
Kondisi Ainaya sudah mulai membaik. Pasca menemukan surat rahasia di lemari Jihan waktu itu, ia memilih untuk bungkam dan sedikit menjauh dari keluarga mereka. Hanya datang seminggu sekali untuk menjenguk sang buah hati, itupun ditemani Adam.
Hari ini ia memutuskan untuk kembali bekerja. Selain melupakan apa yang pernah terjadi, Ainaya juga ingin meniti kehidupan baru tanpa seorang Haris dan Bilal. Mungkin dengan begitu akan membuat nya tenang dan berpetualang lagi.
Sebenarnya Adam juga melarangnya untuk bekerja, namun karena keangkuhan wanita itu, ia mengizinkannya.
''Kamu sudah siap?'' tanya Adam memastikan.
Ainaya mengangguk kecil. Mengambil tas dan ponselnya yang ada di nakas. Mendekati Adam yang dari tadi sudah menunggu di ruang tamu.
''Aku yakin kamu akan betah bekerja ditempat ini.''
Adam sengaja mencarikan pekerjaan yang ringan untuk wanita itu, bayaran juga tetap lumayan.
''Tapi kalau pulang gak terlalu malam kan, Mas?'' tanya Ainaya memastikan.
Adam menggeleng menekan pintu lift apartemen.
''Gak kok. Lagipula kamu gak usah khawatir. Seandainya itu terjadi aku akan menjemputmu.'' Adam menawarkan diri.
Ya, kebersamaan mereka tak sekedar teman biasa, namun lebih dekat. Bahkan, Ainaya sering curhat dengan pria tersebut disaat suntuk. Membagi keluh kesah yang selama ini menyelimuti. Menganggap sebagai keluarga barunya setelah terlepas dari paman dan bibi.
''Lalu bagaimana pernikahanmu dengan Haris?'' tanya Adam membuka kan pintu mobil.
Ainaya nanggeleng. Bingung mau menjawab apa, seolah Haris memang sengaja menggantung nya. Padahal, beberapa kali ia meminta cerai namun tak dihiraukan.
Mobil melaju membelah jalanan yang dipadati kendaraan berlalu lalang. Adam menoleh ke arah Ainaya yang nampak terdiam dengan satu pertanyaan.
''Nay, maaf jika aku lancang.'' Adam memecahkan keheningan.
Ainaya tersenyum kecil. Membuang pandangannya ke arah jendela.
''Sebenarnya aku suka sama kamu,'' ujar pria itu tulus.
Lagi-lagi Ainaya tersenyum tanpa menatap. Enggan untuk menanggapi ucapan itu. Selain Haris tidak ada nama laki-laki yang menembus ruang hatinya saat ini.
Biarlah semua orang menganggapnya bodoh. Bukankah terkadang cinta memang membuat orang lupa diri? Begitu juga dengan Ainaya yang lebih patuh pada pernikahannya daripada hatinya sendiri yang sangat sangat terluka menganga dengan perlakukan Haris selama ini.
Bahkan robekan hati itu akan terasa perih menyayat jika mengingat pernikahannya yang dilakukan karena balas budi.
__ADS_1
''Tapi maaf, untuk saat ini aku akan fokus ke pekerjaan, Mas. Bukan menolak, tapi aku butuh waktu,'' ucap Ainaya dari hati. Berharap Adam mengerti keadaannya.
Banyak hal yang harus dipikirkan sebelum kembali menjalin kasih dengan seorang pria. Terlebih hatinya belum sepenuhnya pulih dari rasa sakit yang ditorehkan suaminya.
Adam mengangguk mengerti. Meskipun rasa itu sudah hadir sejak lama, ia tak ingin memaksakan kehendak, terlebih Ainaya pernah tersakiti dengan pernikahan pertamanya.
Aku harus melupakan mas Haris. Dia bukan untukku.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. Ya, bangunan yang terdiri dari tiga puluh lantai itu terlihat menjulang tinggi dan megah. Banyak karyawan yang memadati tempat itu. Suasana baru pun mulai terasa saat Adam membuka kaca mobil.
''Ini kantor mu?'' tanya Ainaya sebelum turun dari mobil.
Adam menggeleng. ''Ini punya temanku. Dan aku sudah daftarin kamu untuk bekerja di sini.'' Adam turun lebih dulu. Membukakan pintu untuk Ainaya seperti yang dilakukan tadi saat di apartemen.
