
Adam menatap Haris dengan tatapan tajam. Seolah pria itu adalah musuh terbesarnya. Raut wajahnya dipenuhi dengan amarah. Kedua tangannya mengepal dan siap untuk memukulnya.
''Untuk apa kamu ke sini?'' tanya Adam membentak.
''Mau bertemu Ainaya,'' jawab Haris lugas. Kakinya terus mengayun mendekati Adam tanpa rasa ragu.
''Jangan pura-pura, pasti kepergian Ainaya ada hubungannya dengan pertemuan di kantor kamu.''
Haris mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa Adam menuduhnya seperti itu tanpa ada bukti yang jelas. Sedangkan ia sendiri tak tahu apa-apa, karena setelah kejadian di kantor waktu itu ia pun tak pernah berjumpa dan bicara dengan Ainaya, meski melalui ponsel.
Haris tak menjawab, ia menyenggol bahu Adam. Melintasi pria itu lalu membuka pintu apartemen tempat tinggal Ainaya. Berteriak memanggil nama sang istri. Juga membuka kamarnya yang nampak rapi.
Apa mungkin dia pulang ke rumah bibi dan paman.
Haris menutup pintu kamarnya lagi lalu keluar. Ia melangkah lambat menuju pintu lift. Hanya satu tempat tujuannya saat ini, yaitu rumah paman dan bibi. Meski hatinya mulai cemas, namun ia mencoba untuk tenang dan berharap secepatnya akan menemukan wanita tersebut.
Adam pun tak bisa berbuat apa-apa, karena dia dan Ainaya hanya sebatas teman, sedangkan Haris adalah suami. Namun, ia juga menghubungi beberapa orang untuk mencarinya. Meminta mereka bergerak cepat sebelum Haris yang menemukannya lebih dulu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah paman. Rumah yang menjadi saksi pernikahannya dengan sang istri. Tempat, di mana ia dan Ainaya disatukan di hadapan Allah.
Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kamu, termasuk menceraikan Jihan.
Berulang kali Haris membunyikan klakson pada mobil yang melaju sangat lambat di depannya. Ia sudah tak sabar ingin segera tiba ke tempat tujuan. Mengucapkan kata maaf, mungkin itu yang menjadi permulaan sebelum ia menyambung hubungannya lagi.
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, jalanan mulai dipenuhi kegelapan, namun tak segelap hati Haris saat ini. Seakan separuh jiwanya menghilang mengingat kepergian sang istri.
Haris menarik napas dalam-dalam sembari menatap rumah sederhana paman. Kemudian turun dan berjalan lenggang memasuki pagar yang mulai lapuk. Ia mengetuk pintu dengan pelan.
''Sebentar...'' teriak suara seorang perempuan dari dalam, itu jelas bukan suara Ainaya melainkan bibi.
Pintu terbuka lebar. Benar, bibi yang menyambut kedatangan Haris.
__ADS_1
''A--ada apa, Tuan datang ke sini?'' tanya bibi gugup.
Semenjak menjadi suami dari sang keponakan, bahkan pria itu sekali pun tak pernah menginjakkan kaki di rumahnya. Seolah sudah lupa dengan kebaikannya yang sudah mengorbankan sang keponakan demi kebahagiaannya.
Haris tersenyum tipis. Matanya menyusuri ruang tamu yang sedikit redup. ''Apa Ainaya ada di sini, Bi?'' tanya Haris sopan yang membuat bibi terkejut.
Sungguh, tak menyangka pria yang angkuh dan dingin bisa menjadi ramah dan lemah lembut. Tidak hanya dari tutur sapa, wajah Haris juga sedikit membungkuk sopan.
Bibi menggeleng tanpa suara. Bibirnya terkunci. Bingung mau menganggap pria itu siapa, tetap majikan seperti dulu yang harus dihormati atau sebagai menantu.
''Siapa yang datang?''
Suara paman mendadak berhenti saat melihat Haris berdiri di ambang pintu. Sama seperti bibi, pria paruh baya itu langsung menyongsong kedatangan tamunya dan menyuruh masuk.
''Maaf, Tuan. Saya gak tahu Tuan akan datang.'' Paman merapikan mejanya.
''Gak papa, Paman.''
Pergerakan paman tercekat. Dia yang sudah memunggungi Haris pun kembali menoleh ke arah sumber suara.
