
''Lama banget sih, ke mana dia?'' Berulang kali Haris melihat jam yang melingkar di tangannya.
Matanya celingukan ke sana ke mari mencari Andik yang ditunggu sejak sepuluh menit lalu. Menyeruput kopinya lagi untuk melenyapkan kejenuhan.
''Selamat pagi, Tuan,'' sapa Andik dari belakang.
''Duduk!'' suruh Haris tanpa menoleh.
Andik duduk di depan Haris dengan penuh pertanyaan.
''Apa ada pekerjaan pribadi sampai Tuan mengajak saya bicara di sini?'' tanya Andik pertama kali.
Haris mengangguk. Setiap kali ada masalah pribadi mereka memang sengaja bertemu di tempat itu. Sebuah rumah yang jauh dari pemukiman itu menjadi tempat saat Haris sedang kacau, dan mungkin itulah yang dirasakan saat ini.
''Kamu tahu Adam, kan? Klien baru kita,'' tanya Haris memastikan.
Andik mengangguk tanpa suara.
Pria muda yang beberapa waktu lalu bergabung di perusahan itu tak mungkin ia lupakan.
''Ternyata dia sudah kenal dengan Ainaya. Menurut kamu mereka berkenalan di mana? Bukankah dia baru ke sini beberapa hari? Sedangkan Ainaya tinggal di rumah sudah satu bulan lebih,'' tanya Haris bertubi-tubi.
Andik teringat, antara Bali dan Jakarta. Ya, setelah lima menit memutar otak kini ia ingat bahwa Ainaya pernah ke Bali untuk menjenguk Haris saat kecelakaan. Namun, dengan tega pria itu melarang atas perintah sang bos.
Aku harus katakan pada Tuan Haris.
''Maaf, Tuan. Mungkin mereka berkenalan saat nona Ainaya pergi ke Bali.''
''Bali?'' ulang Haris.
Kapan? Dengan siapa? Untuk apa?Mungkin pertanyaan itulah yang mencakup keterkejutannya.
Andik mengangguk lagi. Mungkin untuk sekarang sudah tidak ada yang ditutupi lagi. Toh semuanya sudah berlalu dan tidak mungkin Haris marah.
''Waktu Anda kecelakaan di Bali saya sengaja bilang pada Nona Ainaya lebih dulu. Dia antusias ikut pergi. Tapi setelah Anda melarangnya, saya pun tidak jadi mengajak dia. Akhirnya saya pergi sendiri. Setelah beberapa jam kemudian, Nona Ainaya bilang sudah berada di Bali. Karena hanya menjalankan tugas, saya tetap melarangnya untuk menjenguk, Anda. Tapi saya mengatakan nama rumah sakit tempat Anda dirawat. Saya juga sempat bertabrakan dengan Adam di rumah sakit. Mungkin saja diam-diam Nona Ainaya menjenguk Anda dan mereka bertemu di rumah sakit,'' terang Andik jujur.
Jadi dia nekat ke Bali hanya untuk melihat keadaanku. Lalu dengan siapa dia pergi ke Bali?
''Apa kamu tahu siapa yang mengantarnya ke Bali?'' tanya Haris dengan suara lemah.
''Kata Nona Aniaya temannya. Saya juga tidak tahu pasti,'' jawab Andik.
__ADS_1
Itu artinya ia melahirkan setelah dari Bali. Dan tidak sengaja ngidam nya yang sempat tertunda terkabul.
Teringat jelas, bahkan waktu itu Haris masih ada di rumah sakit saat Ainaya memberi kabar sudah melahirkan.
''Benar sekali, Tuan.''
Haris memijat pangkal hidungnya. Kini ia baru menyadari bahwa banyak yang tidak diketahui tentang Ainaya, termasuk bagaimana perjuangan wanita itu pergi ke Bali dalam keadaan hamil besar.
''Baiklah, kita ke kantor sekarang.'' Haris berdiri dari duduknya. Merapikan jasnya sebelum keluar dari tempat itu.
Hampir saja membuka pintu mobil, dering ponsel menghentikannya. Ternyata Jihan yang menelpon.
Suara tangis Bilal menyapa membuat Haris khawatir.
''Bilal kenapa, Ji?'' tanya Haris antusias.
