Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Mengusir


__ADS_3

"Kamu bisa mengurus Bilal, kan?" Haris menatap Jihan yang berdandan di depan meja rias.


"Bisa, memangnya kenapa?" tanya Jihan ketus. Menatap bayangan sang suami dari pantulan cermin. 


"Ya sudah, mulai sekarang kamu yang menjaganya. Jangan tergantung dengan Ainaya terus menerus. Bilal itu anak kita. Aku takut dia akan lebih dekat dengan Ainaya dari pada kamu," ujar Haris menjelaskan. 


Jihan menarik nafas dalam lalu berdiri. Menghampiri Haris yang duduk di tepi ranjang. 


"Yang paling menginginkan anak itu kamu, Mas. Dan kau sudah mengikuti sandiwara kamu. Kalau aku mengurus Bilal, itu artinya aku akan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, sedangkan aku juga ingin melanjutkan karir," tolak Jihan menegaskan. 


"Aku lakukan ini untuk menyelamatkan pernikahan kita, ingat itu. Mama sering meminta kita pisah hanya karena gak punya anak, jadi jangan egois," bantah Haris tak terima. 


Jihan meletakkan sisirnya lalu naik ke atas ranjang. Ia memilih untuk sibuk dengan benda pipihnya daripada berdebat dengan Haris yang pasti tak ada ujungnya. 


Sedangkan Haris, pria itu melepas bajunya lalu ke kamar mandi. 


"Kalau memang gak mau Bilal lebih dekat dengan Ainaya kenapa gak mencari pengasuh lain saja, dia kan banyak uang," gerutu Jihan menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. 


Kehadiran Bilal memang menyelamatkan pernikahannya yang goyah akibat tekanan bu Ida, namun Jihan belum terbiasa jika ia harus mengurus bayi itu sepenuhnya. Terlebih, Ainaya sudah mampu menangani nya dengan baik. 


Sedangkan di kamar Bilal, Ainaya tak bisa memejamkan matanya. Ucapan Haris yang menusuk jantung itu seolah masih terngiang di telinganya. 


Itu sangat menyakitkan, namun ia sudah terlanjur berlumpur dengan perjanjian yang tak diketahui. 


"Maafkan mama, Nak. Seandainya mama tahu ini yang inginkan papamu, mungkin mama akan memilih menjadi gelandangan dan hidup di kolong jembatan," ucap Ainaya dengan penuh penyesalan.


Air matanya tak henti-hentinya menetes mengingat keputusannya yang salah. 


Apa yang harus aku lakukan setelah ini. Ya Allah, tunjukkan jalan-Mu. 


Pergi, bekerja dan menjadi Ainaya yang kuat seperti dulu sebelum masalah menimpa.


Ainaya mengusap lembut pipi Bilal lalu meringkuk di sampingnya. Ia ingin bangun dari mimpi dan kembali kehidupan yang nyata. Memikirkan masa depannya nanti. 


"Hp ku ke mana?" Di tengah lamunannya tiba-tiba saja Ainaya teringat dengan ponselnya yang tak nampak. 


Ia turun dari ranjang lalu ke kamar. Mencari benda itu di antara baju dan barang-barangnya yang ada di kamar. Tanpa sengaja tangannya menyentuh paper bag pemberian bu Ida. 

__ADS_1


Ainaya membuka tas itu dan mengambil bajunya lalu menjewer. 


"Aku akan memakai ini saat mama ke sini saja, biar dia senang melihatnya."


Kembali fokus mencari ponselnya yang belum ketemu.  


"Aku taruh di mana ya?" Membuka lemarinya. Menyingkap lipatan baju yang sudah tertata rapi. Namun nihil, Ainaya tak menemukannya juga. 


Bukan karena barang itu mewah dan mahal. Akan tetapi, itu satu-satunya benda untuk menghubungi paman dan bibi.


"Kamu mencari apa, Nay?" Tiba-tiba saja suara berat menyapa dari ambang pintu.


Ainaya menoleh tanpa menyapa. Ia terpana dengan wajah Haris yang lebih tampan dari biasanya. 


Entah lah, akhir-akhir ini Ainaya memang merasakan sesuatu yang beda saat berdekatan dengan pria itu, namun ia mencoba menepis nya takut kecewa lebih dalam lagi. 


