Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Kebetulan


__ADS_3

''Bilal senang ya, jalan-jalan sama Mama?'' Satu tangan Haris melepas setir dan beralih menoel-noel Bilal yang ada di pangkuan Ainaya. 


Ainaya menanggapinya dengan senyuman. Mendekap erat sang buah hati yang dari tadi menendang-nendang ingin turun. 


''Sepertinya kita harus sering seperti ini, Sayang. Kamu bilang saja tempat yang kamu suka, aku akan jadwalkan kepergian kita untuk berlibur,'' tawar Haris serius. 


''Gak usah repot-repot. Itu hanya akan mengganggu waktu mu saja,'' jawab Ainaya ketus. 


Haris memutar memorinya kembali. Mengingat kebersamaannya dengan Ainaya yang dibalut dengan penuh paksaan, bahkan semenjak menikah sekalipun ia tak pernah memberikan kenyamanan pada wanita itu. Hanya goresan luka yang sering ia persembahkan.


''Bali ya? Atau ada tempat favorit lainnya?'' tanya Haris kemudian. 


Ainaya terdiam, ia tidak mungkin menjawab, iya. Takut itu akan menjadi momok seandainya mereka kembali diterpa masalah. Terlebih, Haris sudah berulang kali melarangnya meminta hal yang aneh-aneh dan menganggap semua permintaannya hanya alibi saja. 


Haris pun tak bersuara. Mengingat beberapa bulan lalu saat Ainaya ingin berlibur ke Bali, namun tak dikabulkan olehnya. Sungguh, itu adalah kejadian yang membuat penyesalannya semakin dalam. 


''Ini belok kiri apa belok kanan?'' tanya Haris lupa. 


Memelankan laju mobilnya saat tiba di ujung jalan yang mendekati rumah Ajeng. 


''Kanan, nanti belok kiri, sampai.'' Ainaya menunjuk ke arah jalan yang harus dilalui Haris. Meski sudah sangat lama, ia tak lupa dengan tempat tinggal sang sahabat. 


''Untuk sekarang liburannya di sini dulu ya, Nak. Nanti kalau papa punya waktu luang, kita  ke luar negeri.'' Mengusap lembut pipi Ainaya. Mungkin, ia akan memboyong keluarga kecilnya ke tempat selain Bali, karena itu hanya akan mengenang masa lalu pahit. 


Mobil berhenti di depan rumah kontrakan yang lumayan mewah. Ada mobil yang terparkir di halaman tempat itu membuat Ainaya mengerutkan alis. 


''Siapa yang bertamu lebih pagi dari kita, Mas?'' Ainaya membuka kaca mobilnya. 


Haris menatap mobil yang menurutnya tak asing lalu membaca plat yang tertera di bagian belakang.  


''Itu mobilnya Andik, Sayang. Kenapa dia ada di sini?'' Haris pun bertanya-tanya. Tak biasanya lelaki itu berkunjung di rumah seorang gadis. Terlebih, yang ia tahu mereka tak begitu saling kenal. Hanya beberapa kali saja bertemu karena kebetulan Ajeng adalah jalan yang waktu itu tahu tentang keberadaan sang istri. 


''Apa mereka melanjutkan hubungannya?'' terka Ainaya dengan mata berbunar-binar.


Seandainya itu memang terjadi, ia sangat setuju dan mendukung penuh. 

__ADS_1


''Mungkin.'' Haris keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ainaya. Menggendong Bilal di bagian dada sembari menggandeng tangan Ainaya. 


Pintu terbuka lebar, suara tawa dari arah dalan menghentikan langkah Ainaya dan Haris. Mereka saling tatap lalu melanjutkan langkahnya menuju teras. 


''Sepertinya kedatangan kita mengganggu mereka,'' bisik Haris di telinga Ainaya. 


Ia pun merasa begitu hingga enggan untuk mengetuk pintu. Menarik tangan Haris dari belakang dan mengajaknya kembali ke mobil.


''Kita pergi saja yuk! Daripada ganggu mereka.'' Menyungutkan kepalanya ke arah pintu. 


Haris mengangguk.


Baru saja berbalik badan, suara seorang wanita dari arah teras memanggil nama Ainaya. Terpaksa mereka menoleh ke arah sumber suara. 


