beberapa laporan hari ini. Tak seperti biasanya yang memasang wajah serius, kali ini ada pancaran lain di wajah sang bos. 


''Ingat Nona Ainaya?" tebak Andik asal. 


Haris berdecak kesal. Ia langsung membaca laporan itu tanpa menjawab pertanyaan absurd sang asisten. 


''Aku mau pulang lebih awal. Nanti kamu urus laporan yang belum masuk." Berdiri dari duduknya. Menyambar jas lalu keluar. Ia sudah tak bisa menahan rindu dan ingin segera bertemu dengan putranya. 


''Apa Tuan Haris sudah mulai jatuh cinta dengan Nona Ainaya, atau dia hanya kangen sama Bilal?"


Andik menatap punggung Haris yang mulai menjauh. Dari tatapan pria itu, ia bisa menangkap ada sesuatu yang masih terselubung. 


Haris menghentikan mobilnya di depan sebuah toko mainan. Terbesit dalam benaknya ingin membelikan mainan untuk anaknya yang kini baru berumur hitungan hari. 


''Kira-kira mainan apa yang dia suka?" Mengambil sebuah mobil remot mewah. Lalu beralih ke arah samping, di mana itu tempat khusus tembak-tembakan. 


''Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" sapa karyawan toko saat melihat Haris yang nampak kebingungan. 


''O, saya mencari mainan anak laki-laki. Saya mau ambil yang seperti itu.'' Haris menunjuk beberapa mainan yang ada di sekitarnya. 


Wanita itu pun membantu Haris mengambil beberapa mainan lalu membawanya ke kasir. 


''Kamu gak tanya, anaknya umur berapa? Ini ada untuk bayi dan juga anak-anak yang sudah besar,'' bisik salah satu karyawan yang heran dengan belanjaan milik Haris. 


''Gak usah, ngapain ditanya? Yang penting laku banyak,'' jawab yang lainnya dengan berbisik pula. 


Haris membayar dengan uang lebih kemudian meminta karyawan untuk membantunya membawa ke mobil. 


Bagasi hampir penuh, bahkan sebagian mainan ada yang diletakkan di jok belakang. 

__ADS_1


''Semoga Bilal suka.'' Kembali melajukan mobilnya menuju rumah. 


Bertepatan saat Haris masuk, Bu Ida keluar dari pintu depan. Wanita itu langsung menjewer telinga pria itu hingga meringis. 


''Gara-gara keteledoranmu, Jihan jatuh,'' cetus nya geram. 


Haris mengusap telinganya yang terasa nyeri. Menatap Jihan yang nampak mengedipkan satu matanya. 


Ada apa ini, aku gak ngerti. Begitulah isi hati Haris. Namun, ia diam dan mencerna kode dari sang istri. 


''Iya, Ma. Aku minta maaf, lain kali aku gak akan teledor lagi,'' ucapnya mengalah. 


''Mama sudah mau pulang?" Haris memeluk sang mama, kemudian menatap Jihan yang ada di belakangnya. 


''Iya, malam ini papa kamu pulang dari luar kota, jadi mama gak bisa menginap," ujarnya lalu meninggalkan mereka semua. 


"Memangnya kamu jatuh di mana? Kenapa mama nyalahin aku?" pekik Haris menekankan. 


Jihan menaikkan bajunya dan menunjukkan lukanya yang sudah dibalut perban. 


"Di mall, tadi aku gak sengaja menabrak seseorang dan jatuh." Jihan berjalan tertatih-tatih mendekati sang suami yang nampak lelah. 


"Kok bisa sih?" tanya Haris sembari melepas jas nya. Sedikit terkejut saat melihat Jihan meringis. 


Setelah mobil yang ditumpangi bu Ida menghilang di balik gerbang, Haris membuka mobilnya lagi sebelum masuk. Ia menurunkan semua mainan  yang tadi di belinya. 


''Itu mainan untuk siapa, Mas?" teriak Jihan dari arah teras. 


"Untuk Bilal, siapa lagi?" jawab Haris tanpa menatap. 


Jihan mengernyitkan dahi. Lalu tertawa lirih, heran dengan suaminya berlebihan. Ia masuk tanpa menunggu pria tersebut. Duduk di ruang tengah melihat Haris yang keluar masuk mengusung barang-barangnya. 


"Tapi kamu masih bisa masak, kan?" tanya Haris yang tiba-tiba merasa lapar.


Jihan mengambil ponselnya. 


''Biasanya kamu kan pesan, Mas? Ngapain masak segala, kakiku masih sakit." Melirik ke arah Haris yang berjalan menuju kamar Bilal. 


"Tapi aku pingin makan masakanmu." Haris membuka pintu kamar Bilal. 


Menatap Ainaya yang berbaring di samping sang putra. Kemudian menutupnya lagi dan menghampiri Jihan. 

__ADS_1


''Kamu gak lihat aku sakit? Lain kali bisa, kan?" Jihan beranjak dari duduknya menghindari Haris yang hampir duduk di dekatnya. 


Kenapa dia? Aku tadi minta baik-baik, tapi kenapa dia ketus seperti itu. Apa aku punya salah?


Haris mengendurkan dasi yang seharian penuh mencekik lehernya. Mengikuti langkah Jihan menuju kamar. Menarik tangan wanita itu yang hampir memutar knop. 


''Kamu kenapa sih? Kalau gak mau juga gak papa, tapi jangan seperti ini. Aku ini capek dan butuh hiburan. Bukan kekesalan kamu.''


''Aku ngantuk,'' jawab Jihan ketus lalu masuk ke kamar. Tak mengindahkan Haris yang bermuka datar. 


Haris berkacak pinggang lalu kembali turun. Baru beberapa langkah menyusuri anak tangga, Ainya keluar dari kamarnya.


Haris menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Ainaya yang mendongak menatap sang suami dari arah bawah. 


"Apa Tuan mau makan masakan saya?" tanya Ainaya serius. 


Tidak sengaja ia mendengarkan perdebatan antara Haris dan Jihan. 


Hening 


Haris nampak berpikir keras antara menerima dan tidak, namun perutnya tak bisa berkompromi dan semakin memberontak. 


"Boleh," jawab Haris singkat. 


Melanjutkan langkahnya menuju kamar Bilal, sedangkan Ainaya bergegas ke belakang. 


Seperti biasa, Ainaya memasak makanan yang cukup sederhana. Selain lebih cepat juga tidak rumit. Namun, ia memastikan bahwa makanan yang dibuat itu sehat dan bergizi. 


"Nay, Bilal nangis," teriak Haris dari ambang pintu kamar. 


Ainaya mematikan kompor menghampiri sang suami yang nampak gugup. 


"Apa Tuan mengganggunya?" tuduh Ainaya bergegas mengangkat tubuh mungil putranya. 


"Enak saja ya gak lah, mungkin dia haus," jawab Haris tak terima. 


"Maafin mama ya, Sayang. Tadi mama sibuk." 


Seolah ada yang aneh di telinga Haris mendengar ucapan Ainaya yang baru saja  meluncur. 


"Kamu ingat, kan? Bilal bukan lagi anakmu, jadi kamu gak berhak dipanggil mama." 

__ADS_1


Ainaya menatap Haris dengan tatapan tajam. Matanya berkaca-kaca. Meskipun surat perjanjian itu sudah dibuat, namun tak bisa begitu saja memutuskan hubungan antara ibu dan anak. Bahkan, tidak ada yang bisa mengubah itu. 


"Aku cuma gak mau orang lain curiga jika mendengarnya," imbuhnya lalu pergi meninggalkan Ainaya. 


__ADS_2