
Ah, Ainaya bingung mau melakukan apa disaat Bilal tidur seperti ini. Jika keluar pasti bertemu dengan Haris. Tidak mungkin pula ia di kamar terus menerus. Apa kata bu Ida nanti, pasti semua orang akan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan.
''Apa aku pura-pura mengambil air hangat saja ya?'' Mengangkat termos yang ada di tempat susu.
Ternyata airnya masih penuh karena baru saja bibi menggantinya. Ia kembali memutar otak mencari alasan lain.
''Aku bawa baju Bilal saja.'' Menghampiri keranjang kotor dan mengambil semua baju yang ada di dalamnya lalu membawanya keluar.
Ruangan tengah sangat sepi. Tidak ada siapapun di sana kecuali bibi yang membersihkan cangkir bekas minum Ajeng dan Lidya tadi. Sepertinya bu Ida dan pak Indrawan berada di kamar. Lalu, di mana Haris? Apakah pria itu juga di kamar atau keluar rumah.
Ainaya melanjutkan langkahnya menuju belakang. Celingukan mencari seseorang di sana. Hanya ada dua pelayan yang menyapa nya.
''Apa Non butuh sesuatu?'' tanya bibi ramah.
Ainaya menggeleng dan tersenyum. Mendekap baju kotor Bilal dengan erat. Entah kenapa, ia merasa ada yang aneh dengannya saat ini. Bulu halusnya merinding saat panggilan Non itu disematkan.
''Kalau butuh apa-apa, katakan saja, kami siap melayani, Non,'' timpal yang lainnya.
Ainaya kembali tersenyum kikuk lalu menyerahkan baju Bilal pada mereka.
''Kok rumah sepi amat, semua orang ke mana, Bi?'' Ainaya memberanikan untuk bertanya.
''O, biasanya jam segini mereka ada di belakang nungguin senja. Non mau ikut?'' tanya bibi balik.
Ainaya menggeleng cepat dan kembali ke depan. Saking buru-burunya ia tak sadar ada Haris yang baru saja turun dari tangga hingga tabrakan itu terjadi.
''Aawww...''
Haris memekik saat tangannya terasa panas akibat tumpahan kopi yang dipegangnya. Menggigit bibir bawah menahan rasa sakit yang mulai menjalar.
''Ma--maaf, Mas. Aku gak sengaja,'' ucap Ainaya merasa bersalah.
Tangannya mengambang ke depan, ingin sekali melihat keadaan tangan sang suami yang digenggam, namun diurungkan, takut Haris marah jika bersentuhan dengannya.
''Gak papa, aku yang ceroboh. Kamu kenapa buru-buru seperti tadi?'' tanya Haris mengalihkan pembicaraan. Ia tetap menyembunyikan tangannya yang masih terasa perih.
__ADS_1
''Gak ada apa-apa. Aku hanya takut Bilal bangun, jadi buru-buru,'' jawab Ainaya mengikuti kata hatinya. Ia masih canggung saat berada di dekat pria itu.
Haris mengangguk mengerti. Ia membuka pintu kamar Bilal dan memastikan. ''Dia masih nyenyak kok.'' Mempersilahkan Ainaya masuk.
''Tapi itu __" Ainaya menunjuk pecahan cangkir yang berserakan di lantai.
''Nanti biar bibi yang bersihin, kamu istirahat saja,'' suruh Haris dan kembali menutup pintu. Takut Ainaya melihatnya saat meringis kesakitan. Pasti lucu.
Ia segera berlari ke belakang karena tak tahan dengan rasa sakit di tangannya. Berharap secepatnya mendapatkan solusi.
''Biasanya kalau terkena air panas di apain ya, Bi?'' tanya Haris cepat sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
''Dikasih es batu, Den. Nanti adem.'' Bibi melihat tangan Haris yang nampak memerah lalu mengambil es batu dan meletakkan di baskom. Membantu mengusap nya di tangan sang majikan.
''Ini kenapa kok bisa sampai seperti ini? Tadi bibi kira cangkir kosong yang jatuh, makanya bibi kelarin ini dulu.'' Menunjuk potongan sayur yang ada di depannya.
