Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Keputusan final


__ADS_3

Andik kembali memperingatkan pada semua orang untuk menutup rapat apa yang terjadi. Ia juga meminta mereka menghapus semua rekaman video, jika masih ada yang menyimpannya, maka tak segan-segan untuk segera memberikan hukuman berat. Sebab, itu akan menjadi masalah besar jika sampai terdengar di tempat lain. Reputasi Haris akan hancur di mata mereka dan akan merugikan perusahaan nya. 


''Sekarang silahkan bekerja lagi, anggap saja tidak terjadi apa-apa,'' suruh Andik pada mereka. 


Ada-ada saja. 


Andik kembali ke atas dan melanjutkan pekerjaannya. Ternyata tak hanya dirumah, di kantor pun ia disibukkan dengan urusan pribadi sang bos yang sangat rumit.


Tangis Jihan pecah saat tiba di ruangan Haris. Ia tak sanggup membendung air matanya yang menumpuk di pelupuk. Kembali memohon dan meminta maaf pada sang suami untuk membatalkan perceraian itu. 


''Kamu mau di sini apa di kamar?'' tanya Haris pada Ainaya dengan lembut. 


''Ini urusan kita bertiga, jadi aku berhak tahu keputusan kamu, Mas.''


Haris mengangguk, mengantarkan Ainaya ke kamar untuk membaringkan Bilal yang nampak mulai tertidur. Ia juga memeluk Ainaya sebelum mereka kembali keluar. 


''Kamu berhak memilih, Mas. Aku rela pergi dari hidupmu dan Bilal, asalkan mbak Jihan mau merawat anak kita seperti anak kandungnya sendiri. Aku tidak memaksa kamu untuk mempertahankanku. Dan kamu bebas menentukan siapa yang pantas hidup denganmu,'' ucap Ainaya terputus-putus menahan air matanya yang hampir luruh.


Lagi-lagi Haris hanya mengangguk tanpa suara. Mencium kening Ainaya dengan lembut.


''Selesaikan dengan kepala dingin. Jangan emosi. Aku yakin kamu sudah memikirkan semuanya.''


Semuanya sudah jelas di depan mata, siapa yang harus aku perjuangkan.


Haris duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Ainaya duduk di sofa, sementara Jihan duduk di kursi tamu yang biasa ditempati karyawan. 


''Sekarang katakan! Apa tujuan kamu datang ke sini?'' Haris mengawali pembicaraan. Menatap Jihan dengan serius. 


''Aku sudah tahu semuanya. Ternyata diam-diam kamu menjalin hubungan dengan dia di belakangku.'' Menunjuk Ainaya yang nampak tenang bergelut dengan pikirannya. 


''Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?'' tanya Haris mencoba untuk merendahkan suaranya seperti permintaan Ainaya. 


''Itu artinya kita sama-sama melakukan kesalahan, Mas. Aku mau kamu membatalkan perceraian kita, aku janji akan menerima Ainaya sebagai maduku,'' ucap Jihan serius. 

__ADS_1


Tidak ada jalan lain selain itu. Setiap lelaki pasti akan menginginkan anak seperti Haris, sedangkan ia sudah tak bisa mengabulkan itu.


Dari relung hati terdalam ia sangat menyesali perbuatannya, namun tak bisa mengembalikan semuanya. Dan harus menerima karena sampai kapanpun tidak akan bisa memiliki anak. 


Haris menyunggingkan bibirnya. Sungguh itu permintaan yang terdengar mudah, namun sangat sulit untuk dipenuhi. 


Apa yang diharapkan dari seorang wanita egois dan mementingkan kebahagiaannya sendiri. Bukankah lebih baik berpisah dan mengakhiri semuanya daripada harus memaksakan kehendak. Sedangkan, ada wanita yang tulus mengharapkan dirinya.


''Tidak semudah itu, Ji. Selain kesalahanmu sangat fatal. Mama juga tidak pernah merestui kita. Aku rasa sudah cukup sampai di sini. Tapi tenang saja, aku akan memberikan harta gono-gini yang lebih banyak dari perhitungan awal. Aku akan memberikan beberapa aset supaya kedepannya hidup kamu terjamin.''


Haris memberikan selembar kertas pada Jihan. Itu adalah tanda beberapa aset yang diberikan pada sang mantan.


