Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Ayah


__ADS_3

Seharusnya hari ini Ajeng dan Andik akan berangkat ke kampung halaman untuk meminta restu sekaligus mengurus persiapan pernikahan, namun harus gagal karena ayah angkat Andik akan datang. Terpaksa mereka menundanya untuk sementara waktu. 


Meski begitu, Ajeng tetap disibukkan untuk menyambut sang calon mertua. 


''Apa kamu yakin aku sudah terlihat cantik, Lidya?'' Ajeng kembali mempertanyakan penampilannya. 


''Sudah, Ajeng. Kamu itu sangat cantik. Apalagi baju yang kamu pakai itu dari brand ternama, pastilah sempurna.'' Lidya mengangkat jempolnya dan terus memuji. 


''Aku takut ayahnya mas Andik protes dan gak menyetujui hubungan kami.'' Ajeng menundukkan kepala. Tiba-tiba ia seperti tak punya nyali untuk bertemu calon mertuanya. 


''Aku yakin ayahnya pak Andik akan setuju anaknya menikah dengan kamu.'' Lidya kembali meyakinkan Ajeng untuk berpikir positif dan semangat. 


Bunyi klakson terdengar membuat Ajeng dan Lidya terkejut. ''Itu pasti pasti mobil mas Andik. Cepetan keluar!'' Lidya mendorong sang sahabat menuju pintu. 


Antara panik dan takut membuat langkah Ajeng terasa berat. Hadis itu bahkan tak percaya diri untuk menghadapi semuanya seorang diri. 


''Apakah semua perempuan yang akan menikah sepertiku.'' Mengibas-ngibaskan tangan ke arah wajahnya yang dipenuhi dengan keringat. Padahal, ini baru Andik seorang, apalagi nanti jika ia berhadapan dengan calon mertuanya. Pasti akan lebih gugup lagi.


"Silahkan masuk dulu, Mas. Mas Didin masih di kamar.'' Ajeng mempersilahkan Andik untuk duduk sembari menunggu abangnya. 


''Sudah berani bertemu ayah?'' goda Andik yang bisa menangkap kegugupan di wajah Ajeng. 


''Harus berani, Mas. Tapi aku takut kalau ayahmu tidak setuju dengan hubungan ini karena alasan aku orang kampung.''


Begitulah yang sering ia dengar dari keluarga pasangan.


Andik menggeleng. Sangat yakin itu tidak akan terjadi, karena ia tahu karakter ayahnya yang tidak materialistis juga membandingkan. Meski hanya ayah angkat, namun lelaki itu sangat menghargai apapun keputusan Andik, termasuk siapa yang akan mendampinginya nanti. 


''Ayah pasti setuju, pokoknya kamu gak usah takut.''


Didin keluar, lelaki itu mendekati Ajeng dan juga Andik yang masih asik mengobrol. 


''Kita berangkat sekarang?'' tanya Didin antusias. 


Andik melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah tiga jam sejak ayahnya menelpon, itu artinya lelaki tua itu hampir tiba.


''Sebentar, aku nungguin perwakilan ibunya Ajeng dulu." Didin membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kamar sang adik.  

__ADS_1


Tak lama kemudian, Didin keluar bersama wanita cantik yang membuatnya jatuh cinta.


''Jadi Lidya sengaja disuruh datang untuk mewakili bu De?'' canda Andik yang membuat semua orang terkekeh. 


''Iya lah, masa adik mau menikah, abangnya jomlo, ya gak mungkin.'' Didin membanggakan dirinya. 


Mereka langsung berangkat ke apartemen tempat tinggal Andik, karena pertemuan kali ini memang di tempat itu. 


Sesampainya di depan apartemen, Ajeng langsung turun. Mensuplai oksigen untuk bisa bernafas bebas sebelum nanti tercekik oleh kehadiran ayahnya Andik.  


''Andik...'' teriak suara berat dari arah belakang dengan lantang.  


Andik menoleh ke arah sumber suara, begitu juga dengan Ajeng dan yang lain. 


''Ayah,'' seru Andik sembari tersenyum.  


Nampak lelaki tua renta yang memakai kemeja batik serta celana hitam serta peci hitam itu kerepotan membawa barang bawaannya. 


Didin berlari mendekati dan membantu mengambil kardus. 


''Ya ampun, ayah bawa apa saja?'' Menengok ke arah belakang lelaki yang dipanggilnya ayah. Ternyata lelaki itu membawa pisang tanduk yang hampir matang juga singkong dan jagung manis khas tanaman kampung. 