Paman membuang pikiran kotornya. Mencoba untuk yakin bahwa ucapan itu benar-benar dari hati, bukan sandiwara atau rekayasa.
Haris menautkan kedua tangannya, malu dengan mereka berdua.
''Aku datang ke sini mau mencari Ainaya. Apa dia ada di sini?'' tanya Haris ke inti.
Paman menatap bibi. Kemudian menggeleng. ''Sejak melahirkan dia tidak pernah datang ke mari, Tuan. Memangnya kapan dia pergi, dan ada masalah apa lagi?'' tanya paman balik. Mencoba untuk bicara sebagai keluarga, bukan atasan dan bawahan.
Haris mendongak menatap manik mata kedua orang tua yang sudah merawat Ainaya semenjak kedua orang tuanya meninggal.
Aku gak mungkin menceritakan semua masalah ku dengan Ainaya pada mereka. Meski aku yakin paman dan bibi juga sudah tahu.
__ADS_1
''Aku juga gak tahu kapan dia pergi. Aku tahunya juga baru tadi sore.'' Menundukkan kepalanya.
Paman duduk di samping Haris. Menepuk tangan pria itu bersikap layaknya orang tua kepada anaknya. ''Paman akan bantu kamu, tenang saja,'' ucap paman serius.
Haris sedikit lega, setidaknya paman akan membantunya.
''Makasih, Paman, Bibi. Aku harus segera pulang, kasihan Bilal.'' Haris beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan di depan sang mertua. Mungkin ini menjadi adegan yang sangat langka, dan bahkan mungkin tidak akan terulang lagi.
Paman segera menerima uluran tangan itu. ''Hati-hati!'' ucapnya mengiringi.
Baru saja tiba di teras. Haris kembali menoleh ke arah paman dan bibi yang mengikutinya dari belakang.
''Kalian boleh main ke rumah jika kangen dengan Bilal,'' ucapnya lagi.
Mereka hanya mengangguk dan tersenyum. Dari lubuk hati terdalam memang ingin sekali menggendong anak dari keponakan nya itu, namun mereka sadar diri dengan kedudukannya yang memang tak sejajar dengan keluarga Haris.
Setelah mobil Haris menghilang di balik kegelapan, paman dan bibi saling tatap. Seolah masih penuh dengan tanda tanya dengan sikap pria itu dan juga kepergian Ainaya.
''Bukankah dulu dia yang menyuruh Ainaya pergi setelah melahirkan, tapi kenapa sekarang malah dicari. Apa jangan-jangan Ainaya membawa barang berharga dari rumah Tuan Haris? Itu artinya keponakan kita menjadi buronan,'' terka bibi asal.
Paman menyenggol lengan bibi yang menurutnya bicara ngawur. ''Kalau memang Ainaya merampok, gak mungkin Tuan Haris datang dengan sopan. Pasti dia sudah marah-marah pada kita. Kamu gak lihat wajahnya seperti seseorang yang sangat kehilangan. Apa jangan-jangan dia sudah mulai mencintai keponakan kita. Itu artinya mereka sudah seperti suami istri beneran.'' Paman pun ikut berargumen.
''Semoga itu benar.'' Bibik masuk lebih dulu, sedangkan paman menutup pintu dan menguncinya.
Ia mulai menghubungi beberapa kerabat jauh dan beberapa temannya untuk menanyakan Ainaya. Berharap ia akan menemukan wanita itu.
''Kira-kira Ainaya ke mana ya, Pak?'' Tiba-tiba mata bibi mengembun. Teringat dengan wasiat kakak nya waktu itu.
''Ini, aku juga masih nyari.'' Paman mengirim pasan pada setiap kontak yang tersimpan di ponselnya.
Jaga Ainaya dengan baik. Setidaknya sampai dia menemukan jodohnya. Karena aku tidak akan tenang jika anakku menderita.
__ADS_1
Ucapan almarhum ibu Ainaya terngiang-ngiang lagi di telinga bibi membuat wanita itu meneteskan air mata.
Maafkan bibi, Nay. Selama ini bibi sudah jahat sama kamu. Pulanglah, pintu rumah bibi terbuka lebar. Bibi minta maaf atas kesalahan yang pernah bibi lakukan.