
''Ini kantornya Haris. Kamu mau masuk sendiri atau aku temani?'' Adam melepas seatbelt. Menunjukkan pada Ainaya bangunan mewah yang berdiri kokoh di depannya.
Tidak ada yang membuat Ainaya kagum. Apa yang dibanggakan dari sosok Haris, meski mempunyai banyak harta, tetaplah dia pria yang kejam dan berhati batu. Hingga sedikit pun tak mengagumi apapun dari lelaki itu.
Ini masalah pribadi, dan aku harus bicara sendiri.
''Gak usah, Mas. Aku mau masuk sendiri. Mungkin akan lebih baik.'' Ainaya langsung turun setelah mendapat anggukan dari pria itu. Merapikan rambut sebelum melanjutkan langkahnya.
Berjalan menuju resepsionis yang bertugas. Menyapa dengan mengatupkan kedua tangannya di dada layaknya yang ia lakukan pada orang lain saat berkenalan.
''Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?'' ucap wanita cantik yang bertugas.
Ainaya tersenyum, wajahnya mendadak gugup saat beberapa orang melihat penampilannya yang mungkin terlihat asing di mata mereka. Sederhana dan lugu.
''Saya mau bertemu dengan pak Haris. Apa beliau sudah datang?'' tanya Ainaya ragu.
Kedua wanita yang berdiri di depan Ainaya saling tatap lalu mengangguk tanpa suara. Mungkin terdengar aneh, wanita biasa ingin mencari bos besar yang pasti tak selevel.
''Saya ingin bertemu dengan dia,'' lanjut Ainaya mengatakan tujuannya.
''Maaf, Mbak. Tapi kami tidak bisa menerima orang sembarangan. Setiap tamu yang ingin bertemu dengan Tuan Haris harus mengisi data lengkap, dan kami juga akan meminta persetujuan beliau.''
''Ya ampun, kenapa ribet amat sih, kayak mau bertemu presiden saja,'' kesal Ainaya.
Ainaya menatap formulir yang ada di depannya. Terpaksa ia harus mengisi lampiran itu daripada harus kembali sebelum bertemu dengan sang suami.
''Ini, Mbak.'' Ainaya memberikan formulir itu kembali setelah semua diisi. Kecuali pekerjaan. Sebab, saat ini ia adalah pengangguran.
''Terima kasih, mohon ditunggu sebentar.''
Ainaya duduk di salah satu ruangan sambil menunggu persetujuan Haris. Matanya terus menyisir setiap karyawan yang berlalu lalang menjalankan aktivitasnya masing-masing.
Bayangan saat ia bekerja menjadi karyawan pun melintas, namun kini itu hanya akan menjadi sebuah mimpi karena sebentar lagi akan pergi ke desa, yang pasti tidak ada kantor atau perusahaan besar seperti di kota.
Andik masuk ke ruangan Haris. Menatap sang bos yang nampak sibuk dengan laptop di depannya.
__ADS_1
''Maaf, Tuan. Ada nona Ainaya di bawah.'' Andik menunjukkan pesan dari resepsionis.
Seketika Haris menutup laptop nya. Menatap foto formulir di layar ponsel sang asisten. Otaknya mulai menerka-nerka tujuan sang istri datang ke kantornya.
Apa dia akan meminta cerai lagi. Tapi sayang sekali aku tidak akan mengabulkannya.
"Suruh dia langsung ke sini!" titahnya.
"Baik, Tuan."
Haris beralih duduk di sofa dan bersiap untuk menyambut wanita yang sudah memberikan bayi laki-laki untuknya tersebut. Tak lupa menyuruh orang untuk menyiapkan jamuan di ruangannya.
Andik menghampiri Ainaya yang baru saja keluar dari lift lalu mengantarnya ke ruangan sang bos.
"Silahkan masuk! Nona sudah di tunggu." Andik membuka pintu. Setelah Ainaya masuk ia memanggil security untuk berada di depan ruangan itu.
"Silahkan duduk, Nay!" Haris menepuk sofa kosong yang ada di samping nya.
Ainaya bergeming, sedikit tegang saat berada di depan Haris. Sedangkan lelaki itu justru sebaliknya malah tersenyum bahagia.
