Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Menerima


__ADS_3

Hening


Ajeng masih duduk di kursi khusus untuk tamu, sedangkan Andik duduk di sofa sedikit jauh dari meja kerjanya Anton. Mereka tak saling bicara selama sang pemilik ruangan itu keluar.


Terpaksa sang asisten melibatkan perusahaan sahabatnya demi misinya kali ini. Meski itu adalah urusan pribadi, Anton pun mengizinkan dengan tangan terbuka.


''Apa sampai nanti kita akan terus begini?'' Ajeng membuka suara. Bosan dengan suasana yang membuat bulu halusnya merinding.


Apalagi mereka berdua dalam satu ruangan yang sangat sepi. Ajeng takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Andik menepuk sofa kosong yang ada di samping nya. Memberi kode pada gadis itu untuk duduk.


''Gak mau, aku di sini saja,'' jawab Ajeng jual mahal.


''Gak papa, ada cctv, jadi aku gak mungkin berbuat macam-macam.'' Andik menunjuk benda kecil yang ada di sudut ruangan.


Daripada membuang waktu, Ajeng berdiri dari duduknya dan beralih duduk di samping Andik, sedikit jauh, kira-kira berjarak lima puluh centi.


''Ada apa?'' tanya Ajeng memalingkan pandangannya. Terkesan tidak sopan, namun ia malu, takut lelaki itu bisa membaca aura wajahnya yang gugup.


''Malam ini aku mau ajak kamu dinner.''


Jantung Ajeng menari-nari di atas kegugupannya. Ia bersusah payah menelan saliva yang hampir mengering. Sungguh, ini diluar dugaannya, ia mengira Andik akan melamarnya lagi seperti semalam. Namun ia salah, justru lelaki ber jas hitam yang mirip oppa korea itu malah mengajaknya dinner.


''Bagaimana?'' tanya Andik mendesak.


''Apa ini ada hubungannya dengan semalam?'' tanya Ajeng memastikan.


''Iya,'' jawab Andik jujur.


Ajeng menarik napas dalam-dalam. Ia harus bicara. Mumpung empat mata dan tidak ada siapapun di tempat itu, dan ia rasa saat ini adalah waktu yang paling tepat.


''Beberapa kali aku putus cinta. Menurutku semua laki-laki itu sama. Mereka hanya akan manis di awal saja, selanjutnya akan menimbang-nimbang lagi jika diajak menikah. Sedangkan kamu berbeda. Kita belum kenal, tapi sudah mengajak menikah. Cukup membuatku salut sih, tapi aku juga butuh bukti, Mas," ucap Ajeng panjang lebar.


Andik terkekeh. Mendekatkan bibirnya di pipi wanita itu.


Anton yang dari tadi menonton lewat cctv pun ikut tegang karena mengira lelaki itu akan mencium si gadis.

__ADS_1


''Kampreettt, dia yang untung aku yang buntung,'' pekik Anton kesal sembari menendang kursi di depannya.


Beberapa penjaga yang melihat itu pun hanya bisa menahan tawa dengan tingkah lucu bos nya.


''Bukti yang seperti apa?'' bisik Andik serius. Menatap pipi Ajeng dengan lekat, karena hanya bagian itu yang bisa dilihat saat ini.


''Bukti __" Ajeng menggantung ucapannya. Bingung mau mengucapkan apa. Pasalnya, Andik sudah mencakup semuanya dan sedikitpun tidak ada yang cacat.


''Bukti kalau kamu benar-benar menginginkan aku,'' lanjut Ajeng sekenanya.


Andik mengeluarkan kotak kecil dari saku tasnya dan meletakkan di atas meja. Itu adalah kotak yang kemarin ditolak oleh Ajeng.


''Kamu terima lamaranku dulu, maka aku akan membuktikan kesetiaanku," ucap Andik meyakinkan.


Ajeng menggulung jari-jarinya dan menurunkan ke bawah. Berpikir keras lagi untuk memberi keputusan. Terkesan buru-buru, namun ia suka dengan keseriusan lelaki tersebut.


Hening lagi, keduanya saling tatap tanpa berkedip dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan, Ajeng bisa merasakan hembusan nafas lelaki yang beberapa menit lalu melamarnya.


