Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Ancaman


__ADS_3

Untuk pertama kali Ainaya disibukkan dengan aktivitas paginya sebagai istri sekaligus ibu dari Bilal. Jika buah hatinya itu terus menangis dan minta susu, Haris meminta untuk disiapkan baju kantornya. Merepotkan bukan? Namun, itulah impiannya setelah menikah dengan sang suami, dan kini sudah terwujud. 


''Dasi coklat di mana, Sayang?'' teriak Haris dari arah laci. Tangannya terus mengobrak-abrik beberapa dasi yang memang sudah tersusun rapi. 


Ainaya mendengus. Sepertinya Haris memang sengaja membuatnya kesal tingkat tinggi. Bagaimana tidak, baru beberapa detik duduk dan memberikan ASI pada Bilal, tapi sudah dipanggil lagi.


''Ada di situ, Mas. Cari saja sampai ketemu.'' Ainaya menoleh ke arah Haris yang nampak kebingungan. 


''Dari kemarin sepertinya kamu sibuk banget dengan dasi, kenapa sih?'' tanya Ainaya penasaran. 


Haris tersenyum sembari mengambil dasi yang berwarna coklat yang ia cari-cari dan ketemu. Segera memakainya sendiri karena Ainaya sibuk menyusui Bilal. 


''Gak kenapa-napa, hanya suka saja, dan aku gak bisa kerja kalau dasiku gak sesuai selera.'' Sungguh, alasan yang sangat konyol. Hanya karena dasi saja mengakibatkan masalah yang besar. 


''Ada-ada saja,'' gumam Ainaya melepas dot dari bibir mungil Bilal. Usianya yang sudah menginjak hampir tujuh bulan membuat bayi itu lebih aktif. Seperti saat ini, usai menyusu Bilal menangis saat melihat Haris itu berdiri menjauh darinya. 


''Sepertinya akan ada drama pagi pagi ini,'' ucap Ainaya. Mendudukkan Bilal di atas ranjang. 


''Drama apa?'' tanya Haris menatap bayangan sang istri dari pantulan cermin, juga ke arah Bilal yang terus mengawasi pergerakannya. 


''Cuma nebak, semoga saja tidak.'' Ainaya meraih ponsel yang berdering. Ia langsung menggeser lencana hijau tanda menerima. 


''Ada apa, Ajeng?'' tanya Ainaya mengawali pembicaraan. 


''Nanti sore kita jalan yuk, sama Lydia juga, aku ingin ngobrol sama kamu, sekalian minta pendapat," pinta Ajeng penuh harap. 


Ainaya menatap ke arah Haris sembari menurunkan ponselnya. ''Ajeng ngajakin aku jalan-jalan nanti sore, boleh gak?'' izin Ainaya lembut. 


''Jam berapa?'' Haris duduk di tepi ranjang. Menggendong Bilal yang nampak sibuk masukkan biskuit ke dalam mulutnya. 


Ainaya kembali bertanya pada Ajeng untuk menentukan jam mereka bertemu.


''Jam tiga,'' jawab Ajeng yakin. 

__ADS_1


Haris terus mengingat-ingat jadwalnya hari ini yang memang cukup padat. Namun, ia juga tak bisa melarang Ainaya yang nampak berharap. 


''Boleh, tapi berangkatnya harus sama sopir, karena aku gak bisa menemani,'' ucap Haris mengizinkan. 


Mereka turun ke lantai bawah.  


Menghampiri bu Ida dan pak Indrawan yang ada di ruang tengah. Seperti biasa kehadiran Bilal mampu mengubah suasana menjadi ramai dan penuh canda. Apalagi sekarang bayi itu sudah semakin pintar dan bisa menyebut mama. Lucu sekali. 


''Sudah mau berangkat. Ris. Andik gak jemput?'' tanya bu Ida menatap ke arah pintu utama. 


Haris menggeleng. Hari ini Andik memang udah izin tak bisa menjemputnya dengan alasan yang sedikit ambigu, namun itu tak masalah bagi Haris, karena ia lebih suka mengemudi sendiri. 


''Aku titip Ainaya ya, Ma.'' Haris merangkul pundak kecil sang istri. 


Bu Ida mengangkat jempolnya tanda setuju. Tidak ada alasan untuk menolak permintaan yang sangat sederhana itu. Apalagi Ainaya adalah menantu idaman nya dari dulu. 


