
''Wah, Mas Didin tampan sekali,'' puji Luluk tanpa berkedip.
Ainaya menoleh mengikuti mata gadis itu memandang. Ternyata benar, Didin tampak berbeda. Jika biasanya lelaki itu hanya memakai kaos oblong dengan leher yang sudah terlalu kendor serta celana training, kali ini ia memakai kemeja kotak dan celana jeans. Rambutnya tertata rapi. Cukup memukau untuk ukuran cowok kampung.
''Kalian sudah siap?'' Suara berat itu membuyarkan lamunan Luluk yang terpana dengan penampilan Didin.
''Sudah, Mas,'' jawab Ainaya lugas, sedangkan Luluk hanya mengangguk. Lidahnya terlalu kelu untuk mengucap.
''Aku naik dengan Luluk saja ya, Mas,'' ucap Ainaya sembari menunjuk motor matic milik sang sahabat.
Didin mengangguk lalu menghampiri motor sport nya. Mungkin, hanya ada beberapa orang yang memiliki motor seperti itu, termasuk Didin.
Sebelum pergi, mereka melambaikan tangannya ke arah bu De yang berdiri di ambang pintu tanda pamit.
Luluk melajukan motornya dengan pelan. Sesekali berbincang menembus hembusan udara yang menerpa. Dinginnya angin malam yang menusuk tak lagi terasa. Gelapnya pun bukan halangan mereka menikmati indahnya kota Kartini.
Cukup menyenangkan, banyak pemandangan yang menyejukkan mata dan itu membuat Ainaya lupa dengan masalahnya.
''Kamu suka gak?'' tanya Luluk dengan nada tinggi.
''Suka, lain kali boleh dong kita jalan lagi,'' jawab Ainaya dengan nada tinggi pula.
''Boleh, yang penting ada mas Didin yang mentraktir kita.'' Keduanya tertawa terbahak-bahak.
Didin yang berjalan di belakang mereka hanya bisa tersenyum melihat keduanya, meski tak mendengar percakapan itu, ia yakin saat ini Ainaya bahagia.
''Makan apa kita malam ini?'' Luluk menghentikan motornya di depan warung makan tenda yang ada di dekat pasar kota. Ia menunjuk beberapa warung dengan menu yang berbeda.
Memang kebanyakan olahan kampung, namun itu malah membuat Ainaya ingin segera mencicipi semuanya.
''Bakso saja, seperti rencana kita tadi siang.'' Menunjuk kang bakso yang sibuk melayani pelanggan.
Didin memarkirkan motornya, begitu juga dengan Luluk. Mereka menghampiri Ainaya yang masuk lebih dulu.
__ADS_1
Ternyata di tempat itu sangat ramai pengunjung hingga harus mengantri untuk mendapatkan semangkok bakso.
''Mas Didin mau makan bakso juga? Kalau mau yang lain gak papa?'' tanya Ainaya mendekati Didin.
''Bakso saja. Kamu duduk saja dulu, biar aku yang pesan.'' Didin menunjuk kursi kosong yang ada bagian tepi.
Ainaya langsung duduk tanpa protes, sedangkan Luluk memesan minuman. Baru beberapa menit di tempat itu, banyak yang melirik Ainaya terutama pada wajahnya yang nampak cantik. Mereka, para lelaki saling senggol. Bahkan ada yang mengedipkan mata genitnya membuat Ainaya risih.
Ya ampun, mereka kenapa seperti itu sih, gak pernah lihat perempuan apa ya.
Ainaya memilih untuk menunduk pura-pura tidak melihatnya.
Luluk datang membawa tiga es teh disusul Didin membawa tiga mangkok bakso. Mereka saling duduk berhadapan untuk menghindari tatapan orang lain.
''Mau aku ambilin, Nay?'' tawar Didin mengambil kecap dan saus lalu menuangkan di mangkok milik Ainaya. Tak ingin terlihat berlebihan, lelaki itu juga menuang di mangkok milik Luluk.
''Makasih, Mas.'' Jantung Luluk berdebar-debar saat Didin membalas dengan senyuman manisnya. Meski ia tahu rasa sukanya itu tak akan terbalaskan, tidak apa-apa, yang penting dia bisa dekat dengan pria itu.
