Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Alasanku memilihmu


__ADS_3

Ainaya mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat. Lalu, mengelilingi sudut ruangan. Menoleh ke arah Haris. Tangannya mengulur mengusap rahang kokoh sang suami dengan lembut sembari tersenyum. 


Ternyata semalam bukan mimpi. Aku benar-benar menjadi istrimu yang sesungguhnya. Semoga kamu menepati janjimu. Karena aku gak sanggup tersakiti untuk yang kedua kalinya. 


Ainaya menyibak selimut lalu menurunkan kedua kaki. Merentangkan otot-ototnya terasa kaku. Entah kenapa, kali ini sekujur tubuhnya terasa remuk bak dihantam batu bata, sendi-sendinya pun terasa nyeri dan sulit digerakkan. 


Sekuat tenaga ia melangkah. Mengambil piyama yang teronggok di lantai lalu meletakkannya di keranjang khusus baju kotor. Lantas, ia berjalan mengendap-endap ke kamar mandi tanpa busana. Membersihkan diri dengan guyuran air shower mungkin akan membantu melunturkan rasa pegal. 


Beberapa saat Ainaya tenggelam ada alunan cinta yang bergelora. Sentuhan lembut Haris masih sangat terasa hangat di kulit hingga ia terus mengingatnya. Penyatuannya semalam meninggalkan jejak yang luar biasa. 


Aku berharap malam berikutnya akan tetap sama. Tidak ada kata bosan untuk menyentuhku,  dan jangan ada wanita lagi selain aku. 


Ainaya segera mengakhiri aktivitasnya. Selain terlalu lama di kamar mandi, ia pun sudah menggigil. 


Semoga mas Haris belum bangun.


Ainaya meraih handuk dan menutup tubuhnya. Membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Matanya langsung menatap ke arah Haris yang berbaring di atas ranjang. 


Untung saja dia masih tidur. Mengusap dadanya yang terekspos. 


Berjalan pelan menuju lemari dan berhenti di sana. Matanya menatap ke arah piyama yang kini ada di keranjang. Pasalnya, ia lupa membawa baju ganti dan hanya baju itu yang ada di kamar sang suami. 


''Masa iya aku pakai lagi, kan sudah kotor,'' gumamnya kecil. ''Gak mungkin juga turun seperti ini.'' 


Ainaya mencari cara agar bisa keluar dari kamar itu dengan bajunya sendiri tanpa membangunkan Haris yang masih tertidur pulas. 


''Apa aku telepon bibi saja.'' Berpikir sejenak. ''Gak ah, nanti dia curiga lagi.'' 


''Kamu ngapain di situ, Sayang?'' Tiba-tiba terdengar suara berat dari arah ranjang. 


Ainaya menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya melihat Haris sudah duduk bersandar di headboard. 


''Kamu sudah bangun, Mas?'' tanya Ainaya gugup. 


Haris tersenyum dan mengangguk. Menepuk tempat kosong di sebelahnya. 

__ADS_1


''Aku mau turun, takut mama nyariin,'' ucap Ainaya malu. Menutup dadanya dengan kedua telapak tangan. 


''Kenapa gak pakai baju?'' tanya Haris penyelidik. ''Atau jangan-jangan mau ronde ketiga,'' goda Haris menaik turunkan alisnya. 


Ainaya menggeleng cepat. Tubuhnya terlalu lelah untuk melakukan itu. Butuh energi ekstra supaya bisa melayani Haris seperti semalam. 


''Semua bajuku ada di kamar Bilal. Gak mungkin aku turun seperti ini,'' ucapnya lemah. 


Haris bangkit. Ia menyalakan lampu utama lalu menghampiri Ainaya yang mematung di tempat. 


''Gak usah pakai baju juga gak papa, kan cuma aku yang lihat,'' goda Haris yang membuat Ainaya berdecak kesal. 


Haris membuka lemari dan mengambil dress berwarna lavender. Kemudian memberikannya pada sang istri. 


''Ini baju mbak Jihan?'' tanya Ainaya keceplosan. 


Haris tersenyum paksa, sedikit tersentil dengan ucapan itu. Seolah mengingatkan pada wanita yang sudah membohonginya selama bertahun-tahun. 