''Apa ini gara-gara dia?'' tanya Jihan membentak. Amarahnya mulai membuncah melihat Ainaya yang tersenyum seolah mengejeknya.


''Iya,'' jawab Haris singkat. Ia tak perlu menutupinya lagi karena saat ini cintanya memang untuk seorang Ainaya dan tidak akan berpaling. Kecuali, ada penghianatan seperti yang dilakukan Jihan. 


''Sekarang pergi dari sini! Kedatanganmu sangat mengganggu.'' Menunjuk pintu yang tertutup rapat. 


Jihan menghentakkan kakinya lalu pergi dengan penuh amarah.


Entah kenapa ia belum siap kehilangan Haris untuk selama-lamanya. Dari sekian lelaki yang dekat, hanya dia yang mampu membahagiakannya dengan sepenuh cinta.


Haris menghampiri Ainaya dan duduk di sampingnya. Mengusap rambut wanita itu dengan lembut. Meminta maaf atas kejadian yang menimpa nya tadi. 


''Apa aku perlu klarifikasi di depan semua karyawan di kantor ini dan mengumumkan status kamu?'' tanya Haris konyol. 


Ainaya menarik napas dalam-dalam dan menggeleng. Dalam hidupnya, ia tidak ingin dipuji dan disanjung semua orang karena kedudukan suaminya, namun karena dirinya sendiri. 


''Kalau begitu sekarang katakan apa yang harus aku lakukan supaya mereka tahu bahwa kamu adalah istriku, hemm?'' 


Ainaya tersenyum simpul. Mungkin menggoda Haris akan menghilangkan rasa kesal karena ulah Jihan tadi. 


''Apa ya?'' Pura-pura mikir layaknya orang kebingungan. Mengetuk-ngetuk dagunya dengan satu jari. 

__ADS_1


''Kelamaan mikirnya, gak jadi.''


Haris kembali ke meja kerjanya yang membuat Ainaya merengut. Sungguh, lelaki itu sangat menjengkelkan.


Menekan tombol telepon yang menghubungkan ke pusat konsumsi.


''Dengan Mumun di sini, Tuan,'' sapa seorang wanita dari balik telepon.


''Bawakan makannya ke ruangan ku sekarang, kayaknya ada yang lapar dan mau makan orang.'' Melirik ke arah Ainaya yag masih tetap dengan posisinya.


''Baik, Tuan.''


Haris menutup teleponnya.


Ainaya pun langsung berdiri menghampiri Haris yang menertawakannya. Memukul dada pria itu dengan seluruh tenaga yang dimiliki.


''Kamu pikir aku binatang buas yang doyan makan manusia,'' pekik Ainaya.


Haris terkekeh, sedikitpun tak menghindar. Justru pukulan itu terasa nyaman seperti pijatan lembut yang membuatnya ketagihan.


Tanpa sengaja, Haris menarik pinggang ramping itu hingga jatuh ke pangkuannya. Keduanya saling tatap dengan jarak yang sangat dekat, bahkan hembusan napas mereka saling menerpa wajah lawan.


''Setelah perceraian ku dan Jihan selesai. Aku akan meresmikan pernikahan kita. Bersiaplah menjadi istriku satu-satunya,'' ungkap Haris dari hati.


Ainaya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Berharap pilihannya menerima Haris adalah jalan yang terbaik. Bukan hanya untuk dirinya, namun juga Bilal dan kedua mertuanya. Sebab, hanya mereka yang saat ini ia miliki.


''Apa aku boleh menciummu?'' tanya Haris ragu.


Meski sangat menginginkannya, ia tidak ingin ceroboh dan mengulang kesalahan yang sama. Harus izin terlebih dulu. Mencari keikhlasan dari sang pemilik.


Ainaya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Memejamkan matanya dan bersiap. Kedua tangannya melingkar di leher sang suami. Mungkin ini akan menjadi ciuman manis untuk pertama kalinya.


Haris tersenyum dan mendekatkan bibirnya. Menahan tawa melihat wajah Ainaya yang nampak imut dan menggemaskan. Kemudian mengecup kedua pipi Ainaya bergantian yang membuat sang empu membuka mata, terkejut.

__ADS_1


Kenapa hanya cium pipi?


''Jangan salah paham. Bukan aku gak mau mencium bibir kamu. Tapi aku akan menunggu momen yang tepat,'' jelasnya.


__ADS_2