Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Salah tingkah


__ADS_3

Terdengar suara bisik-bisik dari arah dapur. Ainaya dan Haris yang baru saja turun, terpaksa berhenti di samping meja makan. Menguping para asisten rumah tangga yang tampaknya sibuk membicarakan mereka. 


"Iya, beda banget dengan bu Jihan, non Ainaya lebih ramah dan tidak sombong," ucap salah satu asisten yang membuat Haris tersenyum kecil. 


''Iya bener, seandainya gak dibutuhkan di sini lagi, aku juga mau dipekerjakan di rumah den Haris, tapi dengan non Ainaya, bukan bu Jihan,'' timpal yang lainnya. 


Kini rasa cinta itu kian menguat berkat dukungan dari berbagai pihak. Ternyata tak hanya kedua orang tuanya, para pelayan di rumah pun mendukung hubungan mereka. 


Ehemmmm


Haris berdehem lalu duduk di ruang makan. Sedangkan Ainaya, ia langsung ke dapur memastikan apa yang mereka lakukan di belakang. 


''Ma--maaf, Non. Makanannya belum jadi,'' ucap bibi panik. Menyenggol siku temannya yang lain. 


''Gak papa, Bi. Sini, biar kau bantuin." Ainaya meraih spatula yang ada di tangan bibi. Lalu mengaduk-aduk makanan yang di wajan.


Sedikitpun tak menyinggung apa yang mereka bicarakan tadi, cukup membantu pekerjaan mereka supaya lebih ringan. Itu saja. 


"Sayang, kopinya mana?'' teriak Haris dari ruang makan.  


Ainaya menepuk jidatnya. Kemudian mengambil cangkir, sedangkan bibi pun ikut menyiapkan kopi dan gula. 


"Sudah tahu selera den Haris, Non?'' tanya bibi memastikan. 


Ainaya menggeleng tanpa suara. Jangankan kopi, satupun tak ada yang ia ketahui tentang Haris, termasuk makanan dan minuman selera lelaki tersebut.  


''Gak usah dikasih tahu, Bi.'' Haris menjawab dengan nada tinggi hingga membuat bibi yang hampir mengucap pun mengurungkan niatnya. 


Ainaya memasukkan dua sendok teh kopi kedalam cangkir dan juga dua sendok gula ke dalamnya. Ia sengaja menyamakan takaran keduanya supaya tidak terlalu manis. Menuang air yang sudah mendidih lalu mengaduknya hingga tercampur rata. 


Kira-kira mas Haris suka yang manis apa pahit ya?


Ainaya tetap membawa ke depan dengan penuh percaya diri, yakin Haris akan menyukai kopi buatannya. Bukankah cinta mengalahkan segala-galanya? Termasuk mengubah selera demi orang yang dicintainya.


Ia meletakkan secangkir kopi panas di depan Haris yang nampak sibuk memainkan ponselnya. 


''Selain kopi, apalagi yang harus aku siapkan di pagi hari?'' tanya Ainaya polos. 

__ADS_1


Entahlah, ia pun ingin menjadi istri yang baik dan mengurus suaminya tanpa bantuan orang lain. 


''Sebenarnya ada asisten yang akan membantu kita, jadi kamu gak usah repot-repot. Kamu ada disampingku saja sudah cukup membuatku nyaman dan betah.'' Haris mengangkat cangkirnya dan menyeruput kopi buatan sang istri tercinta. 


Ia menyesapnya berulang-ulang. Memang sedikit berbeda dengan buatan orang lain, namun Haris tetap suka meski itu bukan seleranya. Menghargai sang istri yang sudah bersusah payah melayaninya. 


''Gak bisa gitu juga, asisten rumah tangga itu dipekerjakan untuk membantu membereskan rumah, bukan melayani kamu,'' ucap Ainaya menjelaskan.


Dalam pengertiannya, sebagai seorang istri harus menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan suaminya, bukan hanya menikmati harta dan juga di ranjang saja, namun juga segala kebutuhan yang lainnya. 


''Terserah kamu, aku gak memaksa.''


Bibi datang dan menyusun makanan di meja makan, sedangkan Ainaya mengambil nasi untuk Haris yang dari tadi sudah mengeluh kelaparan. 


''Mau lauk yang mana?'' Adiba menunjuk beberapa lauk yang tersaji. 


