Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Ternyata


__ADS_3

Senyum merekah di sudut bibir Ainaya saat mendengar bu De mengizinkannya ke sawah. Selama ini ia hanya berandai-andai menikmati pemandangan alam yang indah itu, namun bu De dan orang-orang terdekat terus melarangnya. Setelah sekian lama terus membujuk, akhirnya tercapai juga. 


''Nanti jalannya hati-hati ya, banyak  batu kerikil, jalannya juga kecil, takutnya kamu jatuh di pematang sawah, kotor deh,'' pesan bu De sebelum Ainaya dan Didin pergi. 


''Baik, Bu De,'' jawab Ainaya dengan senang hati. Ia keluar lebih dulu diikuti Didin sembari membawa sabit kecil. Mereka melewati beberapa rumah warga sebelum tiba di sawah.


Memakai baju yang sederhana juga caping khas orang kampung. Namun, tak menyurutkan kecantikannya. 


Banyak yang menyapa mereka berdua, bahkan sebagian ada pula yang menganggap mereka pasangan serasi. Sebab, semakin hari Didin pun menjaga penampilannya dan semakin glowing, sedangkan Ainaya nampak cantik alami meskipun tak memakai make up. 


''Belok sini, Nay.'' Didin menunjuk jalan yang lebih sempit. Dilihat dari kiri dan kanan ada sawah yang ditanami padi. Benar-benar cukup sulit yang membuat Ainaya terpaksa memegang tangan Didin, takut jatuh. 


''Seharusnya kamu gak usah pakai sandal,'' tegur Didin menahan tawa saat melihat Ainaya terpeleset dan hampir jatuh. 


''Kenapa tadi gak bilang?'' Ainaya melepas sandalnya dan meletakkan ke sembarang arah. Melanjutkan langkahnya sambil menahan telapak kakinya yang sedikit geli saat bersentuhan dengan tanah yang lumayan basah dan lembek. 


''Mau aku gendong?'' tawar Didin menggoda. 


Ainaya menggeleng cepat. Apa jadinya jika itu terjadi, pasti banyak yang menertawakannya. Terlebih, kini warga sudah mulai menjodoh-jodohkan mereka karena terlalu akrab. 


''Kita berhenti di situ.'' Menunjuk gubug yang tak jauh dari mereka berjalan. Satu-satunya tempat yang menjadi persinggahan saat lelah. 


''Apa semua petani di sini bahagia? Atau mereka terpaksa karena sudah tak ada lagi pekerjaan lain?'' tanya Ainaya konyol. 


Entahlah, setiap melihat mereka bekerja keras di bawah terik yang menyengat ia merasa kasihan, seakan bayarannya pun tak setara dengan kelelahannya. 


Didin menarik napas dalam-dalam. ''Aku juga gak tahu. Tapi sepertinya mereka cukup bahagia dengan pekerjaan ini. Apalagi sekarang banyak produk-produk pertanian yang membantu usaha mereka, dan itu sangat meringankan dan menguntungkan.''


''Wow, berarti ada penyuluhan gitu?'' tanya Ainaya memastikan.


Didin mengangguk dan tersenyum.


''Kok aku gak pernah lihat mereka datang? Kira-kira kapan ada lagi, aku mau ikut.''

__ADS_1


Salah satu warga mendekat saat mendengar perbincangan Ainaya dan Didin.


''Orang nya di sini, Nduk.'' Seorang pria tua itu menunjuk Didin yang membuat Ainaya mengerutkan alis. 


''Jadi kamu __"


"Iya, Nduk. Mas Didin ini sarjana pertanian. Dia yang mengembangkan petani-petani di sini menjadi sukses. Berkat mas Didin juga sekarang kami bisa fermentasi pupuk organik dan insektisida untuk menghemat biaya,'' terang pria yang belum diketahui namanya tersebut.


''Pantas saja selalu sibuk dengan komputer.'' Menepuk lengan Didin dengan pelan.  


Selama ini Ainaya mengira lelaki itu hanya pengangguran, tapi ternyata pekerjaannya sungguh mulia. Mau membantu mereka yang buta ilmu.


''Aku bangga sama kamu, Mas. Semoga kamu makin sukses,'' doa Ainaya yang langsung di amini Didin dan beberapa orang yang ada di dekat mereka. 