Ajeng dan Lidya ikut mendekat dan bersalaman lalu mengucapkan nama tanda perkenalan. 


''Mana yang calon istri kamu?'' Menatap Lidya dan Ajeng bergantian .


''Ini calon istriku, Ayah.'' Memegang pundak kecil Ajeng yang tampak membungkuk ramah.  


Ayah manggut-manggut. Dari sorot matanya, ia mengagumi kecantikan Ajeng. Begitu Andik membacanya. 


''Nanti kamu rebus singkong ini ya, Nduk," pinta ayah memberikan singkong yang ada di dalam karung.  


Ajeng hanya mengangguk tanpa banyak protes. Di kampungnya dulu pun ia sering makan makanan seperti itu, dan bukan hal yang tabu lagi. 


Sementara Andik hanya bisa menepuk jidatnya melihat kelakuan sang ayah yang tak pernah berubah dan tetap ingin makan makanan dari kampung yang ia bawa.  


Bahkan, lelaki itu tak doyan pizza dan menganggap rasa makanan itu tak karu-karuan. 

__ADS_1


''Jangan kaget ya, ayah memang seperti ini,'' bisik Andik dengan wajah merona. 


Ajeng hanya memberi kode dengan kedipan mata tanda setuju. Memaklumi. 


Mereka semua masuk ke apartemen milik Andik dan duduk di ruang tamu. Berbicara serius tentang acara pernikahan yang akan digelar secepatnya. 


''Jadi ayah gak usah pulang. Nanti kalau aku sudah menikah dengan Ajeng, kita akan ke kampung sama-sama. Sekalian mengenalkan Ajeng dengan warga kampung kita," saran Andik yang langsung disetujui oleh ayah. 


"Kalau keluarga nak Ajeng bagaimana? Apa mereka sudah setuju?" tanya ayah memastikan. Menatap sang calon menantu yang dari tadi hanya menunduk. 


''Saya sebagai satu-satunya wali dari Ajeng sangat setuju, Ayah. Semalam saya juga sudah menghubungi bu De, dia juga sudah setuju dengan pernikahan mereka,'' papar Didin jujur. 


''Semoga tidak ada masalah, dan berharap niat suci ini akan berjalan lancar hingga sampai hari nanti," ucap Ayah mendoakan.


''Ayah mau minum apa?'' tanya Ajeng mencoba mendekatkan diri. 


''Kopi manis,'' jawab ayah lugas 


''Jangan kebanyakan makan dan minum yang manis, Yah. Nanti kena diabetes,'' tegur Andik. Meski mereka berada di tempat yang jauh, lelaki itu sering mengingatkan ayah untuk selalu menjaga kesehatan, juga menyuruhnya untuk menghindari manis yang berlebihan. 


Ayah hanya menanggapinya dengan tawa.


Ajeng yang sudah berada di dapur tersenyum kecil mengingat sikap mertuanya. Sungguh semua tak seperti ekspektasinya. Ia mengira ayahnya Andik akan menentang  hubungan itu. Namun sebaliknya, justru ia mendapat dukungan yang kuat dari orang terdekat. 


''Kamu ngapain saja, lama banget sih?'' Lidya yang baru masuk pun protes melihat air mendidih yang ada di atas kompor. 


Ia langsung menuangkan ke dalam cangkir yang sudah diracik dengan kopi dan gula dengan ukuran yang berbeda. 


Jika ayah menyukai kopi yang manis. Andik sebaliknya, ia lebih suka kopi yang pahit tanpa gula, sedangkan Didin suka dengan standar, kopinya terasa gulanya pun sama.


''Tapi ayahnya pak Andik baik, ya? Aku gak nyangka dia langsung menyetujui hubungan ini tanpa embel-embel.'' Ajeng mengaduk-aduk kopinya. 


''Iya, aku juga gak nyangka sih. Padahal, tadi aku sudah cemas, tapi akhirnya hilang. Semoga semua di beri kelancaran.'' Lidya memeluk Ajeng. Disaat seperti ini mereka juga ingat dengan sang sahabat yang tak bisa hadir. 


Pucuk di tiba ulam pun tiba. Suara yang sangat familiar itu terdengar nyaring hingga ke dapur. 


Ajeng dan Lidya saling tatap lalu tersenyum.

__ADS_1


''Ainaya,'' ucapnya serempak. 


__ADS_2