Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Melahirkan


__ADS_3

Ainaya dan Adam memang baru beberapa jam berkenalan, namun mereka terlihat seperti seorang sahabat yang sudah lama saling mengenal. Bahkan, pria itu memastikan Ainaya masuk ke dalam pesawat. Lambaian tangan menjadi saksi bisu perpisahan mereka. Pertemuannya sangat mengesankan hingga meninggalkan beberapa kenangan yang sulit dilupakan. 


''Semoga kita bisa bertemu lagi,'' teriak Adam dari kejauhan. 


Ingin sekali membuntuti Ainaya hingga ke kota nya. Akan tetapi, itu tak mungkin mengingat dirinya yang menetap di Bali.


Aianya menanggapinya dengan senyuman manis lalu masuk. 


Beruntung sekali istri nya Mas Adam, dia baik banget. Tapi sayang, aku gak bisa berkenalan dengan nya. 


Ainaya duduk lalu membaca doa. Berharap perjalanannya kali ini lancar seperti saat ia berangkat. 


Setibanya di kota asal, Ainaya langsung menghubungi Lidya memberi kabar bahwa ia sampai dengan selamat lalu pulang ke rumah. 


Sejak turun dari pesawat Ainaya terus mendesis saat perutnya terasa nyeri. 


Apa ini karena kelelahan, terka nya dalam hati. Ia naik taksi supaya lebih aman. 


Sepanjang perjalanan, Ainaya terus menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang mulai menyeruak. 


Ya allah, perutku kenapa?


Mencengkram ujung bajunya. Sesekali memejamkan mata untuk mengurangi rasa sakit. 


"Nona gak papa?" tanya sopir taksi menghentikan mobilnya sejenak. 


Ainaya menggeleng. ''Aku gak papa, Pak. Tolong cepetan sedikit!'' Berusaha mencari ponselnya, namun rasa sakit itu terus menjalar hingga tangannya gemetar dan tak mampu untuk mengambilnya. 


Jangan-jangan aku mau melahirkan? Ah, tapi gak mungkin. Kata dokter masih dua minggu lagi. 


Ainaya turun dengan pelan saat mobil berhenti di depan gang rumahnya. Ia mengambil tasnya. Berjalan tertatih-tatih untuk bisa tiba di rumah. 


Aianya menjatuhkan tasnya di belakang pintu. Lantas, duduk di kursi menjulurkan kedua kakinya ke depan dengan punggung yang bersandar. Kedua tangannya terus mengelus perutnya yang semakin terasa nyeri. 


''Aku harus telpon mas Haris.'' Ainaya mengambil ponselnya dan menghubungi nomor suaminya. 


Tersambung, namun pria itu tak menerimanya justru mematikannya. 


Ting Tung


Bunyi notif pesan masuk. 


Jangan ganggu. Aku sibuk. 

__ADS_1


Ternyata itu adalah pesan dari Haris yang memperingatkan Ainaya supaya tidak mengganggunya. 


Aku tahu, Mas. Tapi ini keadaannya darurat. 


Tidak ada pilihan lain, Ainaya menelepon paman dan bibi, sekuat tenaga ia berbicara dengan mereka tentang apa yang dialami saat ini.


''Bibi akan segera kesana.''


Ainaya mematikan ponselnya. Is terus meringis kesakitan. 


Paman dan bibi membawanya ke rumah sakit terdekat. Mereka pun ikut panik saat melihat darah yang mengalir dari jalan lahir. Setelah sekian lama bersama, ini pertama kali mereka peduli pada sang keponakan. 


''Yang kuat, bibi yakin kamu pasti bisa.'' Meyakinkan Ainaya sebelum dibawa ke ruang bersalin. 


Paman memegang tangan Ainaya dan mengucapkan doa untuk wanita itu. 


Paman dan bibi berjaga di luar. Sesekali mengintip dari balik pintu kaca. Dalam hati terus melantunkan doa untuk Ainaya yang saat ini berjuang antara hidup dan mati. 


Bibi mendekati paman yang nampak termenung. Duduk di samping nya hingga mereka menatap ke arah yang sama. 


''Ternyata selama ini Ainaya tinggal di rumah jelek. Aku kira Haris memberinya fasilitas yang lengkap seperti istri pertamanya," ungkap bibi lirih. 


