Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Manfaat menjemur bayi


__ADS_3

Mentari belum sepenuhnya terbit. Haris yang baru bangun langsung turun dan duduk di ruang makan. Pria itu terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya. Sesekali tertawa lebar. 


"Baiklah, aku akan segera datang," ucap Haris dengan seseorang yang ada di balik telepon. 


Ainaya yang ada di dapur hanya bisa mendengar percakapan sang suami. Tak ingin menyapa ataupun mendekat, pasti akan serba salah di mata pria tersebut. 


"Lagi ngapain. Nay?" tanya Haris tiba-tiba berdiri di belakang Ainaya. Entah sejak kapan lelaki itu datang, Ainaya pun tak menyadarinya. 


"Mencuci piring, Tuan. Maaf kalau saya berisik," ucap Ainaya sopan layaknya seorang pembantu.


Haris melipat kedua tangannya. Menyandarkan punggungnya di dinding. Matanya tak teralihkan dari Ainaya yang membelakanginya. 


"Bikinin aku kopi!" titah Haris kemudian. 


Ainaya mengangguk tanpa suara. Lalu mengambil cangkir yang ada di lemari. 


Meracik kopi dan gula ke dalam cangkir sembari merebus air. 


Kira-kira mas Haris suka manis gak ya?


Ainaya memasukkan satu setengah sendok teh kopi ke dalam cangkir. Menoleh ke arah Haris yang sudah kembali ke ruang makan. 


"Kalau ditanya pasti jawabnya bentak, malas." 


Ainaya menambah satu sendok gula lagi, takut kurang manis. Ia membawa secangkir kopi panas itu di hadapan Haris, jalannya terlalu pelan karena rasa jahitannya yang masih terasa perih. 


"Maaf, Tuan. Kalau kurang manis bisa komplain," ucap Ainaya berdiri di samping meja. Ia siap mendengarkan keluhan rasa kopi buatannya. 


Haris menyeruput kopi hitam itu. Mencecapnya dan menikmati kopinya. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang seolah mengingat sesutau. 


"Kopi ini seperti __"  


Haris menatap Ainaya yang tersenyum ke arahnya lalu kembali menyeruput nya untuk yang kedua kali. 


Gak mungkin, ini cuma kebetulan saja.


Haris mencoba menepis perasaannya dan yakin bahwa Ainaya bukan orang yang ia maksud. 


''Bagaimana rasanya, Tuan?'' tanya Ainaya harap-harap cemas.


Lamunan Haris terbuyar mendengarkan suara lembut sang istri. 


''Biasa aja,'' jawabnya datar. Sedikitpun tak ingin memberikan pujian karena sudah membuat kopi yang sesuai selera nya.

__ADS_1


Setidaknya aku tahu seleramu, Mas. 


Ainaya kembali ke belakang. Ia melanjutkan aktivitasnya sebelum memandikan Bilal.


''Mas, aku bosan di rumah," seru Jihan dari arah tangga.


Haris menoleh menatap Jihan yang berjalan ke arahnya. "Lalu kamu mau apa? Keluar dan semua orang akan tahu tentang sandiwaramu?" Angga menghabiskan kopinya hingga tersisa ampas. 


"Bukan begitu, aku kan bisa nyamar, Mas. Lagipula cuma mau ke mall sebentar," rengek Jihan mendesak. 


Haris menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya pelan. 


"Terserah kamu, tapi aku gak mau apa yang sudah kita rencanakan itu berantakan hanya karena kecerobohanku.


Jihan memeluk Haris dan mengucapkan terima kasih, tak lupa meminta uang belanja. 


Jihan yang sudah rapi langsung pergi. Ia naik mobil milik Haris, sementara pria itu menghubungi mamanya dan beralasan pergi ke rumah sakit supaya mereka tidak datang. 


"Kasihan mas Haris, pasti dia tertekan dengan keadaan ini." Ainaya membawa Bilal ke taman  belakang dan berpura-pura tidak tahu tentang pembicaraan Haris dan Jihan. 


"Kita berjemur dulu ya, Sayang. Biar sehat." Ainaya duduk di tengah taman yang menghubungkan langsung dengan mentari pagi. 


Haris menghampiri Ainaya yang ada di taman. Ia pamit karena hari ini ada pertemuan penting dengan klien dari luar kota. 