''Baiklah, aku terima lamaranmu,'' ucap Ajeng menjulurkan jarinya.


Andik menyematkan cincin berlian itu di jari manis Ajeng lalu tersenyum. ''Aku akan segera ke kampung untuk meminta restu pada bu De,'' ucapnya kemudian.


Ajeng mengangguk, berharap apa yang diucapkan Andik bukan hanya omong kosong seperti lelaki yang sebelumnya.


''Kamu ke sini hanya untuk ini?'' tanya Ajeng menyelidik.


''Iya, dan sekarang aku akan kembali ke kantor. Mas Didin dan Tuan Haris sudah nungguin." Andik berdiri dari duduknya. Mempersilakan Ajeng berjalan lebih dulu, lalu ia mengikutinya dari belakang, mengawal.


''Bukan nya itu klien pak Anton?kenapa sangat akrab dengan Ajeng?'' tanya salah satu karyawan yang melihat saat Andik membukakan pintu lift untuk sang tunangan.


''Gak tahu, jangan-jangan mereka pacaran,'' jawab yang lainnya.


''Wah, beruntung sekali si Ajeng, bisa dapat gebetan baru yang lebih tampan dan mapan, mendingan yang ini daripada yang kemarin,'' imbuh lainnya lagi lalu tertawa.


''Eh, aku denger-denger suami Ainaya juga orang kaya. Sayangnya dia menjadi yang kedua." Mereka berganti topik membicarakan wanita yang dulu juga pernah menjadi rekan kerjanya.


''Tapi sekarang dia satu-satunya, karena suaminya sudah sadar dan menceraikan istri pertamanya.''

__ADS_1


Ajeng mengantarkan Andik hingga ke depan. Ia melambaikan tangannya tanda perpisahan saat lelaki itu menyalakan mesin mobil yang ditumpangi.


''Nanti malam aku jemput,'' ujar Andik lalu melajukan mobilnya meninggalkan halaman tanpa menunggu jawaban.


Ajeng masuk dengan hati yang berbunga-bunga. Tak dapat dipungkiri, hari ini ia sangat bahagia karena sudah resmi menjadi tunangan seorang Andik, asisten dan sekretaris dari Haris.


''Kayaknya ada yang lagi dapat doorprize,'' sindir Lidya tanpa menatap.


Ajeng menghela nafas panjang dan duduk di depan sang sahabat.


''Mas Andik melamarku, Lidya. dia beneran mau menikahiku,'' terangnya.


''Apa!'' pekik beberapa orang yang ada di sekitar membuat Ajeng melongo.


Mereka terpaku dan menatap Ajeng dengan tatapan menyelidik. Sungguh, itu kabar yang membahagiakan namun juga membuat mereka iri.


''Mana Buktinya?'' tanya Lidya pura-pura tak percaya.


Ajeng mengangkat jari manisnya dan menunjukkan cincin berlian yang beberapa saat lalu disematkan oleh Andik.


''Dia memberikan ini sebagai tanda kita sudah resmi tunangan. Dan kapan-kapan dia akan ke kampung untuk meminta restu pada Bu De," ujarnya seperti yang diucapkan Andik tadi di ruangan Anton.


Kini semua orang hanya bisa terdiam dan mengangguk. Lalu kembali ke meja masing-masing melanjutkan pekerjaan mereka.


Lydia membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ajeng yang nampak berseri-seri.


''Kalau ke kampung aku ikut,'' ucapanya pelan, takut yang lain mendengarnya.


''Kamu pasti kangen mas Didin ya?'' tebak Ajeng dengan suara lantang.


Lidya segera membungkam bibir gadis itu, takut semua orang heboh dengan urusannya. Padahal, belum tentu Didin suka padanya.


''Jangan keras-keras, aku hanya kangen bu De saja,'' ucapnya berbohong.


Ajeng tertawa keras. ''Sekarang mas Didin juga ada di sini, dia bekerja dengan mas Andik, jadi gak usah repot-repot ke kampung,'' terang Ajeng jujur.


Sebab, ia pun setuju jika memiliki kakak ipar seperti Lidya. Selain sudah mengenal sejak lama, gadis itu baik dan cocok untuk sang kakak yang pendiam.

__ADS_1


__ADS_2