Ainaya mengikuti langkah Haris menuju pintu utama. Mengantarkan sang suami hingga ke mobil. 


''Nanti aku telepon kamu lagi, hati-hati.'' Ainaya melambaikan tangannya ke arah Haris yang sudah duduk manis di depan setir. Ia membungkuk dan mencium sang suami sebagai tanda perpisahan sementara. 


Ainaya hanya mengangguk dan tersenyum. Menatap mobil Haris yang sudah melaju meninggalkan halaman. 


Ainaya membalikkan badan, namun suara klakson dari arah depan membuatnya menoleh. 


Sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Tak lama kaca nya di buka, seseorang melempar sebuah kepalan tepat ke arah Ainaya 


Beruntung benda itu tidak melukai nya, hanya kakinya yang terasa nyeri akibat timpukan itu. 


''Apa ini?'' Ainaya hanya melihat tanpa ingin menyentuh. Kemudian, menatap ke arah mobil yang sudah meninggalkan tempat itu. 


Terpaksa Ainaya berjongkok dan mengambilnya. Ternyata itu adalah batu yang dibalut dengan kertas putih. Ia membukanya dan membuang batu itu lalu membaca tulisan yang ada di kertas itu. 


Sekarang kamu boleh menang karena sudah mendapatkan mas Haris, tapi aku gak akan tinggal diam. Tidak ada perempuan yang boleh memiliki mas Haris selain aku. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kamu juga tidak bisa. Ingat itu. 

__ADS_1


Kedua bola mata Ainaya membulat sempurna. Dalam coretan itu memang tidak ada nama yang tercantum, namun ia yakin itu adalah Jihan. Satu-satunya wanita yang hadir dalam hidup Haris sebelum dirinya. 


''Aku tidak merebut mas Haris. Dia sendiri yang datang padaku dan meminta aku kembali. Apa aku salah menerimanya. Aku juga gak akan tinggal diam. Bilal membutuhkanku dan ayahnya. Dia butuh kasih sayang kami, bukan orang lain."


Ainaya meremas kertas itu hingga berbentuk kepalan. Lalu masuk ke dalam. Meski dalam hati menjanggal tak karuan, ia tetap terlihat ceria saat menghampiri sang mertua.


Apa sebaiknya aku bilang ini ke mama ya, tapi kalau orang itu tahu bagaimana?


Ainaya masuk dan mengambil segelas air putih di atas meja makan. Lalu, meneguknya hingga tandas. Menatap bu Ida dan pak Indrawan dari kejauhan.


Mereka gak boleh tahu, cukup aku yang tahu.


Meski begitu, Ainaya tetap khawatir apa yang akan dilakukan orang itu selanjutnya.


Di sisi lain


Ajeng terkejut saat mendapat panggilan dari pak Anton. Tidak biasanya ia dipanggil secara mendadak seperti ini. Ada apakah gerangan?


''Sejak kenal dengan mas Andik hidupku semakin ruwet parah," gerutu Ajeng membuat Lidya yang ada di sebelahnya terkekeh.


''Ruwet kenapa?'' tanya Lidya santai sembari menatap layar laptopnya.


''Nanti sore kita cerita.'' Ajeng bergegas meninggalkan tempat kerja nya. Ia naik ke lantai dua melalui tangga darurat.


Entah kenapa ia dipanggil. Sepertinya tidak melakukan kesalahan. Terlebih, jarang sekali karyawan bagian personalia di panggil seperti ini karena memang sudah punya jadwal tersendiri.


''Bapak memanggil saya?'' ucap Ajeng sembari mengetuk pintu ruangan Anton yang sedikit terbuka.


''Masuk saja,'' ucap suara berat dari arah dalam membuat Ajeng langsung melebarkan pintu.


Begapa terkejutnya saat melihat lelaki tak asing itu nampak tersenyum di atas sofa.


Apa ia akan melamarku lagi, Oh tidak mungkin. Aku masih belum siap menjawabnya.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" Ajeng mendekati meja kerja Anton. Pura-pura tidak melihat lelaki yang semalam membuatnya hampir tak bisa tidur.


Anton tak menjawab apapun, namun ia keluar dari ruangannya, dan sudah terbukti bahwa ini siasat mereka berdua.


__ADS_2