Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Racun


__ADS_3

''Jangan di makan!'' pekik Haris yang membuat semua orang terkejut. Tangannya mengulur menepis tangan Ainaya yang hampir melahap lobster yang sudah dibelah.


Ia bergegas memeluk sang istri yang nampak kebingungan. Menatap tajam ke arah makanan yang di idam-idamkan wanita itu. Bibirnya terkunci rapat, namun matanya yang menyala sudah pasti membuktikan jika lelaki itu sedang marah.


''Ada apa, Mas?'' Ainaya berdiri dari duduknya, matanya tertuju ke arah yang sama.


''Iya ada apa sih, Ris? Kenapa gak boleh dimakan? Bukannya ini makanan yang kamu pesan?'' Bu Ida ikut panik mendengar ucapan Haris tadi.


Haris menggeleng dan melarang semua orang menyentuh makanan itu. Mencuci tangan Ainaya dengan sabun hingga tiga kali bilas. Menjauhkan sang istri dari itu.


Ia memang belum tahu apakah makanannya itu bahaya atau tidak. Akan tetapi, mendapat kabar dari orang suruhan yang mengatakan bahwa ada orang lain yang membawa makanannya kabur.''


Bertepatan saat semua orang tegang dan fokus menatap makanannya, Andik datang. Lelaki itu mendekat dengan segala keberaniannya.


''Ada Apa, Tuan?'' tanya Andik memecahkan keheningan.


''Bawa makanan itu ke rumah sakit. Bungkus yang rapi, katakan itu dariku! Suruh mereka memeriksanya, jika ada racunnya secepatnya laporkan padaku,'' ucap Haris panjang lebar.


Andik mengangguk dan segera melaksanakan perintah. Sementara Haris tetap memeluk sang istri yang linglung.


Secepatnya Andik pamit meninggalkan rumah pak Indrawan. Haris langsung membawa Ainaya ke ruangan lain.


''Sekarang ceritakan apa yang terjadi? Kenapa kamu membawa makanan itu ke rumah sakit?'' tanya Bu Ida bertubi-tubi.


Haris menarik napas dalam-dalam. ''Orang yang mengantar makanan ke sini ternyata dipukuli, Ma. Itu artinya ada orang lain yang membawa makanan itu, bukan orang suruhan ku. Kemungkinan besar mereka memang menaruh sesuatu di makanan itu. Jika terbukti, maka aku tidak akan tinggal diam,'' kata Haris menahan amarah.


Pak Indrawan geleng-geleng kepala. Ikut heran dengan orang-orang yang mengusik ketenangan putranya. Padahal, ia baru saja merintis kebahagiaan dari nol, namun sudah banyak cobaan yang menerpa.


''Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?'' tanya Pak Indrawan bernada santai.


''Aku akan ke rumah sakit.'' Menatap Ainaya yang duduk di sampingnya.


''Jangan pergi dari rumah. Siapapun yang menghubungi kamu jangan diterima kecuali dari aku. Jangan makan apapun selain makanan di rumah ini,'' pesan Haris memperingatkan.

__ADS_1


Ainaya mengangguk setuju. Ia tidak mungkin melanggar permintaan Haris yang jelas-jelas mengkhawatirkan keselamatannya.


Di rumah sakit


Haris dan Andik menunggu di depan ruangan laboratorium, di temani Naina yang tadi melihat kedatangan sang sahabat, beruntung juga hari ini semua pasien sudah ditangani.


''Aku turut prihatin dengan musibah yang menimpa istrimu, Ris,'' ujar Naina berduka.


''Semua ini karena aku, Naina. Seandainya dia tidak menikah denganku, maka semua masalah tidak akan terjadi. Aku membawa petaka bagi nya.'' Haris merasa bersalah. Ia memejamkan mata. Mengingat-ingat jalan hidup Ainaya yang penuh dengan penderitaan semenjak menikah dengannya.


Pintu terbuka. Haris segera l menghampiri Analis laboratorium yang bertugas.


''Silakan. Kita bicara di ruangan saya,'' ujar dokter bule yang ada di depan Haris. Mereka langsung berjalan ke arah ruangan lelaki yang lebih tinggi dari orang Indonesia itu. Namanya Dokter Robert asal Jerman.


