Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Pembalut


__ADS_3

''Ini kamar kamu,'' ucap Haris sembari membuka pintu kamar belakang. 


Mata Ainaya menyusuri ruangan yang sempit dan kumuh itu. Terdapat lemari dan juga ranjang kecil, sudah dipastikan itu adalah kamar pembantu. Sebab, selama Jihan pura-pura hamil ia tak memperkerjakan orang di rumahnya. Takut sandiwara nya akan terbongkar. 


Haris meletakkan tas milik Ainaya di ranjang lalu keluar, sedangkan Ainaya pun masuk dan duduk di tepi ranjang. 


''Ingat, jangan pernah mengatakan apapun pada Jihan. Cukup kerjakan tugasmu dengan baik,'' pesan Haris mengingatkan lagi. 


Ainaya hanya mengangguk tanpa suara. Mensuplai oksigen untuk bisa bernafas karena dadanya terlalu sesak dengan perlakuan Haris.


''Ainaya,'' teriak Jihan dari luar. 


Haris bergegas membuka pintu lemari pendingin untuk menghindari sang istri yang berjalan ke belakang. 


''Saya, Bu,'' jawab Ainaya berjalan pelan menuju pintu. 


''Kamu boleh tidur di kamar Bilal untuk mengurusnya, karena aku dan mas Haris akan tetap tidur di atas,'' ucap Jihan menjelaskan.


''Baik, Bu,'' jawab Ainaya ramah dan tersenyum. Melirik Haris yang meneguk minuman dengan posisi membelakanginya. 


''Kamu mau makan, Mas. Msu aku pesankan?'' Jihan menghampiri Haris yang terlihat panik. 


''Gak usah, aku masih kenyang.'' Mengusap perutnya lalu merangkul Jihan dan mengajaknya keluar. 


Sementara Ainaya memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari. Untuk saat ini ia tidak memikirkan apapun dan akan fokus mengurus anaknya. 


''Ternyata nama anakku Bilal. Nama yang bagus, tapi sayang nama ibunya bukan aku, tapi mbak Jihan.'' 


Buliran bening kembali luruh membasahi pipi Ainaya. Setiap kali mengingat perjanjian yang tersembunyi itu hatinya terasa sakit bak dihujam tusukan. 


''Aku harus kuat, aku harus bisa melewati ini semua. Roda itu berputar. Suatu saat pasti keadaan akan berbalik.'' Mengusap pipinya dan melanjutkan aktivitasnya. Terus menguatkan diri sendiri yang masih rapuh karena ditampar kenyataan pahit.


Semua baju sudah masuk ke dalam lemari, namun Ainaya masih celingukan mencari sesuatu di dalam tansya. 


''Kok bisa gak ada, padahal tadi sudah aku siapkan,'' gerutu Ainaya menyingkap baju yang sudah tersusun rapi. 


Ia tertunduk lesu, sedangkan saat ini waktunya untuk menggantinya. 

__ADS_1


''Apa di rumah ini ada orang lain?''


Ainaya keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju teras belakang. Ia mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya. 


Ternyata tidak ada siapapun di sana. Ainaya menyandarkan punggungnya di dinding. Mencari cara untuk bisa mendapatkan barangnya yang tertinggal. 


''Aku telepon bibi saja.'' Ainaya masuk ke kamarnya lagi dan mengambil ponselnya. Namun nahas, benda pipihnya mati. Itu artinya ia tak punya jalan lain selain meminta bantuan kepada Jihan dan haris yang saat ini berstatus bosnya.


Ainaya berjalan menuju ruang depan. Tidak ada siapapun di sana, hingga kepalanya mendongak ke arah lantai dua. 


''Apa jangan-jangan bu Jihan tidur? Tapi kok kamar Bilal terbuka. Apa dia ada di dalam?''


Berjalan mengendap-endap menuju kamar Bilal. Baru beberapa langkah terdengar deheman dari ruang tengah. Ainaya menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu Haris yang menatapnya dari arah kejauhan. 


Kalau aku minta bantuan mas Haris pasti dia gak mau. Kalau bu Jihan kesannya gak sopan juga. 


Ainaya berpikir matang-matang sebelum meminta bantuan sang majikan sekaligus suaminya tersebut. Terpaksa ia menghampiri Haris. 


''Maaf, Tuan. Apa boleh saya minta tolong?'' Bernada sopan layaknya atasan dan bawahan.


