
Waktu berlalu begitu cepat. Meski belum ada tanda-tanda keberadaan Ainaya, Haris tak pantang menyerah. Ia masih tetap mencari wanita itu hingga ke seluruh penjuru. Namun, pergerakannya tercekat karena sebuah pekerjaan yang menuntut waktu dan juga Bilal yang kini semakin lengket padanya.
Seperti saat ini, bayi yang hampir berumur lima bulan itu pun terus mencengkram baju sang papa yang hampir berangkat.
''Yakin Bilal gak mau ikut oma?'' Haris mencium kening Bilal dengan lembut. Mencoba melepaskan jemari mungilnya yang menggulung di jas bagian lengan.
Seolah bisa menangkap pertanyaan dari nya, bayi itu semakin mengeratkan cengkramannya.
''Kayaknya dia mau ikut ke kantor, Ma.'' Haris terkekeh. Membayangkan saat bekerja sambil memangku bocah itu, pasti konsentrasinya teralihkan.
''Ya sudah ajak saja, nanti papa yang kerjakan tugas kamu,'' sahut pak Indrawan yang baru saja keluar dari kamar.
''Iya, lagipula Bilal itu lebih butuh kamu dari pada mama,'' ucap bu Ida mengizinkan.
Akhirnya, Haris menggendong Bilal dan mengajaknya ke kantor. Bahkan ia sempat mengunggah kebersamaannya saat berada di mobil dengan sebuah caption.
Selamat pagi semua, ini pertama kali Bilal ikut kerja dengan papa. Semangat pejuang rupiah.
Hanya beberapa menit publish, unggahan itu menuai banyak komentar positif. Banyak yang beranggapan bahwa Haris sudah duda hingga beberapa wanita menawarkan diri menjadi istri. Bahkan, dari mereka banyak yang DM langsung.
Semoga kamu melihat postingan ini, Nay. Aku dan Bilal merindukanmu. Pulanglah, aku berjanji akan membahagiakan mu di sisa umurku.
''Bagaimana dengan hubunganmu dan Jihan, Ris? Apa kamu jadi menceraikan dia?'' Suara pak Indrawan membuyarkan lamunan Haris.
''Jadi, Pa. Tiga hari yang lalu aku sudah mendaftarkan ke kantor pengadilan agama. Tidak ada alasan untuk mempertahankan dia. Jika kami tetap bersama, itu akan sangat menyakiti Bilal.''
Pak Indrawan mengangguk mengerti. Ia pun mendukung keputusan Haris kali ini. Karena dari awal ia pun tak terlalu setuju dengan kehidupan Jihan yang terlalu bebas di luaran sana. Hanya saja ia menghargai Haris dan cintanya.
Mobil berhenti di depan gedung tempat Haris mengais rejeki. Ia langsung turun diikuti Andik yang membawa perlengkapan bayi, sedangkan pak Indrawan memegang botol susu.
''Selamat pagi, Pak,'' sapa karyawan yang melintas sambil tersenyum.
''Lucu ya?'' tukas Haris melihat beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan intens.
__ADS_1
''Gak, Pak, Anda memang suami dan papa idaman,'' sanjung mereka hampir bersamaan.
Haris melanjutkan langkahnya. Tak peduli dengan tanggapan mereka, hanya satu yang dia harapkan yaitu Ainaya melihat postingannya tadi.
''Kita sudah sampai.'' Haris langsung ke kamar dan membaringkan Bilal, sedangkan Andik meletakkan barang-barang di sisi ranjang. Mempersiapkan segala keperluan yang mungkin dibutuhkan Bilal nanti.
''Apa Tuan ingat kalau Ajeng bukan asli penduduk sini? Ternyata dia berasal dari Jawa. Apa mungkin Nona Ainaya bersembunyi di sana?''
Haris mengernyitkan dahi. ''Apa menurut kamu Ajeng memang menyembunyikan Ainaya?'' tanya Haris antuias.
''Bisa jadi, karena kita sudah mencarinya ke mana-mana tapi belum dapat petunjuk, semoga saja dugaan saya benar.''
Entah, setelah semalaman berpikir keras, Andik yakin bahwa Ainaya memang pergi ke kota asal gadis itu, bahkan ia sempat akan menghubungi Ajeng lagi, namun diurungkan sebelum Haris tahu.