Paman mengusap wajahnya kasar. Selama ini ia pun berfikir seperti itu, namun ternyata semua tak sesuai ekspektasinya. Justru, Ainaya tinggal yang lebih buruk dari rumah mereka. 


Bibi menggeleng tanpa suara. "Dia ke luar kota, Dok," jawabnya asal. 


Dokter kembali masuk dan menutup pintu. Menghampiri Ainaya yang meringkuk sambil menjalani pemeriksaan. 


''Apa suami Anda sudah dihubungi?" tanya dokter serius. 


Ainaya menggeleng pelan. Wajahnya tampak pucat serta tenaganya mulai berkurang. 


"Tapi saya akan mencoba menghubunginya lagi, Dok." Ainaya mengambil ponselnya dengan bantuan dokter lalu melakukan panggilan ke nomor Haris. 


Di seberang sana, Jihan yang mendengar dering ponsel milik Haris pun mengambilnya lalu mengetuk pintu kamar mandi. 


''Ada apa, Sayang?" teriak Haris tanpa membuka pintu. 


"Ada telepon dari nomor tanpa nama," ujar Jihan juga berteriak. 


''Angkat saja aku masih lama,'' jawab Haris dari dalam. 


Jihan duduk lalu mengangkat teleponnya. 

__ADS_1


''Halo,'' sapanya dengan suara pelan. 


Mbak Jihan. Ainaya hanya mengucap dalam hati 


Tidak mungkin ia mengatakan pada Jihan tentang dirinya saat ini, pasti semua akan rumit. Terlebih, yang Jihan kenal ia hanya anak dari mantan pembantu Haris, bukan istri. 


Ainaya segera menutupnya lagi lalu memberikan ponselnya pada dokter. 


''Maaf, Dok. Suami saya belum bisa pulang. Paman saya yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada saya," ucap Ainaya sambil mencengkram sprei di bawahnya. 


Dokter saling tatap dan mengangguk tanda setuju. 


Hampir satu jam Ainaya merasakan sakit yang luar biasa. Ia bahkan sempat ingin menyerah dan meminta operasi, namun dokter menyarankan untuk bertahan melihat kondisinya yang masih stabil. 


''Anda pasti bisa, Nona.'' Dokter dan suster terus memberikan semangat yang bertubi-tubi. Mereka silih berganti berbisik di telinga Ainaya dengan kalimat-kalimat baik serta doa. 


''Sudah pembukaan sepuluh, Dok.'' Salah satu dokter turun tangan dan memeriksa dengan teliti, sedangkan suster pun menjalankan tugasnya masing-masing. 


Ainaya mengikuti instruksi dari dokter hingga sebuah tangisan yang menggema membuatnya bisa bernapas dengan lega. 


Dokter langsung meletakkan bayinya di dada Ainaya sambil membuka kancing baju sang ibu bagian atas.


Ainaya meneteskan air mata saat ia bisa mendekap putranya. Rasa sakit yang sangat luar biasa itu akhirnya digantikan dengan anugerah indah, yaitu hadirnya bayi mungil yang saat ini mencari makanannya. 


''Sayang sekali papa mu tidak ada di sini, Nak. Tapi mama janji, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan papa.'' Mencium pucuk kepala putranya dengan lembut. 


Paman dan bibi mengucapkan syukur atas kabar bahagia itu. Meskipun mereka belum bisa menemui Ainaya, setidaknya keponakan dan cucunya selamat. 


Dada Haris berdebar-debar. Ia terus memeluk Jihan. Mengira kehadiran wanita itu yang membuatnya bahagia. Tak dapat dipungkiri, pernikahannya yang berjalan lima tahun memang begitu hangat. 


"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Jihan heran seraya melihat wajah Haris yang nampak berbinar. 


"Gak tahu, pokoknya aku bahagia. Mungkin ini semua karena kamu. Pura-pura mengusap perut palsu Jihan. 


Bu Ida yang ada di sofa ikut tersenyum melihat kemesraan mereka. 


"Kalian cepat pulang. Mama lebih suka Jihan melahirkan di rumah daripada di sini," ungkap Bu Ida menatap pak Indrawan 


Mereka berdua sudah tak sabar menyambut cucu pertama nya. Kehamilan Jihan bagaikan hujan turun di musim kemarau. Itulah yang membuat bu Ida berubah pikiran dan semakin sayang pada sang menantu.


Deg


Tiba-tiba jantung Haris berdegup kencang saat teringat dengan Ainaya.

__ADS_1


__ADS_2