
''Mau ke mana, Nay? Cantik amat,'' tanya Bu Ida sembari mengabsen penampilan sang menantu dari atas sampai bawah.
''Mau bertemu dengan Ajeng dan Lidya, Ma. Di cafe,'' jawab Ainaya.
''Sama Haris?'' tanya Bu Ida lagi.
Ainaya tersenyum dan menggeleng. ''Tapi sudah izin sama mas Haris kok, Ma,'' jawab nya lagi, menunjukkan pesan yang dikirim sang suami.
Tertulis bahwa lelaki itu mengizinkannya untuk pergi.
''Hati-hati. Biar mama yang jaga Bilal.''
Ainaya mencium punggung tangan bu Ida. Sebenarnya ia juga tak enak hati meninggalkan sang buah hati di rumah, namun sudah terlanjur janji dengan Ajeng akan datang. Juga tak mungkin mengajak Bilal keluar.
''Barangkali, Mama mau menitip makanan, nanti aku beliin,'' tawar Ainaya seraya berjalan menuju depan.
''Gak usah, mama lebih suka masakan bibi di rumah,'' tolak bu Ida menatap punggung Ainaya yang mulai menjauh.
Ainaya menghampiri pak Edi yang sibuk membersihkan mobil.
''Pergi sekarang, Non?'' tanya nya ramah.
''Iya, Pak. Ke cafe loreng.'' Ainaya kembali membaca pesan yang dikirim Ajeng.
Pak Edi membukakan pintu untuk sang majikan lalu ia duduk di depan setir dan siap membelah jalanan.
Baru beberapa menit pergi, Haris sudah menghubunginya lewat video call. Terpaksa Ainaya mengangkatnya.
''Ada apa lagi? Bukannya tadi sudah telepon?'' tanya Ainaya diiringi dengan senyuman.
''Kangen kamu, gak tahu nih. Maunya pengen meluk terus,'' ucap Haris tanpa sungkan yang membuat pak Edi menahan tawa.
Wajah Ainaya tampak merona malu. Ia mendaratkan jarinya di bibir, memberi kode Haris untuk diam.
''Ada pak Edi.'' Membalikkan layar ponselnya ke arah sang sopir yang sibuk dengan setirnya.
''Gak papa. Pak Edi pernah muda, dulu dia juga begitu dengan istrinya, iya kan, Pak?'' tanya Haris penuh percaya diri.
''Iya, Den. Dilanjut saja, anggap bapak ini tidak ada.'' Pak Edi malah mendukung.
Haris terkekeh, ia memang selalu bisa membuat Ainaya kalah telak saat bicara dengannya.
__ADS_1
Wajah mereka bertemu, meski hanya lewat telepon nyatanya sedikit mengurangi rasa rindu yang menggebu.
''Nanti kalau pulang aku susul ke cafe,'' ucap Haris lalu mengakhiri panggilannya, tak lupa cium jauh lebih dulu.
''Mas Haris, ada-ada saja,'' gumam Ainaya lirih.
Pak Edi menghentikan mobilnya di depan cafe tujuan. Seperti tadi, ia membukakan pintu untuk sang majikan, lalu menutupnya lagi dan menunggu di tempat parkir. Sementara Ainaya langsung masuk ke meja nomor tujuh. Ternyata di sana sudah ada kedua sahabatnya.
''Lama banget sih, aku kira gak datang, di telpon sibuk,'' celoteh Lydia.
''Kok Bilal gak diajak, aku kangen sama dia,'' protes Ajeng.
Ainaya tersenyum dan minta maaf lalu duduk di tempat kosong. "Mas Haris sengaja melarangku mengajak Bilal. Dia ingin aku lebih bebas seperti kalian.''
Mereka tertawa serempak, kembali menikmati masa muda seperti dulu.
Waitress datang dan menawarkan beberapa minuman favorit di tempat itu.
''Aku pesan seperti mereka saja. Mbak,'' ucap Ainaya sopan.
Waitress kembali ke belakang setelah mendapat pesanan. Sedangkan ketiga wanita itu langsung berbincang.
''Jadi kamu sudah dilamar pak Andik? Selamat ya.'' Sama seperti Lidya, Ainaya pun ikut bahagia mendengarnya.
''Kamu sendiri gimana pendekatannya dengan mas Didin?'' Ainaya menyenggol tangan Lidya hingga membuat sang empu tersedak minuman yang hampir masuk ke kerongkongan.