''Gak papa, Bi. Tadi gak sengaja aku kesandung tangga dan kopinya tumpah,'' terang Haris berbohong.
''Hati-hati, Den. Untung gak jatuh.'' Bibi terus mengusap tangan Haris dengan es batu.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ainaya terpaksa keluar memenuhi panggilan bibi. Ia menghampiri Bu Ida dan pak Indrawan yang duduk di ruang makan.
''Bilal sudah tidur, Nay?'' Bu Ida mengambil piring untuk Ainaya.
''Malahan tidurnya dari tadi sore, Ma. Apa memang biasanya seperti itu?'' tanya Ainaya heran. Menatap kedua mertuanya bergantian.
Bu Ida menggeleng. ''Biasanya dia baru tidur saat Haris pulang, mungkin dia terlalu nyaman bersama ibu kandungnya. Sekarang makan dulu nanti dingin.'' Bu Ida menutup pembicaraan dan fokus dengan makanan di depannya.
Baru beberapa suap, Ainaya teringat dengan Haris yang tidak ada ditempat itu. Ingin bertanya malu-malu, namun ia tidak bisa diam saja melihat sang suami tidak ada.
''Mas Haris di mana, Ma? Kenapa dia tidak makan?'' tanya Ainaya ragu.
Bu Ida tersenyum. ''Di kamar, katanya sudah kenyang. Kebiasaan, palingan nanti juga makan saat semua orang sudah tidur.''
Ainaya mengunyah makanannya dengan pelan. Teringat dengan kejadian tadi sore saat bertabrakan.
__ADS_1
Tanganku saja yang terkena percikan sakit, bagaimana dengan tangan mas Haris.
Tiba-tiba Ainaya merasa cemas. Ia meneguk air minum dan beranjak dari duduknya.
''Maaf, Ma. Aku panggil mas Haris dulu ya, mungkin saja dia mau makan dengan kita,'' izin Ainaya.
Bu Ida dan pak Indrawan mengangguk setuju. Menatap punggung Ainaya yang mulai menjauh.
''Semoga mereka cepat akur ya, Pa. Mama berharap Haris dan Ainaya mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya.''
''Iya, papa juga berharap seperti itu,'' jawab pak Indrawan mendukung.
Ainaya berdiri di depan pintu salah satu ruangan yang ada di lantai dua. Dari sekian pintu hanya tempat itu yang menarik hatinya untuk mendekat. Ia mengetuk pintu dengan pelan lalu menautkan kedua tangannya. Setiap kali bersangkutan dengan Haris, pasti ada rasa takut yang terselip di dada. Bayangan-bayangan buruk terus terlintas seolah menghantuinya.
Haris membuka pintu dan tersenyum. Pria itu langsung menyembunyikan tangannya ke belakang. Wajahnya mendadak panik membuat Ainaya mengerutkan alis.
''Tangan kamu kenapa, Mas?'' tanya Ainaya menyelidik.
''Gak papa,'' jawab Haris cepat. Menahan tangan Ainaya yang hampir menyentuhnya.
''Maaf, aku lupa kalau aku memang gak diizinkan untuk menyentuhmu,'' ucap Ainaya menohok sembari menarik tangannya kembali.
Haris tetap tersenyum. Ini yang ia inginkan untuk saat ini supaya Ainaya tidak tahu tentang kondisi tangannya yang masih memerah.
''Mama memanggilmu untuk makan malam,'' ucap Ainaya menundukkan kepala. Menghindari tatapan Haris yang tak bisa diartikan.
''Kamu makan dulu. Aku nanti saja,'' jawab Haris meyakinkan.
Ainaya memutar tubuhnya dan berjalan ke arah tangga. Tiba-tiba saja ia terjatuh dan duduk di lantai membuat Haris terkejut.
''Ainaya,'' seru Haris berlari menghampiri wanita itu. Ia ikut berjongkok menahan punggung Ainaya yang nampak lemah. Tak sengaja menggunakan tangannya untuk merengkuh tubuh sang istri.
''Ternyata ini alasan kamu menyembunyikan tanganmu.'' Mengusap lembut punggung tangan Haris yang memerah akibat air panas tadi.
.
__ADS_1