Bukan tanpa alasan Luluk beranggapan seperti itu. Ia merasa tidak pantas untuk Didin yang terlahir dari keluarga kaya raya di kampungnya, sedangkan ibu dan bapak Luluk hanya menjadi buruh dan bekerja membantu bu De di sawah. Derajat mereka seperti bumi dan langit yang tak akan menyatu meski saling melengkapi.
''Kalau Ajeng tahu, pasti dia juga suka, Mas.'' Ainaya mengeluarkan ponselnya lalu foto bertiga dengan gaya yang berbeda. Mengirimkan ke nomor Ajeng.
''Di buka gak?'' tanya Didin kepo.
Ainaya menggeleng, menunjukkan pesannya yang hanya centang dua abu-abu.
''Mungkin dia juga lagi malam mingguan dengan pacarnya.''
Ajeng memasukkan kembali saat beberapa pasang mata memperhatikan, mungkin mereka heran dengan ponselnya yang sangat mahal dan berkelas, atau karena menganggapnya katrok sudah selfi di warung.
Usai menikmati bakso, Luluk dan Ainaya serta Didin melanjutkan jalan-jalan ke taman kota. Dimana banyak pemuda bergerombol disana, banyak pula yang hanya berdua dengan pasangannya. Sungguh, suasana seperti ini sangat pas untuk melepas segala masalah yang menyesakkan dada.
''Mas Didin sering ke sini?'' tanya Ainaya menghentikan langkahnya.
__ADS_1
''Tidak juga, mungkin ini yang ketiga kali. Pertama aku dengan Ajeng, kedua dengan temanku yang sekarang bekerja di luar negeri, dan sekarang sama kamu,'' ucap Didin sambil tersenyum.
Mereka duduk di kursi yang ada di tepi taman. Menikmati gemerlap lampu yang menghiasi.
''Aku ke kamar mandi dulu ya,'' pamit Luluk, ia menitipkan tas nya pada Ainaya.
''Hati-hati, jangan lama-lama,'' teriak Ainaya yang langsung dijawab anggukan oleh Luluk.
Kini hanya tinggal Didin dan Ainaya yang tertinggal. Mereka sedikit merasa canggung dan saling diam hingga deheman Didin membuat Ainaya menoleh.
''Apa kamu masih mencintai suamimu, Nay?'' tanya Didin membuat Ainaya mengernyit.
''Maaf kalau aku lancang, cuma pingin tahu saja,'' imbuhnya.
Ainaya tersenyum kaku. Tidak sepantasnya Didin bertanya seperti itu. Akan tetapi wajar juga, toh selama ini lelaki itu tak pernah macam-macam dan selalu menjaga etika serta kesopanannya.
''Apa pertanyaan itu harus aku jawab, Mas?'' tanya Ainaya balik.
Didin menggeleng cepat, takut jika itu membuat Ainaya tak nyaman dan tidak mau lagi dekat dengannya.
''Gak usah, Nay. Maaf, aku cuma __"
''Gak papa,'' sergah Ainaya santai.
''Mencintai tanpa dicintai rasanya sangat sakit, Mas. Dan selama ini itu yang aku rasakan. Cintaku bertepuk sebelah tangan, bukan mas Haris yang salah, tapi aku. Dari awal pernikahan dia sudah menjelaskan semuanya, tapi hatiku tidak bisa berdusta bahwa cinta itu tumbuh begitu saja, apalagi saat aku mengandung, rasanya tidak ingin bercerai dan akan tetap bersama. Tapi apa? Setelah bayiku lahir pun mas Haris masih membenciku. Dia tidak peduli padaku dan memberikan anakku pada mbak Jihan.''
Menjeda ucapannya sejenak untuk menghela napas panjang.
''Sekarang aku sadar bahwa mencintai tak harus memiliki. Meski kami memiliki anak, tapi rasanya mustahil jika harus bersatu.''
Tanpa terasa buliran bening kembali menetes begitu saja di pipi Ainaya, tak lama kemudian wanita itu terisak mengingat bayi mungil yang ditinggalkannya.
''Bagaimana Jika nantinya Haris mencarimu? Apa kamu akan menerimanya lagi?'' tanya Didin memastikan.
__ADS_1
Ainaya menggeleng. ''Aku tidak akan mengulang masa lalu kelam itu. Aku ingin hidup dengan laki-laki yang benar-benar mencintaiku apa adanya, bukan memanfaatkanku belaka.''
Didin tersenyum lebar, setidaknya ia masih punya kesempatan membuka lembaran baru untuk Ainaya.