
"Kita makan, yuk!" ajak Ajeng mendekati Ainaya yang masih sibuk berkutat dengan laptop di depannya.
"Sebentar aku kelarin dulu," jawab Ainaya sambil tersenyum.
Hari ini Ainaya memutuskan untuk bekerja lagi. Meskipun keadaannya belum sepenuhnya membaik, ia tetap semangat menjalankan aktivitasnya.
"Lidya mana?" tanya Ainaya menoleh ke arah tempat sang sahabat.
"Dia ketemuan dengan pacarnya di restoran samping." Ajeng menjelaskan dengan bibir manyun.
"Bagus dong, itu artinya dia gak jomlo lagi," timpal Ainaya bahagia.
Berbeda dengan Ainaya, Ajeng nampak cemberut dengan kenyataan itu. Ada kekesalan di wajah sang sahabat.
"Tapi sekarang aku gak punya temen joblo," keluh Ajeng yang membuat Ainaya terkekeh.
"Lebih baik jomlo daripada berada di posisiku." Seketika wajah Ainaya redup mengingat nasib nya yang jauh dari kata baik.
Ajeng memeluk Ainaya. Mengatakan wanita itu untuk tetap sabar menghadapi masalah nya.
"Aku yakin Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya yang lemah. Jika kamu diuji dengan masalah yang berat, itu artinya kamu adalah orang pilihan." Melepaskan pelukannya menatap manik mata Ainaya dengan lekat.
"Bentar, aku ke kamar mandi dulu," pamit Ainaya. Meninggalkan Ajeng yang masih merapikan penampilannya.
Akhir-akhir ini Ainaya sering buang air kecil hingga membuatnya bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, Ainaya menghampiri Ajeng yang berdiri di depan pintu lift. Mereka bergegas menuju kantin untuk makan siang belum jam istirahat habis.
Baru beberapa menit duduk, Ainaya merasa ada yang menjanggal di bagian bawah perut.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Jeng," pamit Ainaya sambil berdiri.
Ajeng mengangguk pelan sambil membaca menu yang ada di depannya. Memesan dua porsi makanan untuknya dan Ainaya.
Ainaya merasa tubuhnya ada yang aneh hingga ia pulang lebih awal. Mungkin istirahat lebih lama kan memulihkan kondisinya yang akhir-akhir ini sedikit kurang baik.
"Kamu yakin gak mau aku antar, Nay?" tanya Ajeng cemas.
Ainaya menggeleng. Merapikan beberapa map yang sudah selesai ia kerjakan.
"Tolong nanti kasih ini ke Pak Dedi. Katakan pada beliau kalau aku pulang," pinta Ainaya menahan perutnya yang mulai terasa kram.
Ajeng mengangguk menatap punggung Ainaya yang mulai menjauh.
Sepanjang perjalanan Ainaya hanya bisa berdoa dan berharap kendaraan yang ditumpangi segera tiba ditempat tujuan. Sebab, saat ini ia sudah tak tahan dan ingin ke kamar mandi.
__ADS_1
"Berhenti di sini, Pak!" teriaknya menepuk bahu kang ojek.
Ainaya segera membayar dan berlari kecil menuju rumah. Ia melempar tas ke sembarang arah lalu ke kamar mandi. Tanpa sengaja kakinya terpeleset hingga jatuh.
Pyaaarrr
Suara gelas terjatuh memenuhi ruangan. Dada Haris bergemuruh hebat melihat serpihan kaca yang berserakan di bawahnya.
"Tuan kenapa?" tanya Riana, salah satu karyawan yang sedang melaporkan pekerjaannya.
Haris menggeleng, pikirannya berkelana memikirkan Jihan yang saat ini ke luar kota.
"Apa Tuan ngantuk?" tanya Riana lagi.
Haris menggeleng lagi. Lalu menyambar ponselnya dan menghubungi Jihan.
Terdengar suara tawa dari balik telepon, itu artinya dia baik-baik saja. Lalu kenapa Haris tiba-tiba merasa gelisah?
"Kamu denger aku gak sih, Mas?" pekik Jihan kesal.
"Denger kok," jawab Haris gugup. "Ya sudah hati-hati." Haris meraih jas dan memakainya. Menghampiri Riana yang ada di ruangan sebelah.