Matahari sudah mulai meninggi, panas semakin menyengat membuat Ainaya berkeringat. Namun, ia enggan untuk pulang. Terlebih, Didin bercerita bagaimana awal ia terjun untuk membantu mereka. 


''Asalkan ikhlas dan tidak memburu uang, pasti semua itu membuat kita bahagia,'' lanjutnya. 


''Kita pulang yuk! Sudah terlalu siang.'' Didin melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata sudah jam sebelas siang. 


''Iya, Nduk. Kami juga sudah mau pulang.''


Beberapa petani pun mencuci tangan hendak pulang. 


Ainaya turun di bantu Didin. Seperti saat berangkat, ia pun berjalan di depan diikuti pria itu dari belakang, karena jalannya tak memungkinkan untuk mereka bersejajar. 


Setibanya di rumah, Ainaya mengeluhkan kakinya yang terasa nyeri dan membuatnya tak sanggup untuk melangkah. Terpaksa ia duduk di teras sambil memijat betisnya. 


''Apa bu De bilang, pasti kamu capek. Sekarang ke dalam saja, nanti biar Didin panggilkan tukang urut,'' ucap Bu De cemas, sedangkan Didin malah terkekeh. 


''Gak usah bu De, ngerepotin,'' melirik Didin yang masih sibuk dengan tawanya. 


''Sejak kamu datang ke sini memang selalu ngerepotin aku. Pokoknya nanti aku minta upah,'' canda Didin yang membuat Ainaya tersipu. 

__ADS_1


Tak dapat dipungkiri, jika dirinya memang sangat membutuhkan Didin. Hanya lelaki itu yang mampu membuatnya cepat akrab dengan warga dan tahu seluk beluk tentang kampung Sukarela tersebut. 


''Beres, nanti aku carikan calon istri untuk Mas Didin, yang pasti cantik dan pintar.'' 


Didin hanya bisa berpura-pura tersenyum, karena sebenarnya wanita yang ada di depannya itulah yang diharapkan, namun mendengar itu membuatnya harus memendam kembali rasa cinta yang mulai tumbuh, dan berharap akan ada wanita yang mencintainya. 


''Sudah sudah, sekarang cepetan bersih-bersih, setelah itu makan. Bu De sudah siapkan makanan di meja makan,'' suruh bu De serius. 


Ainaya bergegas masuk, sementara Didin menyuruh beberapa buruh untuk beristirahat sebelum melanjutkan pekerjaannya nanti. 


Beberapa menit Ainaya masuk, sebuah mobil berhenti di depan rumah bu De membuat beberapa warga yang melintas melongo dan geleng-geleng. Takjub, karena ini pertama kali ada mobil semewah itu masuk.


Bu De pun ikut menghentikan aktivitasnya saat melihat pria tampan dengan setelan jas dan memakai kacamata hitam itu turun dan menatap ke arah rumahnya. 


''Siapa, Din?'' tanya Bu De berbisik 


Didin mengangkat bahu tanda tidak tahu. Dilihat dari ciri-cirinya yang begitu gagah dan pakaiannya yang berkelas, pria itu bukan lah orang biasa, namun seperti bos besar di tv tv, hingga tak ada yang berani menyapa. 


''Siang, Pak.'' Suara berat itu mengejutkan Didin dan Bu De, ternyata tak seperti yang mereka bayangkan, dingin dan angkuh. Bahkan, pria itu sangat ramah saat menyapa. 


Mereka menjawab anggukan dan tersenyum membungkuk.


''Dia ke sini, Din.'' Bu De sedikit cemas saat pria itu semakin mendekat. 


''Gak papa Bu De, lagi pula mungkin itu tamu dari tempat pengajuan proposal ku kemarin.'' 


Senyum mengembang di sudut bibir bu De maupun Didin saat pria itu berdiri di depan mereka. 


''Kenalkan nama saya Haris, suaminya Ainaya.'' Mengulurkan tangannya di depan Didin dan langsung diterima lelaki itu. 


''Oh, silahkan masuk, Pak. Ainaya nya sedang mandi,'' ucap bu De ramah.


Berbeda dengan bu De, Didin sedikit bersikap tak acuh dan memilih masuk lebih dulu. 

__ADS_1


__ADS_2