Terdengar aneh di telinga Haris, namun pria itu hanya terdiam menatap pipi Ainaya yang tampak lebih gemuk dari sebelumnya. 


Ainaya menggigit bibir bawahnya dan itu semakin membuat Haris terpana. Terlebih, wanita itu semakin terlihat cantik setelah melahirkan. 


''Pembalut saya ketinggalan. Apa Tuan mau membantuku membelikan nya?'' tanya Ainaya dengan lugas. 


Daripada ia kesusahan lebih baik berkat jujur. 


Haris mengerutkan kedua alisnya hingga menyatu mendengar permintaan Ainaya yang terdengar konyol. 


''Kamu kan bisa pesan online, ngapain menyuruhku?'' tanya Haris balik. 


Apakah seperti ini aku harus menjelaskan, dasar bodoh. 


Ayu hanya bisa mengumpat dalam hati. 


''Kalau online pasti lama datangnya, Tuan. Sedangkan saya butuhnya sekarang,'' desak Ainaya meyakinkan. 

__ADS_1


Disaat genting seperti ini ia tak mungkin bisa menunggu lama, terlebih hingga beberapa jam. 


''Baiklah, aku akan membelinya. Kamu jagain Bilal!'' suruh Haris menyungutkan kepalanya ke arah sang buah hati yang terlelap di atas ranjang. 


''Baik, Tuan.'' Ainaya bergegas masuk dan menghampiri sang buah hati. Membelai pipinya lalu ke hidung dan bibir, berhenti pada kedua matanya yang mirip dengan sang suami. 


''Kamu mirip dengan papamu, Nak. Semoga kamu bisa mendapatkan kasih sayang dari mama Jihan seperti yang mama berikan,'' lirih Ainaya mencium pipi Bilal bergantian.


Ainaya Ikut meringkuk di samping Bilal sembari menunggu Haris datang. 


Haris masuk ke sebuah supermarket. Seumur-umur ini kali pertama ia diperintah untuk membeli pembalut. Terlebih bukan Jihan yang menyuruh melainkan wanita lain. 


''Ada yang bisa saya bantu, Tuan?'' sapa karyawan saat melihat kebingungan Haris. 


Haris menoleh ke arah kiri kanan memastikan tidak ada yang mendengarnya. Setelah dipastikan tidak ada orang, ia mengatakan tujuannya datang. 


''Silahkan' Tuan. Saya antar.'' karyawan toko itu tersenyum dengan tingkah Haris, ia pun mengantar sang tamu ke tempat yang  ada di bagian tepi. 


''Silahkan Anda mau yang mana?'' tanya karyawan menunjukkan tempat barang yang dicari. 


Haris mengambil satu persatu dan membacanya. Ia memilih beberapa merk yang berbeda. Membeli banyak banyak supaya Ainaya tak lancang menyuruhnya lagi. 


''Ada ada saja. Masa menyuruhku membeli beginian,'' gumamnya menatap pembalut yang sudah masuk ke keranjang, 


Seperti saat masuk, saat ke kasir pun Haris mencari tempat yang sedikit sepi, malu jika ada yang melihatnya membawa barang milik wanita. 


''Berapa, Mbak?'' tanya Haris sembari menarik kantong kresek besar. 


''Totalnya tujuh ratus ribu, Tuan.'' memberikan struktur pada Haris sebagai bukti pembelian. 


Setelah membayar dengan uang yang pas, Haris langsung keluar dari tempat itu, dan berharap tidak ada  yang melihatnya. 


Haris duduk di depan setir, namun tiba-tiba ia kepikiran pasal pembalut. 


''Kenapa Jihan gak pernah pakai beginian? Apa dia gak pernah menstruasi. Bukankah dia normal dan seharusnya datang bulan seperti perempuan lain. 


Haris memang tak paham dengan masalah perti itu, namun ia pernah membaca sebuah artikel yang menjelaskan tentang masalah seperti di atas. 

__ADS_1


Hampir lima belas menit membelah jalanan, Haris sudah tiba di rumah. Ia langsung berjalan menuju kamar Ainaya. Meletakkan barang pembeliannya di ranjang wanita itu. Kemudian beralih masuk ke kamar Bilal.


Haris berhenti di ambang pintu menatap Ainaya yang tertidur sambil memeluk Bilal. Keduanya terlihat nyaman dan menyejukkan. 


__ADS_2