Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Akhirnya...


__ADS_3

Haris mengabaikan makanannya. Ia lebih fokus memandangi Ainaya yang sibuk bercanda dengan Ajeng dan Lidya. Mereka terlihat kompak namun juga serius. 


''Sebenarnya apa yang mereka bahas?'' 


Andik duduk di samping sang Tuan yang nampak melamun. Ia pun ikut penasaran dengan pembahasan ketiga wanita itu. Apalagi, sesekali mereka tertawa sambil melihat layar ponsel. 


''Mungkin ada video lucu di sosmed,'' jawab Didin asal. Karena ia pun sering seperti itu saat tak sengaja melihat sebuah video lucu di salah satu aplikasi. 


Haris bangkit dan mendekati Ainaya membuat suasana sedikit canggung. Ingin bertanya, malu dengan yang lain. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa dan bertanya singkat. 


''Ada apa, Mas?'' tanya Ainaya lirih. 


Harsi tersenyum. ''Aku menagih jawaban atas pertanyaanku tadi pagi,'' ucap Haris ke inti. 


Ainaya menautkan kedua tangannya. Ia belum memiliki jawaban yang tepat. Ragu untuk mengatakan iya. Tidak mungkin pula menjawab tidak, karena itu artinya ia memilih jauh dari Bilal, sedangkan hatinya saat ini sudah memendam rindu yang menggebu. 


Ajeng dan Lidya saling berbisik sambil melirik Ainaya dan Haris. Sebagai sahabat, mereka hanya bisa mendukung keputusan wanita itu tanpa harus menghalang-halangi. Berpisah ataupun bersatu sudah pasti dipikirkan matang-matang. 


Memejamkan mata sejenak. Menyatukan hati dan pikiran yang selalu tak sejalan. Berharap keputusannya kali ini sudah benar dan membawa kebahagiaan yang abadi. 


***


''Bagaimana ini, Pa? Kenapa Bilal nangis terus?'' Bu Ida semakin panik saat sang cucu itu terus menangis histeris. 


Pak Indrawan mencoba menghubungi Haris, namun ponsel pria itu aku aktif, ia pun kembali menelpon Andik. Sama saja, sang asisten pun mengangkat telepon darinya. 


''Sini, biar papa yang mencoba menggendongnya.'' Mengambil alih lalu membawanya ke taman. Memberikan suasana baru untuk Bilal. 


''Itu burungnya, Nak. Wah, lucu sekali.'' Menunjuk burung kesayangan Haris yang ada di dalam sangkar. 


Bilal mulai memelankan suaranya seolah ia merespon ucapan pak Indrawan. Sesekali matanya mengikuti kemana arah jari sang kakek bergerak. 


''Tenang, ya. Opa yakin mama akan segera pulang,'' bisiknya di telinga Bilal. 

__ADS_1


Bu Ida mendekat dan mengecup lembut kepala Bilal yang mulai ditumbuhi rambut lembut. Lalu beralih mencium kening bayi itu. 


''Mungkin dia kangen dengan mamanya ya, Pa. Semoga Ainaya ikut pulang,'' ucap bu Ida penuh harap. 


Sebab, ia masih berharap Ainaya dan Haris bersatu dan segera mengajukan pernikahannya di kantor urusan Agama.


''Kalaupun tidak, kita gak usah memaksa. Ainaya juga berhak menentukan hidupnya sendiri. Dengan siapapun nantinya dia menikah, kita harus tetap mendukungnya. Menjadi orang tuanya.'' 


Dari lubuk terdalam pak Indrawan pun berharap Ainaya akan pulang, namun ia pun tak bisa memaksakan hati seseorang. Terlebih, masa lalu wanita itu dan Haris tak terlalu baik. 


Bu Ida mengangguk setuju. 


Suara isakan dari arah pintu membuat pak Indrawan dan bu Ida terkejut. Mereka menoleh ke arah sumber suara lalu tersenyum. 


''Aianya...'' Bu Ida berlari kecil menghampiri sang menantu yang tampak lelah. Ia memeluknya dengan erat dan menangis sesenggukan. 


Haris yang berdiri di belakangnya hanya bisa menjadi penonton seperti halnya pak Indrawan dan Andik. Ikut terharu dengan pertemuan itu. 


''Akhirnya kamu pulang juga, Nak. Bu Ida mengusap punggung Ainaya yang bergetar hebat. Menenangkannya untuk diam dan juga memberitahu bahwa Bilal baik-baik saja.


