
''Kamu ngapain di sini, Nduk. Ke kamar dan temani suamimu, kasihan dia sendirian,'' usir bu De pada Ainaya yang dari tadi menemaninya di belakang.
Ainaya menggeleng pelan. Tangannya terus meremas ujung baju, seolah menunjukkan ketakutan. Wajahnya tampak merona, bahkan sekalipun ia tak ke kamar setelah kejadian tadi siang.
''Sebenarnya bagaimana perasaanmu sama pak Haris?'' tanya bu De menyelidik.
Ainaya menundukkan kepala, enggan untuk menguak isi hatinya pada orang lain. Terlebih saat ini ia masih bimbang antara maju dan mundur.
''Kalau gadis diam itu tandanya mau, artinya kamu masih mau 'kan dengan pak Haris? Sayang lo, dia itu tampan dan kaya raya, baik pula, nanti kalau disambar gadis sini gimana?'' goda bu De menakut-nakuti.
''Biarin,'' jawab Ainaya cuek. Ia kembali duduk di samping bu De.
''Yakin?'' tanya bu De memastikan.
Tidak ada jawaban, Ainaya terus memutar otaknya. Memikirkan cara bagaimana ia masuk dan bisa tidur di kamarnya tanpa ketahuan oleh Haris.
Kira-kira masa Haris sudah tidur apa belum ya?
Menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Ingin sekali masuk dan beristirahat, namun takut Haris masih berjaga.
Tin Tin
Suara klakson mobil mengejutkan Ainaya. Ia membuka tirai dan melihat siapa yang datang. Sebuah mobil mewah berhenti di samping mobil Haris. Tak lama kemudian suaminya itu keluar dari kamarnya dan tersenyum.
''Bu De, saya izin buka pintu ya, Andik datang,'' ucap Haris menunjuk ke arah pintu depan.
Belum sempat menjawab, suara gemuruh dari arah luar membuat Ainaya mengernyit. Ya, suara yang sangat familiar di telinganya itu terdengar mengomel seperti orang kesal.
Haris bergegas membuka pintu. Diikuti Ainaya dari belakang, karena wanita itu sangat penasaran siapa yang datang hampir tengah malam bersama Andik.
''Kamu diam atau aku lamar malam ini juga,'' ancam suara berat dari samping mobil membuat wanita lain membuka mulutnya.
Ainaya terkekeh. Tak salah lagi, ternyata itu suara Ajeng dan juga Lidya, namun sepertinya Ajeng yang marah-marah pada lelaki yang berdiri di depannya, Andik.
''Awas saja ya, aku akan laporkan kamu pada bu De,'' ancam Ajeng berani.
''Ada apa ini rame-rame? Sudah malam, masuk-masuk,'' suruh bu De menyambut kedatangan sang keponakan dan juga tamu lainnya. Mereka semua masuk ke dalam setelah mengambil semua barang-barang nya di mobil. Karena, selain mengantarkan uang, Andik juga ditugaskan untuk membeli beberapa keperluan yang mungkin dibutuhkan.
__ADS_1
Ajeng berhamburan memeluk Ainaya, lalu beralih merengkuh bu De dan mengadu. Begitu juga dengan Lidya.
''Dia menculik ku, Bu De.'' Menunjuk Andik yang berjalan ke arahnya membuat semua orang tertawa, kecuali Haris yang sibuk memandangi istrinya.
Bu De ikut tertawa selepas melihat sikap lucu Ajeng yang seperti anak kecil, sedangkan Andik hanya menahan tawa.
''Menculik bagaimana? La wong kamu baik-baik saja gini lho.'' Memeriksa sekujur tubuh Ajeng yang tidak cacat sedikitpun. Lalu, tersenyum pada Andik yang tampak membungkuk ramah.
''Kenalkan bu De, ini asisten saya, namanya Andik,'' ucap Haris memegang pundak pria itu.
Andik mengulurkan tangannya dan menyebut namanya dengan sopan.
''Tampan sekali, wah benar-benar kalian ini seperti dewa amor,'' canda bu De mempersilahkan mereka duduk.
Awalnya Ainaya ingin ikut ke belakang membuat minum, namun dilarang oleh bu De dan dipaksa duduk hingga terpaksa ia tetap berada di samping sang suami.