"Kamu dengar ucapanku, kan?" sapa Haris yang kedua kali sambil melambaikan tangannya di depan wajah Ainaya. 


"De–dengar, Tuan. Saya mencari hp. Sepertinya kemarin ada meja, tapi tiba-tiba saja gak ada," jawab Ainaya sedikit gugup. 


"Mungkin kamu lupa," tuduhnya. 


"Kalau gak lupa gak mungkin hilang," bantah Ainaya menatap punggung Haris yang berdiri tegap di depannya. 


Tidak ada cara lain, Haris keluar dari kamar itu dan beberapa saat kembali dengan membawa ponsel. Ia melakukan panggilan ke nomor Ainaya. 


Suara dering terdengar dari balik pembalut yang ada di sisi lemari membuat Ainaya dan Haris saling tatap. 


"Itu, lain kali jangan meletakkannya sembarangan." Haris menyungutkan kepalanya ke arah sumber suara. 


Ainaya bergegas mengambilnya. Benar saja, benda itu terselip di dalam kantong kresek besar. 


"Oh ya, Nay. Aku ke sini cuma mau bilang, kalau nanti Bilal sudah berumur dua bulan kamu boleh pergi. Mulai besok kamu bisa kasih dot aja supaya dia terbiasa."


Ainaya tersenyum hambar. Hatinya terasa nyeri saat mendengar ucapan Haris yang terang-terangan mengusirnya. Padahal, untuk saat ini Bilal satu-satunya harapan Ainaya untuk menjalani hidupnya yang buruk, namun dengan tega pria itu akan memisahkannya lagi. 


"Baik, Tuan," jawab Ainaya sembari memeriksa ponselnya. 

__ADS_1


Dahinya mengernyit saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Adam. 


''Ngapain mas Adam menelponku, apa ada sesuatu yang ingin dikatakan,'' gumam Ainaya lirih, dan sayup-sayup di dengar Haris. 


"Adam siapa, Nay?" tanya Haris penyelidik. 


Ainaya terkejut lalu menutup layar ponselnya. ''Teman saya, Tuan. Dia yang kemarin nolongin saya di __"


Ainaya menghentikan ucapannya. Tidak mungkin mengatakan bahwa ia sempat ke Bali untuk menyusul pria tersebut dan bertemu orang baik bernama Adam. 


"Pasar," lanjutnya.


Haris geleng-geleng lalu pergi meninggalkan Ainaya. Langkahnya berhenti saat mengingat nama yang sama dengan keponakan Tuan Gunawan. 


Gak mungkin mereka orang yang sama, Adam orang Bali dan baru datang kemarin. Sedangkan Ainaya di rumah ini sudah seminggu lebih. 


Melanjutkan langkahnya menuju kamar tamu. Haris mengambil bantal dan membawanya ke sofa ruang tengah. 


"Aku telpon balik gak ya?" Ainaya ragu, namun takut ada yang penting. Terlebih pria itu sudah baik padanya dan membiayai saat pulang. 


"Besok aja deh, mungkin saja sekarang dia sudah tidur." 


Ainaya meletakkan ponselnya di atas meja lalu keluar. 


Lampu sudah menyala redup. Ainaya langsung menuju kamar Bilal. Ia kemudian berhenti di tengah jalan saat melihat kaki yang menjulur melebihi sofa. 


Kenapa mas Haris tidur di sofa? Bukankah di rumah ini banyak kamar. Apa dia bertengkar lagi dengan bu Jihan?


Bodo amat, itu bukan urusan Ainaya yang tak dianggap. Ia langsung masuk ke kamar Bilal dan berbaring. 


Hampir lima belas menit mata Ainaya tak bisa terpejam. Otaknya terus mengingat Haris yang saat ini berada di luar. 


"Pasti mas Haris kedinginan." Mengetuk-ngetukkan jarinya di atas perut. Terpaksa turun lagi dan mengambil selimut dari lemari. Membuka pintu dengan pelan dan berjalan mengendap-endap. 


Terdengar nafas yang teratur pertanda Haris sudah terlelap. Ainaya langsung menutup seluruh tubuh sang suami meninggalkan wajahnya. 


''Selamat tidur, Mas. Semoga mimpi yang indah. Sebelum kita berpisah nanti, aku ingin melayanimu seperti istri yang lain," ucap Ainaya lirih lalu kembali ke kamar. 

__ADS_1


__ADS_2