"Kamu kumpulkan semua laporan dan berikan pada Andik. Biarkan dia yang memeriksa," pesan Haris menegaskan.
Haris melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Meskipun ia sudah mendapat kabar dari Jihan, tetap rasa cemas itu memenuhi dadanya.
Mobil berhenti di bawah lampu merah.
Dari arah jauh nampak wanita hamil menyeberang dengan jalan tertatih-tatih sambil memegang perutnya, dan seketika itu juga nama Ainaya melintas di otak Haris.
Jihan gak ada dirumah, itu artinya gak ada makanan.
Membelokkan mobilnya ke arah rumah Ainaya.
Seperti biasa, suasana siang hari tampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang melintasi gang sempit. Haris berjalan gontai menuju rumah sang istri tanpa rasa ragu.
Baru jam segini, Ainaya di rumah gak ya? tanya dalam hati.
Menurunkan tangannya yang hampir mengetuk pintu. Ragu untuk masuk namun juga merasa lapar. Apalagi mengingat sup yang dimasak Ainaya kemarin begitu menggugah selera.
"Mungkin saja dia tidur." Tanpa permisi Haris membuka pintu. Matanya menangkap tas yang jatuh di bawah kursi.
"Nay," panggil Haris memungut tas milik Ainaya dan meletakkan di atas meja. Melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Membuka pintu dengan pelan. Matanya mengelilingi ruangan yang lumayan sempit itu lalu menutupnya lagi.
__ADS_1
"Kamu di mana, Nay?" Haris berjalan menuju belakang. Betapa terkejutnya saat melihat sebuah tangan tepat di depan pintu.
Haris bergegas menghampirinya. Mengangkat tubuh Ainaya dan membawanya ke mobil.
"Bangun, Nay!" Menepuk-nepuk pipi Ainaya dengan pelan. Tidak ada luka yang serius. Hanya sedikit memar di bagian kening, dipastikan itu terbentur dinding.
Tak berhenti memeriksa wajah Ainaya, Haris menaikan rok wanita itu hingga nampak paha putihnya.
"Syukurlah, dia tidak pendarahan."
Haris menutup pintu lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Haris uduk di depan ruang gawat darurat, di mana Ainaya diperiksa. Matanya tak teralihkan dari pintu, berharap dokter secepatnya keluar dan memberi kabar baik.
"Kenapa kamu ceroboh sih, Nay? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan bayiku," gumamnya kesal.
Pintu terbuka lebar. Seorang dokter keluar menghampiri Haris yang baru saja berdiri.
"Bagaimana keadaan bayi saya, Dok?" tanya Haris antusias.
Dokter tersenyum tipis. "Anak Tuan baik-baik saja, hanya saja keadaan istri Tuan sedikit lemah dan harus dirawat selama semalam untuk memulihkan kondisi nya. Seharusnya ibu hamil itu makan yang teratur, tapi yang saya lihat pasien mengalami dehidrasi dan tekanan batin," ujarnya menjelaskan.
Haris hanya mengangguk sekali. Ia tak peduli dengan keadaan Ainaya, yang terpenting adalah bayinya.
"Saya permisi dulu," pamit sang dokter.
Haris masuk menghampiri Ainaya yang berbaring lemah di atas brankar. Menatap lekat wajahnya yang tampak teduh.
Tanpa sadar tangannya menyentuh tangan Ainaya yang terasa dingin hingga mengusik wanita itu.
Ainaya membuka mata dengan pelan. Orang pertama kali ia lihat adalah Haris yang berdiri di sampingnya.
Mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum nya.
"Kamu yang membawaku ke sini?" tanya Ainaya menggeser tangannya sedikit. Menghindari tangan Haris.
"Iya, jawab Haris singkat dan datar.
"Makasih atas kepeduliannya."
Haris tertawa kecil. "Aku tidak peduli padamu, tapi aku peduli pada anakku."
Hati Ainaya terasa perih menyayat bak tertusuk tombak. Ucapan Haris ternyata lebih menyakitkan daripada luka nyata.
Terserah apa katamu, tapi suatu saat kamu pasti akan sadar betapa berharganya orang yang sudah mengandung anakmu ini.
__ADS_1