''Bilal gak mau minum susu, Mas. Aku gak tahu harus ngapain, nomor Ainaya gak aktif.'' Jihan terus menenangkan bayinya. Namun nihil, usahanya sia-sia. Bilal tetap tenggelam dalam tangis.
''Ya sudah, aku pulang sekarang.''
Haris melajukan mobilnya ke rumah. Untuk saat ini Bilal lah yang lebih penting dari apapun.
''Sejak kapan dia nangis?'' Haris mengambil alih putranya. Mencoba memberikan minum dengan dot.
''Sudah dari tadi. Aku gak tahu harus gimana?'' Jihan mengikuti langkah Haris menuju kamar.
Tak seperti tadi, tangisan Bilal sedikit reda. Hanya tinggal isakan kecil yang tersisa.
''Anak papa kan pintar, gak boleh nangis.'' Haris membawanya ke atas ranjang dan memeluknya dari samping. Memberikan kehangatan.
Ini yang sering Ainaya lakukan saat Bilal menangis. Mulai sekarang dan seterusnya akan menjadi tugasku.
Jihan tersenyum, heran melihat Haris yang dengan mudahnya menaklukan sang buah hati.
''Kayaknya dia nyaman bersama kamu daripada aku deh, Mas?'' Jihan menghampiri Haris.
Benar saja, beberapa menit kemudian Bilal terlelap di pelukan Haris.
Itu karena aku papa kandungnya, Ji. Dia adalah anak kandungku dan Ainaya.
Haris hanya mampu mengucap dalam hati. Meskipun ia mulai goyah, akan mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya.
__ADS_1
''Mulai hari ini aku akan bekerja dari rumah. Nanti kalau dia sudah nyaman bersama kamu, aku akan kembali ke kantor,'' ujar Haris menjelaskan. Ia tak tega jika harus meninggalkan Bilal di rumah, sementara Jihan belum lihai merawatnya.
''Tadi aku menghubungi Ainaya juga. Tapi hp ya gak aktif,'' kata Jihan sembari mengusap kening Bilal.
Haris terdiam belum bisa memutuskan apa yang akan dilakukannya lagi setelah kejadian ini. Di satu sisi ia ingin mempertahankan pernikahannya. Namun disisi lain, Bilal juga membutuhkan ibu kandungnya.
''Mumpung kamu di rumah, aku pergi ya, Mas?'' Jihan bergelayut manja.
Menjadi wanita yang bergelimang harta. Ia memang tak betah di rumah.
''Ke mana?'' tanya Haris ketus.
''Biasa, shopping sama temen,'' jawabnya merengek.
''Jangan terlalu boros, Ji. Jangan membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan. Lebih baik uangnya ditabung untuk kebutuhan lain yang lebih penting,'' tutur Haris serius.
''Iya iya,'' jawab Jihan berat lalu pergi.
Tak lama Jihan pergi, ponsel Haris berdering membuat sang pemilik tersenyum lebar.
Haris segera menggeser lencana hijau tanda menerima.
''Halo, Nay, ada apa?'' tanya Haris pura-pura datar.
''Maaf saya mengganggu, tadi bu Jihan nelpon, ada apa ya? Kok sekarang hp nya gak bisa dihubungi?''
Haris mengalihkan ke video call.
Nampak wajah cantik Ainaya dengan jelas. Sepertinya wanita itu habis mandi, terbukti rambutnya masih basah.
''Tadi Bilal menangis, Jihan panik jadi menghubungi kamu, tapi sekarang dia sudah tidur kok.'' Haris menggeser layar ponselnya dan menghadapkan ke arah sang putra.
Ainaya hanya menjawab dengan huruf o. Sedikitpun tak ada rasa khawatir yang terlihat, dan itu sukses membuat Haris geram.
''Kenapa hanya o? Kamu gak tanya kenapa Bilal menangis?'' pekik Haris.
Ainaya menggeleng. ''Bayi menangis itu biasa, Tuan. Mungkin dia haus atau ngantuk, tapi kalau orang dewasa nangis pasti dia banyak beban yang dipikul, jadi kamu juga jangan cemas. Kalau nanti Bilal menangis lagi kasih saja susu, pasti dia diam,'' saran Ainaya.
Tanpa pamit, Ainaya memutus sambungannya. Air matanya tumpah seketika mendegar itu, tak bisa membayangkan saat Bilal mencarinya.
Mama minta maaf.
__ADS_1