''Baiklah, kamu suruh orang mencari tahu alamat nya, aku sendiri yang akan mencari ke sana. Majukan semua jadwalku untuk seminggu ke depan, karena aku akan segera pergi setelah sidang kedua dengan Jihan.''
''Baik, Tuan.'' Andik segera keluar dan melaksanakan semua perintah Haris. Mengubah beberapa jadwal penting.
''Doakan papa berhasil, Sayang. Papa akan segera membawa mama pulang.'' Mengusap lembut bibir ranum sang buah hati yang mulai tenggelam di alam mimpi.
Bibir yang mirip dengan milik Ainaya itu selalu membuat Haris semakin rindu. Hatinya seperti bergerak untuk segera pergi ke tempat Ajeng.
Hari ini Haris menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan cepat. Meski sesekali harus mengganti popok dan memberikan Bilal susu, tak masalah, justru itu adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
''Akhirnya selesai juga.'' Membuka ponsel yang dari tadi terabaikan. Membaca beberapa pesan dari bu Ida dan juga beberapa teman bisnisnya.
Di ruangan lain
Dengan mudah, Andik mendapatkan alamat Ajeng. Cukup ia berbicara dengan Anton dan mengatakan bahwa dia adalah pacar gadis itu. Terlebih, Ajeng sendiri pun sudah mengatakan pada sang bos bahwa ia pun tahu tentang Andik yang berstatus sebagai asisten suami dari sahabatnya.
''Semoga berhasil, Pak.'' Itulah ucapan dari Anton saat Andik berpura-pura akan melamar pegawainya.
''Maaf Pa, mengganggu.'' Haris menghampiri pak Indrawan yang nampak sibuk dengan map di depannya.
__ADS_1
''Ada apa, mana Bilal?'' tanya pak Indrawan menghentikan aktivitasnya.
Haris duduk di kursi tamu berhadapan langsung dengan sang papa.
''Bilal tidur, tadi sudah minum susu. Aku ke sini mau bilang pada papa kalau seminggu ke depan aku akan pergi mencari Ainaya. Ada kemungkinan dia bersembunyi di tempat sahabatnya.''
''Benarkah?'' Pak Indrawan tersenyum lebar. Mendengar itu ia ikut bahagia dan berharap secepatnya mendapatkan titik terang.
''Ini cuma dugaan saja, Pa. Tapi semoga saja benar.''
''Papa pun berharap seperti itu dan secepatnya kamu bertemu dia.'' Pak Indrawan pun berharap besar perjuangan sang putra itu bertepi dan mendapatkan apa yang selama ini tengah menghilang.
''Apa Andik akan ikut?'' tanya pak Indrawan kemudian.
Haris menggeleng tanpa suara, karena kali ini ia tidak akan melibatkan siapapun termasuk sang asisten, bahkan akan pergi seorang diri tanpa sopir. Mungkin, itu akan lebih baik seandainya memang Ainaya ada di sana.
Andik mengirim pesan alamat Ajeng ke nomor WA Haris, ia juga menulis secara detail tempat tinggal wanita itu.
Bu Ida yang ada di rumah pun ikut mendoakan rencana Haris yang akan mencari Ainaya. Seorang ibu yang mendukung penuh atas apa yang akan dilakukan anaknya, dan rela berkorban demi kebahagiaan cucunya.
Mungkin untuk saat ini ia merasa menang karena akhirnya Haris mau menceraikan Jihan seperti keinginannya dulu, namun belum bisa tertawa lebar saat mengingat Ainaya entah di mana.
''Selamat ya, Jeng.'' Anton mengulurkan tangannya ke arah wanita yang baru saja keluar dari ruangannya.
Ajeng mengerutkan kedua alisnya. Ia tak mengerti apa maksud bosnya itu. Namun, tetap bersalaman.
Selamat untuk apa? Bahkan ulang tahunnya saja masih sangat lama. Ataukah ini ucapan bela sungkawa karena kekecewaannya pada Rendy yang berhianat?
''Ternyata diam-diam kamu punya hubungan khusus dengan pak Andik,'' lanjut Anton semakin membuat Ajeng bingung.
Hubungan apa?
Ajeng hanya bisa tersenyum kecut tanpa bertanya.
__ADS_1