''Terserah kamu saja,semuanya sku suka," jawab Haris tanpa menatap. Sebab, ia membaca pesan dari Jihan yang ingin bertemu. 


Untuk apa, bukankah semuanya sudah jelas?


Benar-benar istri dan menantu yang idaman, puji Haris dalam hati.  


Tak lama mereka menikmati sarapan paginya, Bu Ida masuk dari pintu depan. Wanita paruh baya itu menggendong Bilal, sedangkan pak Indrawan mengikutinya dari belakang. 


Ainaya berdiri dari duduknya. Dengan senang hati menyambut kedatangan sang mertua yang terlihat sangat lelah.


''Maaf ya, Mas. Ngerepotin,'' ucap Ainaya merasa bersalah. Ia segera mengambil alih sang putra yang masih terlelap. 


''Gak papa, mama suka sekali direpotkan. Tapi sepertinya Bilal masih pingin tidur, jadi lebih baik bawa saja ke kamar,'' suruh bu Ida antusias. 


Ainaya mengangguk setuju dan membawanya ke kamar seperti perintah sang mertua. 


Bu Ida tersenyum lalu duduk di samping Haris. Menoleh ke arah Ainaya yang sudah menghilang di balik pintu yang tertutup rapat. 


''Bagaimana, apa Ainaya sudah kamu taklukkan?" tanya Bu Ida penasaran. 


Berharap usahanya semalam sengaja tidak pulang ke rumah tidak sia-sia. 

__ADS_1


Haris tersenyum penuh kemenangan, karena ia memang sudah berhasil menaklukkan singa betina nya. 


''Sudah, Ma. Tenang saja, aku akan memegang ucapanku, bahwa kau akan menjaganya dengan baik seperti permintaan mama,'' ujar Haris lirih lalu melanjutkan makannya. 


Bu Ida bernapas dengan lega mendengar penjelasan Haris. Setidaknya kini ia sudah benar-benar mendapatkan menantu idaman seperti yang diharapkan dulu. 


''Oh iya, Mas. Aku siapin baju kantor kamu yang warna apa?'' tanya Ainaya yang berdiri di bawah tangga. 


Haris melambaikan tangan ke arah Ainaya karena mulutnya saat ini dipenuhi dengan makanan dan belum mampu mengucap. 


''Kenapa?'' tanya Ainaya menyelidik. 


Haris meneguk air putih kemudian menatap sang istri nampak kebingungan. 


"Weekend, Sayang. Hari ini aku gak masuk kantor.


Lagi-lagi Ainaya salah stingah. Entah kenapa kejadian semalam membuatnya linglung seperti hilang kesadaran.


Ia kembali menghampiri Haris dan Bu Ida di ruang makan, sementara pak Indrawan tadi langsung ke kamar mandi. 


''Oh iya, aku pernah janji dengan Ajeng, kalau hari libur akan main ke tempatnya? Bagaimana kalau aku ke sana hari ini?'' tanya Ainaya penuh harap. 


''Boleh, nanti aku temani kamu ke sana. Sekalian jalan-jalan dan membeli kebutuhan mu. Mama mau ikut?'' tanya Haris membuyarkan lamunan sang ibu.


"Ah, gak usah, cukup bawakan oleh-oleh saja," jawab bu Ida sembari tersenyum melihat penampilan Ainaya pagi ini. 


Wajahnya sangat cantik dan berseri-seri. Seolah masalah yang menampar itu lenyap sudah. Diganti dengan kebahagiaan yang bertubi-tubi.


Ainaya menundukkan kepala. Ia merasa tatapan bu Ida sangat aneh hingga membuatnya malu.


Sarapan pagi yang diwarnai dengan candaan itu usai. Ainaya ke kamar Bilal. Menyiapkan semua keperluan sang putra saat di luar rumah, sementara Haris pun membantunya.


''Apa kita perlu mengajak pengasuh?'' tanya Haris saat melihat sang istri yang nampak kerepotan.


Ainaya menggeleng. Meski Bilal adalah anak yang pertama, ia sudah cukup lihai untuk mengurusnya seorang diri tanpa bantuan dari orang lain.


Dering ponsel dari saku celana Haris menghentikan langkah Ainaya yang hampir di depan pintu. Ia menoleh ke arah sang suami yang mendadak memasang wajah pias.

__ADS_1


__ADS_2