''Bukan. Baju ini aku beli untuk kamu.'' Meraih tubuh ramping Ainaya dan memeluknya. Mengecup rambutnya yang basah. Menghirup dalam aroma sampo yang sering ia pakai.


Ainaya mendongak, menatap manik mata Haris yang nampak sendu. 


''Kenapa kamu memilihku? Apa ini hanya karena Bilal, atau ada alasan lain?''


Sebagai seorang istri, ia apun berhak tahu alasan Haris memilihnya, sedangkan Jihan pun lebih segala-galanya. 


''Iya, karena aku gak bisa memisahkan anak kita dari ibu kandungnya. Dia butuh kasih sayang kamu, bukan Jihan,'' terang Haris serius. 


Ainaya menarik napas dalam-dalam. Apa yang diucapkan Haris benar, Bilal membutuhkan dia, bukan orang lain. Namun, ia sedikit kecewa dengan jawaban itu.


Sebenarnya Ainaya ingin bertanya lagi alasan lain yang membuat Haris memilihnya, namun ia takut jawaban lelaki itu  akan lebih mengecewakan. Asalkan tidak disakiti, ia sudah merasa cukup dan tak butuh kata cinta. 


''Aku ganti baju dulu.'' 


Baru saja memutar badan, tangan kekar Haris meraih tubuhnya lagi hingga mereka saling berpelukan. 

__ADS_1


''Itu hanya salah satu dari sekian alasan, Sayang. Dan aku akan mengatakan alasan utama kenapa aku memilihmu.'' 


Hening 


Jantung Ainaya berirama lebih cepat. Wajahnya sedikit tegang menunggu ucapan Haris selanjutnya.


''Karena aku ingin memberikan apa yang belum pernah aku berikan sebelumnya, aku ingin menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami. Memenuhi semua keinginanmu. Mungkin kata cinta tidak cukup untuk mewakili perasaanku.'' Menepuk dadanya berulang kali. 


''Aku sangat sangat sangat mencintaimu, Nay. Dan aku terlambat menyadarinya.'' 


Ainaya tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa meresapi setiap kata yang terlontar dari bibir Haris. Merasakan sebuah kenyamanan yang lagi-lagi membuatnya lupa diri. 


''Aku mau turun, Mas,'' ucap Ainaya mengalihkan pembicaraan. Ia takut kejadian semalam terulang lagi, sementara ia takut terkapar di atas ranjang.  


Haris melepas pelukannya lalu mengambil hair dryer dari laci. 


''Aku bantu keringkan rambutmu.'' 


Ainaya duduk di depan meja rias. Ia menghadap ke arah cermin, menatap bayangannya dari pantulan cermin. Sedangkan Haris sudah menyalakan pengering rambut dan mulai menjalankan aktivitasnya. 


''Kita akan turun bersama. Aku mandi dulu.'' Haris meninggalkan Ainaya setelah rambut wanita itu kering. Namun, langkahnya berhenti di depan pintu kamar mandi saat namanya dipanggil. 


''Kamu mau sarapan apa?'' tanya Ainaya. 


Haris tersenyum kecil. Sepertinya ia harus sering menggoda sang istri yang masih tampak lugu dan belum berpengalaman. ''Aku sarapan kamu saja sudah cukup,'' ucap Haris konyol yang membuat Ainaya tersipu. 


Haris kembali mendekat, mana mungkin ia bisa meninggalkan wanita cantik yang pipinya sudah merona itu. 


''Aku bisa sarapan apa saja. Dan mulai hari ini aku akan menyuruh bibi untuk memasak makanan kesukaanmu,'' ucap Haris menjelaskan.


''Apa kita akan tinggal disini terus?'' tanya Ainaya penasaran. Setidaknya ia pun bisa beradaptasi jika itu terjadi. 


''Tidak. Kita akan tinggal sendiri membangun keluarga kecil kita. Mungkin seminggu lagi rumah kita jadi dan sudah bisa ditempati.'' 


Antara senang dan tidak, karena setelah ini ia akan menjadi seorang istri dan ibu sepenuhnya. Memikul beban yang lebih besar dari sekarang. 

__ADS_1


Akankah ia sanggup melalang buana bersama Haris? 


__ADS_2