Ainaya menundukkan kepalanya. Memberanikan diri untuk bicara karena ia sangat lapar setelah sebelumnya disedot Bilal. 


Haris melakukan panggilan dan memesan makanan. 


''Cepat sedikit, aku tunggu!" Memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celana. Lantas membungkuk mencium Bilal yang ada di pangkuan ibunya. 


Namun, tanpa sengaja pipinya terasa basah saat terkena baju Ainaya. 


"Apa ini?" tanya Haris sembari mengusap pipinya jijik.


Ainaya menahan tawa saat melihat cairan putih itu mulai merembes ke bajunya. 


Semenjak melahirkan Asi yang ia miliki tumpah ruah hingga terkadang mengalir deras tak terkendali.  


"Maaf Tuan, itu __" Ainaya menghentikan ucapannya malu mengucapkan nya di depan Haris.  


"Apa?" tanya Haris menyelidik. 


Ainaya meraih kain yang sengaja di bawa untuk menutupi tonjolan di dadanya. 

__ADS_1


Seketika Haris paham lalu kembali berdiri tegak. Berpindah posisi menghalangi Bilal dari paparan sinar matahari.  


"Jangan di situ, Tuan? Adiknya gak terkena matahari," tegur Ainaya menggeser tubuhnya ke samping.  


"Kenapa? Kasihan Bilal nanti kepanasan."


Ainaya berdecak. Bukankah suaminya itu seorang pembisnis yang tahu segala macam ilmu, kenapa masalah itu harus dipertanyakan. 


"Apa yang harus saya jawab, Tuan?" tanya Ainaya balik. 


Haris mengangguk-anggukan kepalanya dan menyapu sudut taman yang indah. 


"Menghangatkan tubuh bayi di bawah sinar matahari dapat memberikan rasa hangat, sehingga si kecil akan merasa nyaman. Selain itu, berjemur dapat mencegah kondisi bayi mengalami hipotermia (kedinginan) yang berbahaya. Manfaat menjemur bayi lainnya ketika dilakukan pada pagi hari adalah dapat memperkuat tulang bayi. Kandungan vitamin D yang terkandung dalam sinar matahari dapat membantu kalsium dan mudah terserap dalam darah. Setelah itu, vitamin tersebut akan menyatu dengan tulang, sehingga membuat bagian tubuh tersebut lebih kuat," terang Ainaya panjang lebar. 


Ternyata dia paham, aku kira cuma asal ngikut kata orang.


Ting tung 


Bunyi bel menggema mengejutkan Haris. Ia yang tenggelam dalam lamunan kini bergegas ke depan untuk memastikan siapa yang datang.


Ternyata kurir yang mengantarkan pesanan Haris. Pria itu langsung menuju dapur dan meletakkan makanannya di piring kemudian membawanya pada Ainaya. 


"Sekarang kamu makan, biar aku yang gendong Bilal.'' Haris duduk menepuk kedua pahanya bergantian. 


"Gak papa, nanti kalau Bilal pipis gimana? Dia gak pakai pampers."


Haris menggeleng dan tak sabar untuk memeluk putranya. Padahal, ia sudah rapi dan hampir pergi, namun demi sang buah hati harus rela terlambat ke kantor. 


Disisi lain 


Jihan mengusap lututnya yang memar karena terbentur lantai. Akibat jalannya yang terburu-buru, ia menabrak seorang pria dari arah berlawanan hingga terjatuh. 


"Anda gak papa, Nona?" tanya seorang pria mengulurkan tangannya membantu Jihan berdiri.


"Gak papa, tapi lututku berdarah." Jihan meringis saat rasa perih mulai menyeruak. Tetap waspada dan menarik topinya hingga menutupi kening. Tak ingin ada yang tahu tentang keberadaannya saat ini.


Aku seperti pernah melihatnya?


Pria itu menatap wajah Jihan yang nampak samar. Mengingat-ingat wajah yang menurutnya sangat tak asing. 


"Maaf aku harus pergi,'' pamit Jihan. Ia berjalan tertatih-tatih meninggalkan pria yang masih menelusuri tentang jati diri nya. 


"Ah, bodoh amat. Mungkin saja aku bertemu dia di kawasan hiburan."  

__ADS_1


Pria itu pun meninggalkan mall karena hari ini ada rapat penting. 


__ADS_2