''Kenapa kalian gak masuk, aku sudah menunggu dari tadi.'' Ajeng menghampiri Ainaya dan Haris. Mengambil alih bayi mungil mereka yang nampak kepanasan.


''Tapi di dalam ada pak Andik, kami takut mengganggu,'' ucap Ainaya merasa bersalah. 


Ajeng tertawa lepas.


''Justru itu, biar semua orang gak curiga dengan kami berdua,'' terangnya. 


''Pak Andik sudah lama di sini?'' tanya Ainaya mencairkan suasana yang nampak canggung. 


''Baru beberapa menit yang lalu,'' jawab Andik ramah. 


''Ada namanya, dua puluh menit atau tiga puluh menit, gak mungkin kamu lupa, 'kan?" timpal Haris sinis.  


Andik mengusap tengkuk lehernya yang terasa merinding. Ternyata PDKT dengan sahabat dari istri seorang Haris tak semudah yang ia kira. Harus lebih waspada supaya aksinya tak diketahui. 


''Saya lupa, Tuan. Tapi sepertinya kita hanya selisih sebentar,'' bantah Andik sembari melihat jam yang melingkar di tangannya. 


Ajeng pura-pura cuek dan sibuk menimang Bilal. Ia tak berani berbicara dengan Andik mengingat ada sahabat dan suaminya itu. 


''Sepertinya kamu sudah pantas punya anak, Ajeng,'' ucap Ainaya menggoda. 

__ADS_1


Ajeng tersipu malu. Melirik ke arah Andik sekilas dan kembali fokus dengan Bilal. Mencium kedua pipi gembulnya bergantian. 


''Pantas sih sudah pasti, Nay. tapi calonnya belum ada, harus sabar dulu nungguin jodoh datang,'' jawabnya santai. 


''Jodoh seperti apalagi yang kamu inginkan, Ajeng.'' Suara berat dari ambang pintu mengejutkan semuanya. Mereka menoleh bersamaan.


Seorang lelaki gagah dengan memakai kemeja biru itu berdiri dengan wajah lelahnya membuat Ajeng kegirangan. 


''Mas Didin, ya ampun, Mas. Itu beneran kamu?'' Ajeng menepuk pipinya sendiri berulang kali. Berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati lelaki itu. Sedikit tak percaya melihat abang nya tiba-tiba datang tanpa memberi kabar. 


''Iya, masa kembarannya sih,'' gerutu Didin meletakkan tas rangselnya di samping pintu lalu memeluk sang adik untuk mengurai rasa rindu.


Andik dan Haris ikut berdiri dan bersalaman dengan lelaki itu, sementara Ainaya menangkupkan kedua tangannya dan menanyakan kabar. 


''Kabarku baik, Nay. Sekarang bu De juga mengizinkan aku bekerja di kota,'' ucap Didin serius. 


''Keren sekali kamu, Mas. Gak nyangka sekarang ada kemajuan.'' Ajeng menepuk lengan sang kakak lalu mempersilakan duduk.  


Ruangan yang tadinya sedikit canggung kini nampak renyah dan dipenuhi canda tawa oleh tiga lelaki itu. Mereka terlihat akrab kayak teman, bukan atasan dan bawahan.


''Mas Didin sudah punya surat lamaran kerja?'' tanya Andik antusias.


Didin mengangguk. Membuka tas nya dan mengambil beberapa lembar lampiran di dalamnya lalu menunjukkan pada Andik dan Haris.


''Di kantor ada lowongan, kalau Mas mau besok datang saja ke ruangan ku,'' ucap Andik setelah memeriksa lamaran Didin.


''Beneran? Kamu gak bohong, 'kan?'' tanya Didin memastikan.


Andik mengangguk yakin. Mana mungkin ia main-main dengan hal yang serius. Apalagi, saat ini ia membutuhkan lelaki itu demi hubungannya dengan Ajeng.


''Tapi mas harus tetap di interview untuk menjalani prosedur perusahaan,'' lanjutnya.


Didin mengangkat jempolnya tanda siap. Meski kuliah di kampung, namun kemampuannya tak diragukan lagi, sangat berpotensi luar biasa. Bahkan, sering kalau memecahkan beberapa masalah yang rumit di kampung.


Sepertinya aku harus minta restu pada mas Didin dulu, setelah itu baru nembak Ajeng.

__ADS_1


Ternyata di balik kebaikannya ada niat terselubung.



__ADS_2