''Ini uangnya, Tuan.'' Mengambil uang dari dalam tas lalu menghitungnya, sementara ketiga wanita itu hanya menjadi penonton termasuk Didin yang baru keluar.
Andik tersenyum lirih ke arah Didin yang berdiri disamping kursi. Beralih menatap Ajeng.
Masih seperti acara tadi siang, Haris kembali berbagi uang, kali ini Didin dan bu De yang mendapat bagian.
''Ih, senangnya dapat uang, bagi dong.'' Ajeng menengadahkan tangannya di depan Didin.
Bukan diberi, namun lelaki itu malah menoyor kening sang adik. Karena, ia pun belum menerima uang itu sepenuhnya seperti bu De. Tak ingin dianggap matre, memalukan.
''Bagaimana ceritanya kamu bisa ikut dengan dia?'' Ainaya menyungutkan kepalanya ke arah Andik yang sibuk berbicara dengan Haris.
''Dia datang ke kantor dan izin sama pak Anton untuk mengajakku keluar. Karena takut, aku ajak Lidya juga. Eh, ternyata pulang kampung,'' ucap Ajeng malas.
''Sejak kapan kamu kenal dia?'' Berbagai pertanyaan mulai muncul di benak Ainaya dan Lidya selaku sahabat. Mereka penasaran dengan Ajeng saat berinteraksi dengan sekretaris angkuh itu.
''Jangan tanya itu, aku juga gak sadar kapan kenal dengan dia.''
Bu De datang membawa beberapa minuman hangat dan meletakkannya di meja. Menyuruh mereka minum.
''Tadi berangkat jam berapa? Kok jam segini sudah tiba.''
__ADS_1
Ajeng memilih diam dan memainkan layar ponselnya, sedangkan Andik mencoba mengingat-ingat kapan dia berangkat. ''Kalau gak salah jam tiga, Bu De, tadi sempat kena macet sebentar.''
Bu De mengangguk mengerti. Ia kembali ke belakang membiarkan mereka ngobrol.
''Jeng, anterin aku ke kamar mandi,'' bisik Lidya menahan rasa takut. Entahlah, melihat bangunan rumah kuno itu seperti ada bau-bau mistis hingga membuat bulu halusnya merinding.
Ajeng berdiri dari duduknya lalu mengantar Lidya ke belakang. Meski hanya ada satu kamar mandi, namun sudah memadai dan lumayan mewah.
Baru saja membuka pintu dapur, Lidya menjerit saat ada sebuah tangan menariknya dari depan. Ia tertarik maju dan akhirnya terjatuh.
Ajeng dan bu De ikut terkejut dan menyalakan lampu. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Didin terlentang, sedangkan ada Lidya yang telungkup di atasnya.
''Astagfirullah Didin,'' seru bu De membangunkan Lidya yang masih nampak tercengang dan memegang bibirnya.
Ainaya dan Haris serta Andik ikut ke belakang mencari sumber suara. Takut terjadi sesuatu yang serius. Apalagi tadi Lidya menjerit cukup kencang.
Didin terbangun, mengusap kepalanya yang terasa nyeri akibat terbentur lantai. Lelaki itu duduk dan menggigit bibir bawah. Masih mengatur detak jantungnya yang berirama lebih cepat saat tadi tak sengaja berciuman dengan gadis yang saat ini berdiri di depannya.
Terasa sangat aneh namun membuatnya ketagihan, bahkan jiwa kelelakiannya terasa ingin hidup.
Apakah ini yang dinamakan cinta? Lalu perasaan apa yang selama ini membuatnya tergila-gila dengan sosok Ainaya?
Ah, Didin semakin pusing memikirkan sesuatu yang misteri itu. Ia berdiri dan meminta maaf pada Lidya.
''Gak papa, Mas. Lagipula aku juga salah karena gak hati-hati,'' jawab Lidya.
Ehemmm
Deheman Ajeng membuyarkan lamunan Lidya yang hampir terbang ke angkasa. Ia jadi salah tingkah saat semua orang menatapnya dengan tatapan curiga.
''Ya sudah, aku ke kamar mandi dulu.''
Lidya segera ke kamar mandi untuk menghindari rasa malu yang berlebihan.
Kayaknya ada yang dapat jodoh di sini.
Andik melirik Ajeng sekilas lalu kembali ke depan.
__ADS_1