Pak Indrawan berjalan menghampiri Ainaya. ''Tidak ada ibu yang jahat pada putranya. Bahkan, mereka bertaruh nyawa demi anak yang lahir dari setiap rahimnya. Begitu juga kamu, kamu pergi karena ada masalah yang mendesak. Jadi, jangan pernah merasa bersalah.'' Mengusap lembut rambut Ainaya yang terurai panjang.


Ainaya mengambil alih Bilal yang mulai terdiam, lantas menciumnya untuk mengurai rasa rindu yang dipendam selama ini.  


''Maafkan mama, Nak. Maafkan mama.'' 


Suasana itu terasa sangat mengharukan hingga membuat semua orang berderai air mata, termasuk Andik dan kedua sahabat Ainaya, Lidya dan Ajeng. Mereka tak menyangka pertemuan ini menjadi momen yang dramatis. 


''Sekarang kamu istirahat saja dulu, pasti capek.'' Bu Ida menggiring Ainaya masuk ke kamar Bilal, sedangkan yang lain menunggu di ruang tamu. 


Haris ikut ke kamar dan memasukkan baju Ainaya di dalam kemari. Ia sengaja membawa baju sang istri ke kamar Bilal, karena yakin saat ini tidak mau tidur di kamarnya. 


''Aku keluar dulu,'' pamit Haris pada Ainaya yang masih sibuk dengan Bilal. 

__ADS_1


Ainaya mengangguk dan tersenyum tanda mengizinkan. 


Haris menghampiri semua orang dan duduk di samping pak Indrawan. Meski tadi sempat tak yakin dan putus asa, akhirnya ia mendapatkan hasil yang positif. 


***


''Aku mau,'' jawab Ainaya lugas. 


Haris tak bisa mengungkap kebahagiannya dengan kata-kata. Namun, dari raut wajahnya yang berubah drastis, menunjukkan bahwa dia sangat bahagia mendengar jawaban dari sang istri. 


''Alhamdulillah, akhirnya mereka akur,'' ucap bu De sembari mengusap dada. Lega, setidaknya ada peluang lebar bagi Haris maupun Ainaya. Mungkin dengan saling membuka hati masing-masing akan menyatukan mereka menjadi keluarga sakinah. 


''Tapi bukan berarti aku menerimamu sebagai suamiku lagi,'' lanjutnya. 


''Tidak apa-apa,'' jawab Haris cepat. Sudah menjadi tugasnya untuk membuka hati Ainaya lagi, dan ia tidak merasa keberatan. Yang terpenting, Ainaya dan Bilal kembali berkumpul seperti dulu. 


Tak disangka, selain Haris dan Ainaya, ada jiwa-jiwa lain yang tergugah dengan kehadiran orang spesial. Mereka terlihat bahagia setelah jogging tadi pagi. 


Siapa lagi kalau bukan Didin dan Lidya serta Andik dan Ajeng. Mereka tampak senyum-senyum layaknya orang kasmaran. 


Apa mungkin ada cinta yang mulai tumbuh di antara mereka? Ataukah hanya sekedar kagum satu sama lain.


''Kamu kenapa sih, dari tadi lihatin Lidya?'' tegur bu De mengikuti ke arah mata Didin memandang. 


Didin menggeleng tanpa suara. 


''Kamu suka sama Lidya?'' tebak bu De menyelidik. 


''Sebatas suka saja, Bu De. Karena tidak mungkin aku menjalin hubungan dengan dia,'' ucap Didin pelan.


''Kenapa?" tanya bu De serius. 


''Aku bukan pengusaha kaya raya yang bisa membelikan apapun keinginannya. Aku hanya penyuluh dan usaha pertanian yang bayarannya itu kecil, mana mungkin aku bisa membahagiakan dia.'' 

__ADS_1


Bu De menghela napas panjang. ''Bahagia itu tidak diukur dengan uang. Selama kamu dan dia saling percaya dan cinta, bu De yakin kalian akan tetap bahagia. Apalagi kelihatannya Lidya itu baik dan apa adanya seperti Ainaya, tidak sok-sokan seperti adikmu. Semoga saja adikmu itu mendapat suami yang kaya seperti pak Andik, supaya gak banyak menuntut.''


Didin terkekeh, kini ia memantapkan hati untuk mengungkapkan perasaannya pada Lidya. Toh, gadis itu mengatakan sudah putus dua bulan yang lalu karena pacarnya belum siap untuk menikahinya.


__ADS_2