"Saya ke sini tidak lama, Pak. Hanya ingin meminta kepastian. Ceraikan saya. Saya janji tidak akan mengganggu keluarga Anda dan mengungkit tentang masa lalu kita. Anggap saja setelah ini kita tidak saling mengenal seperti dulu. Tuan dan bu Jihan akan hidup bahagia, begitu juga dengan saya," terang Ainaya panjang lebar.
Haris menundukkan kepala, mungkin yang diucapkan Ainaya benar adaya. Ia akan hidup bahagia setelah menceraikan wanita itu. Tidak ada masalah lagi dari pihak orang ketiga, dan pernikahannya pun aman. Namun, entah kenapa itu adalah keputusan yang berat baginya.
Hening
Otak dan hati Haris berperang dan mencoba untuk se arah, namun itu hanya membuatnya frustasi.
"Bapak hanya tinggal mengatakan talak itu saja," Ainaya kembali menekankan.
"Aku gak bisa, Nay." Dengan entengnya pria yang mengenakan jas berwarna navy itu menolak permintaan Ainaya yang begitu mudah.
"Kenapa?" Ainaya menatap Haris dengan tatapan tajam. Kita Menikah bukan karena perjanjian, dan Saya sudah menjalankan sesuai kesepakatan, lalu sampai kapan Anda menghukum saya?" teriak Ainaya dengan bibir bergetar.
Aku tidak menghukummu, Nay. Aku hanya mencari cara untuk mengungkap semuanya.
__ADS_1
Haris segera bangkit dan menghampiri Ainaya, ia mencoba meraih tubuh ramping itu, namun seketika menghindar.
"Jangan sentuh saya! Sekarang ceraikan saya!" pinta Ainaya dengan suara lirih. Ia terlalu lelah untuk meminta pada lelaki itu.
"Beri aku waktu. Aku akan menjelaskan semuanya. Sekarang tenangkan hatimu dulu." Mengulurkan tangannya di depan Ainaya, namun lagi-lagi wanita itu menepisnya dengan kasar.
"Egois, kamu memang tidak pernah memperdulikan hati orang lain. Keterlaluan. Cep __"
Pintu terbuka menghentikan ucapan Ainaya. Wanita itu memalingkan pandangannya ke arah lain untuk mengusap air matanya yang membasahi pipi.
"Papa..." Haris menyapa pak Indrawan yang datang.
Pria paruh baya itu menatap Haris dan Ainaya bergantian. "Ada apa ini?Apa kedatanganku mengganggu?"
Ainaya menghampiri pak Indrawan dan bersalaman.
"Maaf, Om. Tidak ada apa-apa. Sepertinya saya harus pergi, permisi."
Ainaya membungkuk ramah. Melirik ke arah Haris sekilas lalu keluar. Berhenti di depan pintu lift.
"Baiklah, mungkin kita bisa berperang dengan keadaan ini. Siapa yang menang dan siapa yang kalah."
Ainaya menekan tombol lift lalu masuk. Ia yakin akan tetap pergi meskipun masih berstatus istri Haris.
Kecewa itu pasti, akan tetapi Ainaya pun tak bisa membuka suara karena ia tak mau menghancurkan kehidupan Haris, orang yang sudah membantu kedua orang tuanya juga paman dan bibi.
"Ngapain Ainaya ke sini, Ris?" tanya pak Indrawan menyelidik.
Haris mendadak gugup dan berkeringat dingin, dari relung hati terdalam ia ingin sekali jujur status wanita yang baru saja di ruangannya, namun ia belum siap untuk kehilangan Jihan dan pernikahannya yang sudah dibangun selama hampir enam tahun. Mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.
"Tidak ada apa-apa. Dia cuma meminta bayaran karena sudah menjadi ibu susu Bilal." Haris kembali ke kursi kerja nya.
Setidaknya ia bisa menjawab dengan jawaban yang lumayan tepat.
"Kasih lebih, Ris. Sepertinya dia orang tidak mampu," suruh Pak Indrawan iba.
__ADS_1
Haris hanya mengangguk lalu mentransfer uang ke nomor rekening Ainaya. Sengaja mengirim dengan nominal sangat besar.
Mungkin dengan ini kamu bisa melihat perubahanku, Nay. Aku tidak ingin melepasmu, tunggu aku menjelaskan pada keluargaku.