Mereka masuk bersamaan berjalan saling bersejajar. Meskipun tak ada adegan bergandengan tangan, namun dari gaya bibir yang bersahutan menandakan keakraban mereka.
''Sebenarnya aku juga baru kali ini masuk ke sini.''
Ainaya melongo. Mengikuti Adam yang sudah masuk ke dalam lift.
''Kok bisa?'' tanya nya berdiri lebih mendekat karena ada penumpang lain yang berbondong-bondong masuk memenuhi lift.
Ainaya manggut-manggut mengerti. Ya, pertama kali ia memang bertemu dengan pria itu di Bali, dan sudah dijelaskan bahwa Adam adalah orang Bali asli.
''Kapan-kapan kamu mau kan ikut ke Bali?'' tanya nya antusias.
Hati Ainaya berdebar-debar, setiap mendengar pulau dewata yang disanjung-sanjung keindahannya itu seolah ingin langsung terbang ke sana seketika itu juga.
Pantai-pantai yang dipenuhi dengan pasir putih membentang. Bangunan-bangunan kuno yang terkenal dengan sejarahnya hingga tradisi berbeda dengan kota tempat tinggal saat ini sangat menggugah keinginannya.
''Boleh,'' jawab Ainaya cepat. Membayangkan indahnya tempat-tempat yang didominasi dengan keindahan alam dan buatan manusia bercampur aduk.
Pintu lift terbuka. Beberapa orang keluar. Ainaya yang hampir ikut ditarik kembali oleh Adam dari arah belakang.
''Kita ke lantai lima belas.''
Ainaya terkekeh. Kemudian berdiri di samping Adam. Kini hanya tinggal mereka berdua. Ruangan itu terasa hening. Mereka pun canggung untuk berbicara hingga memilih diam.
Akhirnya, pintu lift terbuka juga. Ainaya melangkah lebih pelan mengikuti Adam. Mereka langsung menuju salah satu ruangan yang bertuliskan CEO.
__ADS_1
''Ini ruangan temanku,'' ucapnya sembari mengetuk pintu.
Tak lama berselang, pintu terbuka lebar. Seorang pria tampan tersenyum lebar lalu memeluk Adam.
''Aku kira kamu gak jadi datang,'' ujarnya tanpa melepas pelukannya. Menatap Ainaya yang dari tadi menjadi saksi.
''Jadi dong, biasa nungguin cewek kalau lagi dandan, lama,'' bisik Adam yang masih bisa didengar oleh Ainaya.
Keduanya tertawa seolah mengejek Ainaya yang memang menghambat kedatangan mereka.
''Silakan masuk.'' Pria itu mempersilahkan Adam adan Ainaya masuk ke ruangannya lalu menutup pintu nya lagi.
''Kenalkan, nama nya Ainaya.'' Menunjuk Ainaya yang tersenyum.
''Nay, kenalkan namanya Wisnu. Dia teman kuliahku. Dan sekarang kita juga menjadi teman bisnis.''
Pria yang bernama Wisnu tersenyum kemudian membuka map di depannya.
''Oke, kita langsung saja. Jadi tadi Adam sudah bilang kalau kamu butuh pekerjaan yang ringan.''
Ainaya mengangguk tanpa suara.
''Di sini ada beberapa lowongan. Salah satunya menjadi staf di bagian gudang, kamu hanya akan mengawasi barang yang keluar masuk tanpa melakukan kerja berat. Dan yang kedua ada di bagian keuangan, terserah kamu mau pilih yang mana.''
Ainaya menatap Adam lalu kembali menatap Wisnu.
''Kayaknya yang di gudang saja, Pak,'' jawab Ainaya yakin.
''Baiklah.'' Wisnu menghubungi seseorang melalui ponsel. Tak lama berselang, seorang wanita cantik dan berpakaian rapi datang.
''Sella, Kenalkan dia Aniaya. Karyawan baru yang akan menggantikan Isti. Nanti siang kamu ajari dia cara-cara bekerja dengan baik, tapi untuk sementara waktu biarkan dia di sini,'' ujar Wisnu menjelaskan.
''Baik, Pak.'' wanita yang bernama Sella segera keluar setelah tersenyum ke arah Ainaya.
''Kayaknya kalian juga sudah kenal dekat?'' tanya Wisnu menyelidik.
Adam tertawa keras, sedangkan Ainaya hanya tersenyum tipis.
''Sebenarnya kami kenalan di Bali, karena aku penasaran dengan dia, aku ikutin saja ke sini,'' jawab Adam berbohong.
__ADS_1