Haris duduk diikuti Andik, sedangkan Naina ada di sofa sedikit jauh dari mereka.


''Dari hasil penelitian, makanan tadi sudah di campur racun sianida.''


Bak tersambar petir, dada Haris meledak-ledak, membayangkan jika ia terlambat sedikit saja, pasti berakibat fatal. Istrinya akan tiada seperti kasus yang pernah ia dengar beberapa tahun silam.


''Ciri makanan atau minuman yang dicampur sianida sulit dibedakan, karena sianida tak berubah dan berbau ketika dicampur ke makanan.''


Haris terdiam mendengar penjelasan Ahli Toksikologi yang ada di depannya itu. Ia juga tak habis pikir dengan orang-orang yang berusaha membunuh istrinya, ataupun dirinya itu.


''Baik, Dok. Terima kasih.''


Haris berdiri dari duduknya. Fua kali kejadian tak terduga menimpa istrinya, dan itu sudah cukup membuatnya paham apa yang terjadi.


''Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Haris ikut cemas.


''Bang Lim tahu apa yang terjadi, semoga dia masih ingat orang yang mencelakai dia.''


Haris dan Andik beralih ke ruang rawat inap tempat Bang Lim berada, karena tadi ia langsung mengirim sopir untuk menjemput orang suruhannya itu dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Haris masuk diikuti Andik dari belakang. Mereka menghampiri lelaki kerempeng yang terbaring lemah di atas brankar. Kening dan kakinya di perban serta banyak luka kecil yang menghiasi sebagian tubuhnya.


''Kamu tidak apa-apa?'' tanya Haris memastikan.


''Tidak, Tuan. Saya minta maaf tidak bisa menjaga amanah dari, Tuan,'' ucap Bang Lim terbata. Menahan rasa sakit di perutnya akibat terkena tinju beberapa kali.


''Gak papa, yang penting kamu juga selamat. Saya ke sini hanya ingin tahu ciri-ciri orang yang mencegat mu.'


Bang Lim mengatakan ciri-ciri orang yang menghadangnya. Meski tak ingat sepenuhnya, namun ia sempat mengetik nomor plat orang itu dalam ponselnya.


''Kamu yakin ini nomor palat dia?'' tanya Haris mengulang.


''Iya, Tuan,'' jawab bang Lim yakin.


Haris tersenyum lirih dan memberikan nomor itu pada Andik untuk ditindak lanjuti.


Usai mengurus bang Lim di rumah sakit dan mengumpulkan beberapa bukti, Haris pulang ke rumah. Ia tidak bekerja. Nyawa keluarga nya lebih penting daripada uang yang tak seberapa. Sedangkan Andik, lelaki itu langsung melapor atas nama bang Lim yang dirampok.


Haris juga mendapat kabar dari Surabaya bahwa orang yang dicari anak buahnya sudah ketemu. Namun, orang itu belum mau mengakui tentang sabun yang diberikan pada Ainaya.


'Aku harus sabar dan yakin bahwa semuanya akan terbongkar. Tidak ada kejahatan yang selamat. Cepat atau lambat akan segera terkuak.''


Haris masuk ke dalam rumah dengan seulas senyuman menghiasi bibir. Ia langsung memeluk Ainaya yang sibuk bermain dengan Bilal.


''Apa kata dokter, Mas?'' tanya Ainaya penasaran. Dari tadi hanya nasib makanan itu yang ia pikirkan.


Sebaiknya aku bilang saja pada Ainaya, supaya dia lebih berhati-hati lagi.


''Ternyata makanan tadi dicampur dengan sianida. Dan sekarang Andik sudah melapor ke polisi. Semoga secepatnya terungkap,'' ucap Haris mengusap pucuk kepala sang istri.


''Seandainya tadi aku makan, pasti sudah meningg __"


Haris membungkam bibir Ainaya dengan jari-jarinya. Ia tak akan sanggup untuk melanjutkan jika itu terjadi.

__ADS_1


''Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu, karena aku akan selalu melindungimu.'' Mencium pipi Ainaya dengan lembut.


__ADS_2