Kedua bola matanya membulat dan menggeleng. Kisah cintanya masih misteri dan hitam pekat. Belum ada tanda-tanda cahaya terang seperti Ajeng.
''Tenang saja, aku akan bantu kamu jadi kakak iparku,'' kata Ajeng yakin.
''Beneran?''
Ajeng mengangguk dan memang akan melakukan hal itu, karena ia pun tak ingin melihat sang sahabat jomlo seorang diri.
Waitress datang dan meletakkan minuman di depan Ainaya. Mempersilahkan nya juga untuk menikmati, setelah itu kembali menjalankan aktivitasnya lagi.
Obrolan demi obrolan melengkapi kebersamaan mereka bertiga, begitu hangat. Dulu, sebelum kehadiran sosok Haris mereka sering kali pergi hanya untuk sekedar melepas lelah, namun semua itu lenyap karena masalah yang menimpa Ainaya. Persahabatan mereka renggang dan nyaris terpisah. Sekarang, mereka dipersatukan lagi setelah melewati penuh perjuangan.
Di tengah canda, tiba-tiba seorang waitress menumpahkan minumannya tepat di tangan Ainaya hingga membuat sang empu terkejut dan mengibaskan tangannya.
''Maaf--maaf, Bu. Saya tidak sengaja,'' ucap Waitress merasa bersalah.
__ADS_1
''Gak papa, lain kali hati-hati.'' Ainaya mengambil tisu dan mengusapnya.
Untung yang tumpah itu latte hangat hingga membuat kulit Airnya tetap aman, namun lengket.
''Sekali lagi saya minta maaf, Bu,'' ucapanya lagi membungkuk sopan.
''Sudah, gak papa,'' ucap Ainaya lagi.
''Ya ampun, Nay. Kotor," Ajeng dan Lidya ikut membantu membersihkan baju sang sahabat.
''Gak papa, kamar mandi dimana ya?'' tanya Ainaya sembari berdiri dari duduknya.
''Di sana, Bu. Silakan saya antar.''
Waitress berjalan menuju ke arah samping cafe, diikuti Ainaya dari belakang. Mereka berhenti di depan kamar mandi yang tersedia.
Hampir saja masuk, seorang wanita menghentikan Ainaya.
''Ini sabunnya, Mbak. Tadi saya ambil,'' kata wanita itu sembari menyodorkan sabun padat di depan Ainaya.
''O, terimakasih.'' Ainaya menerimanya lalu masuk, kebetulan ia juga butuh itu untuk membersihkan sisa latte di tangannya.
Terpaksa ia membuka rok yang dipakainya, karena tak hanya bagian tangan yang lengket, ternyata juga tembus ke bagian paha yang membuatnya sedikit terasa sukar.
''Untung cuma di sini, kalau badan, bisa-biaa aku mandi,'' gerutunya sambil menggosok-gosok sabun di bagian yang lengket.
Hampir lima belas menit, Ainaya sudah selesai, ia pun keluar dari kamar mandi dan kembali ke tempatnya, sedangkan waitress pun sudah tidak ada di sana.
''Gak papa kan, Nay?'' Lidya menatap rok Ainaya yang basah.
''Gak papa. Nanti juga kering,'' jawab Ainaya santai dan kembali duduk di tempatnya semula. Melanjutkan obrolannya yang sempat terjeda karena hal kecil.
Ponsel dari tas Ainaya berdering, ia segera merogoh dan memeriksa pesan yang masuk. Ternyata itu dari Haris yang mengatakan sudah perjalanan menuju Cafe.
''Sebentar lagi mas Haris sampai, aku harus pulang,'' ucap Ainaya cemberut. Ia masih rindu dengan kebersamaan namun juga tak bisa melalaikan tugasnya sebagai seorang istri.
''Gak papa, Lain kali kita bisa ketemu lagi di sini.'' Lidya mengusap lengan sang sahabat dan tersenyum.
''Iya, sekarang Haris memberi kebebasan ke kamu, jadi gak perlu takut-takut lagi. Sepertinya dia bucin abis.''
Mereka bergelak tawa. Mungkin hanya kata itu yang pantas disematkan, Ainaya pun merasa begitu. Bahkan, terkadang ia tak memiliki kesempatan untuk menghindar.
__ADS_1
''Kamu kenapa, Nay?'' Ajeng meraih tangan Ainaya yang nampak bintik merah.
''Gak tahu, tiba-tiba rasanya perih.'' Menggesek kedua paha nya yang terasa sedikit aneh.